<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207</id><updated>2012-02-09T06:17:49.203-08:00</updated><category term='Pribadi'/><category term='GIS'/><category term='Artikel'/><category term='teknologi pembelajaran'/><category term='kiblat'/><category term='Google Earth'/><category term='Foto'/><category term='Berita'/><category term='Keluarga'/><title type='text'>Blognya Wahono</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>43</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-4550252363762839514</id><published>2010-12-13T23:54:00.000-08:00</published><updated>2010-12-14T00:29:31.610-08:00</updated><title type='text'>Memulai Kembali Kebiasaan Yang Terputus</title><content type='html'>Istiqomah. Kata yang mudah diucap tetapi ternyata tidak mudah melakukan. Tentu karena Tuhan tahu bahwa hal ini bisa menjadi hal berat bagi manusia, maka Dia lebih menyukai perbuatan baik yang dilakukan dengan istiqomah - MESKIPUN ITU HANYALAH HAL YANG KECIL SAJA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, blog ini memperlihatkan betapa saya juga kesulitan menjaga istiqomah tersebut. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,0,0)"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Memang, selama kosong menulis di blog ini saya tidak berhenti menulis sama sekali - tetapi saya meletakkannya di berbagai tempat yang lain. Namun tetap saja itu berarti saya tidak berhasil baik menjaga ke-istiqomah-an menuang pikiran di blog ini. Saya bersyukur, bahwa akhirnya saya menulis lagi. Sebuah tulisan tentang penilaian saya sendiri terhadap keterputusan melakukan hal-hal positif (yaitu menulis dan berbagi tentang pikiran-pikiranku terhadap kehidupanku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana rasanya tidak istiqomah? Mungkin tidak banyak yang mempertanyakan ini kepada sang pelaku. Pengalaman tidak istiqomah ternyata memperlihatkan kepada diri sendiri tentang ketidak-setiaan. Ya, sikap istiqomah pada dasarnya memang bermakna kesetiaan pada komitmen. Jika telah berkomitmen untuk memulai melakukan suatu hal yang baik, maka seyogyanya kita setia terhadap komitmen tersebut.  Memutus komitmen tersebut ibarat orang yang selingkuh, orang yang tidak setia terhadap komitmennya sendiri. Barangkali itulah salah satu pelajaran yang hendak Allah sampaikan kepada manusia dengan menegaskan sikap-Nya yang lebih mencintai perbuatan baik yang dilakukan dengan istiqomah, meski hanya hal-hal yang kecil. Hanya Dia yang Maha Tahu. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-4550252363762839514?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/4550252363762839514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2010/12/memulai-kembali-kebiasaan-yang-terputus.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4550252363762839514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4550252363762839514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2010/12/memulai-kembali-kebiasaan-yang-terputus.html' title='Memulai Kembali Kebiasaan Yang Terputus'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-7507581806754902574</id><published>2010-01-23T13:44:00.000-08:00</published><updated>2010-02-12T15:07:31.761-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Dunia Bidang Datar</title><content type='html'>Kebanyakan kita sepakat bahwa kita ini hidup di dunia 3 dimensi. Yaitu dunia ruang yang secara geometrik memiliki 3 sumbu: panjang, lebar, dan tinggi. Pernahkah kita membayangkan dunia dengan dimensi yang tidak 3? Mari kita coba "merekonstruksi" secara imajinatif suatu dunia yang tidak 3 dimensi, tetapi dua dimensi.&lt;br /&gt;Dunia dua dimensi atau dunia bidang datar hanya memiliki dua sumbu saja, yiatu panjang dan lebar saja. Tidak ada tinggi. Dalam dunia yang seperti itu, kita misalkan terdapat obyek-obyek yang secara fungsional selaras dengan dunia 3 dimensi kita. Maksudnya: dalam dunia tersebut ada makhluk hidupnya yang bermasyarakat, ada tanaman, ada rumah, dan seterusnya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,0,0)"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wujud dan Persepsi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dunianya yang berupa bidang datar, maka segala sesuatu yang ada "di dalamnya" juga mengikuti sifat fisik tempat keberadaannya tersebut. Artinya, yang bisa eksis dalam dunia bidang datar hanyalah obyek-obyek yang tidak memiliki tinggi, mungkin sebuah poligon, garis, atau titik. Maka kita dapat mengkonstruksi makhluk imajiner di dunia bidang datar misalnya berupa poligon-poligon. Strata sosial terbentuk dengan pengelompokan makhluk-makhluk tersebut berdasarkan jumlah sudut yang dimilikinya. Dalam hal seperti ini, makhluk segi tiga berada pada strata sosial paling bawah, dan lingkaran berada pada strata paling atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah setiap makhluk hidup di dunia bidang datar tersebut juga dilengkapi dengan indera untuk mengenali lingkungannya. Meskipun terdapat banyak ragam wujud makhluk dua dimensi tersebut, namun persepsi mereka terhadap satu dengan lainnya relatif sama. Bagi seorang poligon yang tinggal di dunia bidang datar, obyek sekeliling yang bisa dilihatnya semuanya berbentuk garis. Dalam persepsi seorang lingkaran, seorang segitiga terlihat sebagai sebuah garis. Demikian pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja seseorang dapat mendekati orang lainnya lalu merabanya. Maka ia akan dapat meraba sudut-sudut yang dimiliki oleh orang yang dirabanya. Walaupun demikian penglihatannya tetap memberi persepsi bahwa yang dilihatnya hanyalah sebuah garis. Diperlukan kemampuan abstraksi matematis tingkkat tinggi bagi mereka untuk merekonstruksi "wujud yang sesungguhnya" dari obyek yang dirabanya tadi. (Itulah sebabnya lingkaran berada pada strata yang lebih tinggi karena wujudnya yang bersudut tak terbatas membuatnya lebih peka merasakan sudut yang dimiliki orang lain. He he he he).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perbandingan interdimensi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa makna membagun dunia imajiner dua dimensi tersebut bagi kita? Ilustrasi sebelumnya mendeskripsikan betapa sulitnya seorang poligon mengenali wujud temannya yang berbentuk segi tiga dan sebaliknya. Pada gambar ilustrasi berikut, di mata A: B hanyalah terlihat sebagai sebuah garis, dan A akan sangat kesulitan melihat C karena terhalang oleh B.&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; DISPLAY: block; HEIGHT: 99px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437482738627711026" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/S3XRveQ5EDI/AAAAAAAAAK8/sY5XCLY1_DI/s320/datar.jpg" /&gt; Penglihatan mereka begitu terbatasnya. Jangankan hendak melihat obyek di balik obyek, bahkan melihat obyek yang sebenarnya mereka benar-benar tidak akan mampu. Paling-paling mereka hanya akan mampu membangun visual imajiner. Tapi cobalah pandang bentuk-bentuk pada gambar di atas. Begitu mudah bagi kita (makhluk 3 dimensi) untuk mengetahui wujud dari obyek bidang datar tersebut. Kita bisa mengidentifikasi bahwa A adalah sebuah segi empat, B adalah lingkaran dan C adalah segi lima. Kita bisa melihat keadaan mereka sekaligus, karena di antara mereka tidaklah saling menghalangi di mata kita. Bahkan kita bisa mengetahui apa yang ada di dalam poligon-poligon tersebut, sesuatu yang mustahil bagi mereka yang berada dalam dunia dimensi yang sama dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lagi, seandainya ukuran obyek-obyek dua dimensi itu jauh melebihi ukuran tubuh kita, masih mudah bagi kita untuk membangun persepsi visual sebagaimana jika ukuran mereka kecil. Sebaliknya, mereka tidak akan pernah mampu melihat kita: seberapapun dekatnya kita dengan mereka. Seandainya kita menempelkan jari kita ke obyek dua dimensi, dan (sekali lagi, seandainya) mereka adalah makhluk hidup dua dimensi yang memiliki indra persepsi visual tetap saja mereka tidak akan mampu melihatnya. Paling banter mereka hanya bisa melihat tanda-tanda keberadaan kita dari bayangan yang terefleksi ke dunia bidang datar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah hubungan perspektif antar dimensi. Marilah sekarang kita melakukan ekstrapolasi perbandingan antar dimensi tersebut pada dunia tiga dimensi kita dengan dimensi yang lebih tinggi. Dimensi yang lebih tinggi dari 3? Lelucon apakah itu? Sama sekali bukan sebuah &lt;em&gt;joke. &lt;/em&gt;Einstein telah memulai dengan meyatakan bahwa dunia ini 4 dimensi dengan menegaskan bahwa ada 3 sumbu ruang dan 1 sumbu waktu. Bagi Einstein keberadaan waktu hanyalah konsekuensi logis dari keberadaan ruang. Lalu &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kaluza%E2%80%93Klein_theory"&gt;Kaluza dan Klein&lt;/a&gt; (1921) mengembangkan lebih lanjut bahwa dunia ini adalah suatu konstruksi 5 dimensi, ia menambahkan satu sumbu ruang pada model 4 dimensi Einstein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini para fisikawan bahkan memiliki spekulasi yang lebih fantastis, dunia berdimensi 11. Mereka mengklain bahwa dengan dimensi 11 semua teori fisika dapat dipadukan menghasilkan teori segalanya. Dan salah satu tokoh penting dibalik hipotesis tersebut adalah &lt;a href="http://randall.physics.harvard.edu/RandallCV/Discover_July06.pdf"&gt;Randall&lt;/a&gt;. Bagi mereka, keberadaan blackhole merupakan pendukung penting teori extra dimensions (lihat &lt;a href="http://www.hcs.harvard.edu/~hsr/spring2006/mu.pdf"&gt;Quantum Black Hole, Unseen Dimension&lt;/a&gt; oleh Mu, D., 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Implikasi buat kita.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal penting dari perkembangan pengetahuan tentang fisika ini bagi kita. Jika dunia kita ini adalah dunia 4 dimensi (yaitu ruang 3 sumbu dan waktu, karena hanya itulah yang mampu kita persepsi), maka masih terdapat 7 sumbu dimensi di atasnya. Tidak mungkinkah langit yang dimaksud dalam al Quran itu sebenarnya adalah extra dimensions? Ingatkah kita bahwa Nabi Muhammad saw. diperjalankan dalam Mi'roj ke langit ke 7. Hanya Allah yang Maha Tahu.&lt;br /&gt;Yang jelas, banyak hal di al Qur'an yang bisa dijelaskan dengan baik dengan menerapkan pengertian bahwa langit yang dimaksud adalah &lt;em&gt;extra dimension&lt;/em&gt;. Salah satunya sifat Maha Melihat. Ilustrasi di atas menjelaskan bagaimana yang berada di dimensi lebih tinggi bisa melihat segala sesuatu di dimensi lebih rendah yang tidak akan dapat dilakukan oleh mereka yang tinggal di dimensi rendah tersebut. Bahkan seandainya jaraknya begitu dekat, seperti Sesuatu yang lebih dekat dengan urat nadi leher kita. Sungguh hanya Dia yang Maha Tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Masih banyak hal di alQur'an yang bisa dijelaskan dengan pendekatan ini. Semoga Allah memberi kekuatan dan pengetahuan agar saya bisa menulisnya. Amien.)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-7507581806754902574?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/7507581806754902574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2010/01/dunia-bidang-datar.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7507581806754902574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7507581806754902574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2010/01/dunia-bidang-datar.html' title='Dunia Bidang Datar'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/S3XRveQ5EDI/AAAAAAAAAK8/sY5XCLY1_DI/s72-c/datar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-6978623456251092402</id><published>2010-01-19T20:18:00.000-08:00</published><updated>2010-01-19T20:20:01.583-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Idolaku Mak Lampir!</title><content type='html'>Hihihihihi..... tawa yang mengerikan jika terdengar di tengah malam nan senyap. Itu tawa ciri khas Mak Lampir, tokoh antagonis dalam serial yang terkenal di TV beberapa waktu yang lalu. Rasanya tokoh inilah yang membikin serial tersebut terkenal, karena sebagian orang bahkan sudah lupa siapa tokoh protagonisnya. Peran Mak Lampir begitu mengesankan banyak orang sehingga melekat erat dalam ingatan. Begitu juga dengan saya, setelah saya coba mengingat kembali tokoh-tokoh dalam serial itu rasanya agak kesulitan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,0,0)"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tapi bukan karena kesan peran yang kuat itu saya mengidolakannya.&lt;br /&gt;Mak Lampir jadi idola? Whuihhh, apa saya telah kehilangan tokoh patron yang lebih baik karena jaman sekarang banyak pemimpin negeri ini yang tidak bisa dijadikan panutan. Begitulah beberapa teman mencibir saya ketika saya sampaikan bahwa salah satu idola saya adalah Mak Lampir. Aneh-aneh saja... apa anda mengikuti nasehat Ronggowarsito sepenggal saja: "... yen ora edan ora keduman...". Begitu kata yang lain, menyangka saya berubah haluan sehingga harus mencari patron yang "gila" agar saya bisa "meniru kegilaannya sehingga mendapat bagian dunia ini". Naudzubillahi min dzalika.&lt;br /&gt;Tapi memang benar bahwa saya menjadikan Mak Lampir sebagai salah satu sumber inspirasi saya. (So what, gitu loh). Saya begitu menghayati bahwa tidak ada sesuatupun yang diciptakan Allah di alam ini dalam kesia-siaan. Bukankah sejahat-jahat makhluk ia tetap ciptaan Allah? Jadi, pasti tidaklah ia diciptakan dalam kesia-siaan. Lalu, apakah kemanfaatan dari kedzaliman mereka itu? Jawabannya, tidakkah kita bisa belajar dari mereka bagaimana kerusakan dapat terjadi karena nafsu angkara murka mereka? Tidak bisa jugakah kita belajar dari akibat perbuatan mereka itu untuk lebih mampu mengendalikan diri? Bahkan, tidak bisakah kita belajar hal-hal "baik" dari mereka?&lt;br /&gt;Tapi..., ada nggak sih yang bisa kita pelajari dari seorang tokoh seperti Mak Lampir itu? Janganlah kita menutup mata kita dengan kacamata kuda yang hanya menilai sesuatu dari sudut pandang yang sempit. Lihatlah bagaimana "istiqomahnya" Mak Lampir. (Mak Lampir istiqomah??? hiks.) Cermati jalan cerita Mak Lampir: ia begitu setia dengan tujuannya, melampiaskan nafsu untuk menguasai semuanya. Ia tidak pernah putus asa menghadapi segala rintangan yang menghadang tujuannya itu. Bukankah ia istiqomah? Perkara bahwa tujuannya itu duaratus persen salah, itu adalah halaman lain. Coba simak ini: Kalau berbuat jahat saja banyak hambatannya, kenapa berbuat baik kita tidak istiqomah? kenapa kita begitu mudah putus asa menjalankan ibadah? sedikit halangan saja sudah memberikan cukup alasan bagi kita untuk menunda atau membatalkan niat ibadah. Kenapa kita harus malu belajar dari Mak Lampir untuk beristiqomah padahal niat dan cara yang kita tempuh haqqul yakin adalah hal yang baik?&lt;br /&gt;Belajarlah dari sikap tawakalnya Mak Lampir. (Glodak... ada yang jatuh mendengar Mak Lampir bertawakal. he he he he). Lihatlah bagaimana yang dilakukannya untuk mencapai tujuannya. Ia mengkonsolidasikan sumberdaya (sekutu-sekutunya), bikin planning, action (menyerbu musuh-musuhnya), kalah lalu melarikan diri (evaluasi yang cermat, he he he he). Setelah kalah, ia cari sumberdaya baru lagi, susun strategi baru, bertindak lagi, hampir menang tapi kalah lagi, lari lagi. Begitulah jalan ceritanya terus menerus. Coba ingat-ingat apakah pernah Mak Lampir menangis menghadapi kekalahannya? Justru ia tertawa, hi hi hi hi. Ia tidak meratapi dengan jeritan tangis nan pilu setiap kekalahannya. Ia tertawa dan kemarahannya membuat semangat tempurnya semakin membara. Tidak bisakah kita belajar dari Mak Lampir untuk tidak meratap dan melolong kesedihan setiap kita dihadapkan pada kegagalan. Tidakkah juga kita bisa belajar dengan kegagalan itu untuk membakar lebih banyak minyak semangat dalam diri kita sehingga justru kita akan mampu berbuat yang lebih besar? Tidak bisakah kita tawakal untuk pantang mundur dan tidak bersedih hati menyesali upaya kita yang belum berhasil? Jika ada jawaban tidak, maka belajarlah dari Mak Lampir. Ia bisa menjadi idola yang baik untuk sikap pantang menyerah, tidak putus asa, dan menerima kenyataan dengan keriangan yang sama apakah itu keberhasilan atau kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-6978623456251092402?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/6978623456251092402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2010/01/idolaku-mak-lampir.html#comment-form' title='32 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/6978623456251092402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/6978623456251092402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2010/01/idolaku-mak-lampir.html' title='Idolaku Mak Lampir!'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>32</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-3773554630440155111</id><published>2009-11-12T16:14:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T16:40:26.377-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>Kota Bentor</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym8eIPSOI/AAAAAAAAAKk/WCHIQjd8k5I/s1600-h/stylist.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 277px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403377210747734242" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym8eIPSOI/AAAAAAAAAKk/WCHIQjd8k5I/s400/stylist.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;The stylist&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(204,0,0)"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym8ECxWPI/AAAAAAAAAKc/bq7Uxyth_AI/s1600-h/jupiZ.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 293px; DISPLAY: block; HEIGHT: 400px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403377203745478898" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym8ECxWPI/AAAAAAAAAKc/bq7Uxyth_AI/s400/jupiZ.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Motor baru juga jadi bentor, dang!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym7yLBxyI/AAAAAAAAAKU/YsugtyDhBQ8/s1600-h/revo.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 280px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403377198948271906" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym7yLBxyI/AAAAAAAAAKU/YsugtyDhBQ8/s400/revo.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Ini juga motor baru...&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym7kVGY-I/AAAAAAAAAKM/jav8ycDTD7Q/s1600-h/muat_banyak.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 282px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403377195232420834" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym7kVGY-I/AAAAAAAAAKM/jav8ycDTD7Q/s400/muat_banyak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;Muat banyak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym7fsA9dI/AAAAAAAAAKE/9JP4-df4ZT0/s1600-h/kota_bentor.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; DISPLAY: block; HEIGHT: 253px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403377193986356690" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym7fsA9dI/AAAAAAAAAKE/9JP4-df4ZT0/s400/kota_bentor.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Kota bentor, jalanan full-music. Hampir semua bentor dipasang audio dan muter musik sepanjang jalan. Ngga ada istilah jalanan sepi, kecuali saat adzan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-3773554630440155111?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/3773554630440155111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/11/kota-bentor.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/3773554630440155111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/3773554630440155111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/11/kota-bentor.html' title='Kota Bentor'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Svym8eIPSOI/AAAAAAAAAKk/WCHIQjd8k5I/s72-c/stylist.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-7962462926463983886</id><published>2009-10-23T01:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T01:34:18.579-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Sangkal Putung? Yes!</title><content type='html'>Beberapa hari yang lalu Allah memberikan bahan pelajaran yang sangat berharga bagiku. Karena hal yang sangat sepele, saya jatuh kemudian kaki terkilir. Rupanya ada persendian yang sedikit bergeser yang menimbulkan rasa sakit yang sangat. Mula-mula aku tidak menyadari hal tersebut. Kusangka keseleo otot biasa dan dengan sedikit gosokan minyak tawon plus urutan pelan akan segera sembuh. Tapi, ternyata tidak. Bahkan sakitnya makin menjadi. Akhirnya aku menyadari ada tonjolan yang tidak wajar sebagaimana kalau kaki bengkak karena keseleo. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khawatir ada tulang yang retak, akhirnya akupun pergi ke suatu laboratorium klinis untuk foto rontgen. Alhamdulillah, hasilnya tidak ada yang retak. Maka aku mengambil keputusan untuk menggunakan jasa sangkal putung. Sangkal putung adalah salah satu metode tradisional yang cukup masyhur di Jawa untuk membetulkan dan merawat orang yang mengalami patah tulang atau sendi lepas. Datanglah sang tukang sangkal putung yang memang sudah kukenal orangnya ke rumah. Setelah memeriksa sesaat kakiku yang sudah bengkak, ia memberikan beberapa penjelasan tentang kondisi kakiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena penggunaan istilah yang berbeda dengan bahasa yang saya pahami, saya harus menanyakan secara mendetail apa yang ia maksudkan. Maklumlah, ini pertama kalinya saya melihat seorang sangkal putung menjalankan aksinya. Dan, itu langsung terhadap diriku sendiri. Ternyata apa yang ia maksudkan itu sama dengan gambaran yang kuperoleh dari hasil rontgen. Akhirnya aku menyiapkan diri untuk mulai menjalani terapi. Aku sudah membayangkan itu akan sakit sekali. Ternyata, memang sakit sekali. Tapi aku sudah menyerahkan seluruh kepercayaanku padanya, karena aku sudah meniatkan usahaku menyembuhkan diri ini sebagai ibadah. Subhanallah! tidak beberapa lama rasa sakit itu mulai berkurang. Terutama setelah sang sangkal putung melakukan beberapa pijatan di bagian kakiku sebelah kiri yang tidak mengalami masalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara pijatan di sisi kaki yang tidak sakit sebenarnya membuat aku agak bertanya-tanya. Itu adalah sesuatu yang awalnya tidak aku pahami kemungkinan hubungannya. Setelah aku renungkan, aku sedikit memahami kemungkinannya. Sangat mungkin bagian yang ia pijat itu berhubungan dengan syaraf ke otak yang mengatur rasa sakit. Saya tidak tahu bagaimana meknisme kerjanya sehingga rangsangan berupa pijatan (yang terasa cukup sakit itu) di kaki kiri yang tidak apa-apa dapat mengurangi rasa sakit pada kaki kanan yang bermasalah. Tapi kesadaran baru muncul bahwa ternyata pusat rasa sakit itu bukan pada organ yang bermasalah, tapi di otaklah tempatnya. Ini mengoreksi pendapatku pada paragraf sebelumnya bahwa pusat rasa sakit itu terletak pada organ yang bermasalah. Sayang sekali tidak sempat kutanyakan ini pada sang sangkal putung karena hal ini baru terpikir setelah orangnya pulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena kecapekan menahan rasa sakit seharian dan rasa sakitnya itu sendiri sudah berkurang saya dengan cepat tidur. Menjelang subuh, saya terbangun dan ingin buang air. Saya coba untuk berjalan menuju kamar kecil. Subhanallah! saya bisa tertatih berjalan ke toilet. Padahal kemarinnya, untuk dudukpun harus meringis menahan sakit karena kaki yang bermasalah tidak bisa diajak ke posisi tegak. Dan sekarang, 2 hari setelah diterapi sangkal putung, keadaan kakiku semakin baik. Hari ini saya sudah pergi ke kantor, meski sebentar. Saya juga sudah bisa ikut sholat Jumat di masjid, meski harus bawa kursi plastik karena belum bisa duduk di bawah dan tahiyat. Alhamdulillah... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah anda sang sangkal putung tersebut? Ahhhh... ia belajar pengetahuan dan ketrampilan dari ayahnya. Ayahnya belajar dari ayahnya - kakek sang sangkal putung tersebut. Begitu katanya seterusnya. Jadi itu adalah ilmu turun temurun. Ia tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Bahkan ia menghindar ketika kutanya SMPnya dimana? (Kutanyakan ini karena jangan-jangan ia dulu satu sekolah dengan saya, bukan karena maksud yang lain). Jangankan belajar teori yang mendalam, bahkan ilmu sangkal putung itu ia pelajari hanya dengan melihat yang dilakukan ayahnya. "Kalau mau belajar, lihat saja le.." begitu ia mengutip nasihat ayahnya saat ia masih kecil sekali. Tapi, ilmu turun-temurunnya itu ternyata, dengan seijin Allah, efektif menyelesaikan masalah tulang kaki saya. Ahhhh... ternyata pengetahuan tradisional kita tidak kalah dengan ilmu orthopedic modern. Terutama dalam hal efektifitas dan biayanya. Saya bisa bayangkan bahwa biaya yang saya keluarkan akan jauh lebih besar kalau saya pergi ke dokter ahli tulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangkal putung? Yesss...! Ya Allah, terimalah amal saudaraku sang sangkal putung tersebut sebagai ibadah yang Engkau banggakan. Mudahkanlah jalan baginya untuk dapat menolong orang-orang lain yang Engkau uji tulang-tulang tubuh dan ototnya dengan masalah dan rasa sakit. Banyakkanlah rejekiMu kepadanya agar ia dapat menghidupi keluarganya dengan baik dan dapat menolong orang dengan ikhlas. Peliharalah hatinya agar ia hanya berniat menolong orang lain karena hendak mencari ridloMu. Amin. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-7962462926463983886?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/7962462926463983886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/10/sangkal-putung-yes.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7962462926463983886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7962462926463983886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/10/sangkal-putung-yes.html' title='Sangkal Putung? Yes!'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-8412222929264521391</id><published>2009-10-09T16:10:00.001-07:00</published><updated>2009-10-10T03:18:36.240-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Akal Sehat v.s. Kesombongan</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;"Bahkan bila ada nasehat yang masuk, dengan mencibir kita mempertanyakan - emangnya siapa loe? golongan apa loe? umur berapa loe? - Itulah pukulan-pukulan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hook &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jab &lt;/span&gt;sang nafsu dan kesombongan. Tidak penting bahwa pukulan itu tidak indah atau bahkan menabrak aturan main, yang penting sang akal sehat bisa terkapar KO.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari terpampang  ke hadapan kita banyak pelajaran.  Semua hal yang bisa kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan adalah bahan-bahan pelajaran hidup kita.  Akan tetapi ternyata sering sekali kita melakukan suatu kesalahan padahal sesungguhnya sebelumnya telah dipaparkan pelajaran tentang hal itu kepada kita.  Posting saya beberapa waktu lalu mengurai penyebab &lt;a href="http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/gelas-nan-tak-retak.html"&gt;mengapa kita tidak dapat menerima ilmu baru&lt;/a&gt;.  Membaca kembali posting itu saya teringat satu kisah besar yang dialami salah seorang yang paling dicintai Allah di bumi ini: Nabi Ibrahim a.s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, setelah kurang sukses mengajak kaumnya (trmasuk Tarikh atau Azar ayahnya sendiri) untuk beriman kepada Allah secara persuasif akhirnya Ibrahim a.s. memilih pendekatan yang agak berbeda. Ia menghancurkan berhala sesembahan kaum pagan saat itu dan menyisakan satu yang terbesar dan mengalungkan alat penghancurnya kepada berhala yang tersisa tersebut.  Tentu saja orang-orang menjadi heboh sehingga akhirnya ditangkaplah Ibrahim a.s. untuk dihadapkan kepada Namrudz - sang raja nan kejam. Lalu diinterogasilah Ibrahim a.s. oleh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namrudz.  Kira-kira dalam gaya saat ini, sebagai berikut:&lt;br /&gt;Namrudz:      "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?"&lt;br /&gt;Ibrahim a.s.: "Mengapa engkau tidak tanyakan pada sesembahanmu yang masih utuh itu? Bukankah ia yang membawa kapaknya? Bukankan ia di sini terus menerus? Pastilah ia menyaksikan siapa yang menghancurkan patung-patung yang lain."&lt;br /&gt;Namrudz:     "Hai Ibrahim, tololkah engkau? Bagaimana mungkin patung itu bisa menjawab pertanyaanku!"&lt;br /&gt;Ibrahim a.s.: "Hai Namrudz, kalau engkau tahu tuhanmu itu bahkan tidak mampu menjawab pertanyaanmu, lalu mengapa engkau masih begitu bodoh untuk terus menyembahnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namrudz dan kaumnya terhenyak mendengar argumentasi Ibrahim a.s.   Akal sehatnya tidak dapat menolak argumentasi yang sungguh-sungguh kuat seperti itu.  Akan tetapi kesombongannya kemudian membuat hati mereka mengeras dan berkepala batu.  "Jika aku benarkan si Ibrahim itu, bagaimana nanti kedudukanku di hadapan rakyatku?  Tidakkah mereka akan melihat Ibrahim lebih baik dariku?  Tidakkah itu akan merendahkan martabatku? Jangan-jangan setelah aku akan kehilangan kekuasaanku..." Demikianlah kira-kira pergulatan batin di hati Namrudz.  Akhirnya nafsu dan kesombongannya memukul KO akal sehatnya.  Meskipun akal sehatnya tidak dapat menolak kebenaran argumentasi Ibrahim a.s., namun karena nafsu dan kesombongannya hukuman bakar dijatuhkan kepada Ibrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Ibrahim a.s. tersebut menggambarkan dengan baik pertarungan antara akal sehat dengan nafsu dan kesombongan.  Sekaligus kisah itu memperingatkan kepada kita bahwa mungkin saja nafsu dan kesombongan mengalahkan akal sehat.  Dalam kehidupan modern kita sehari-hari pertarungan tersebut juga dapat kita temukan di mana-mana.  Ia dapat berupa berbagai konflik yang ada di sekitar kita.  Akan tetapi, sesungguhnya di dalam diri kita setiap hari terjadi pertempuran yang seru antara dua kubu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah bertanya kepada para perokok.  Adakah di antara mereka yang tidak mengetahui bahaya dan kerugian merokok terhadap diri mereka?  Saya sangsi pada jaman seperti ini akan ada yang bisa menemukan orang tersebut.  Namun, berhentikan mereka merokok? Meskipun akal sehat mereka mengetahui bahaya-bahaya dan kerugian merokok?  Justru banyak orang tidak berhenti!!  Tanyalah pada sesiapa saja, adakah yang tidak tahu bahwa berbohong itu, sekecil apapun, akhirnya akan menyulitkan dan merugikan diri sendiri? Saya yakin tidak ada yang tidak tahu.  Tapi, berapa orang yang kemudian bersungguh-sungguh berusaha berhenti berbohong dalam hidupnya?  Terus terang saya sangat mengkhawatirkan diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh-contoh itu hanyalah sekelumit yang mudah ditemukan dan dikemukakan.  Akan tetapi, sesungguhnya pada setiap hal yang akan kita lakukan dan atau kita putuskan selalu terjadi pertempuran itu.  Tidak henti-hentinya nafsu dan kesombongan melancarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jab &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hook &lt;/span&gt;yang mematikan pada akal sehat.  Yang akhirnya membuat akal sehat terkapar di atas ring hati kita.  Meskipun telah disediakan banyak pelajaran hidup kepada sang hati dalam diri kita, tetap saja tidak mudah bagi akal sehat untuk memenangkan pertarungan itu.  Bahkan bila ada nasehat yang masuk, dengan mencibir kita mempertanyakan "emangnya siapa loe? golongan apa loe? umur berapa loe?".  Itulah pukulan-pukulan hook dan jab sang nafsu dan kesombongan.  Tidak penting bahwa pukulan itu tidak indah atau bahkan menabrak aturan main, yang penting sang akal sehat bisa terkapar KO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Naudzubillah min dzalik.  Ya Allah, tunjukkanlah yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil. Dan berilah kekuatan kepadaku agar dapat memenangkan di dalam diriku yang haq itu atas kebathilan.)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-8412222929264521391?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/8412222929264521391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/10/akal-sehat-vs-kesombongan.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/8412222929264521391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/8412222929264521391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/10/akal-sehat-vs-kesombongan.html' title='Akal Sehat v.s. Kesombongan'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-8642190668186498437</id><published>2009-10-01T19:43:00.000-07:00</published><updated>2009-10-01T19:45:30.480-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Ujian Nasional Remidi</title><content type='html'>Orang sudah mahfum bahwa musibah yang menimpa seseorang itu bisa berarti hukuman bisa juga berarti ujian.  Ia menjadi hukuman bagi orang-orang yang ingkar dan menjadi ujian bagi orang-orang yang beriman.  Demikianlah, tentu kita akan meletakkan musibah yang tengah menimpa saudara-saudara kita di Sumatera Barat dalam kelompok ujian.  Itu karena kita tidak mau meletakkan diri kita sendiri ke dalam kelompok orang-orang yang ingkar. Naudzubillahi min dzalik. Namun, terbetik juga pertanyaan, mengapa kita harus menerima ujian itu lagi dan lagi?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, mengapa kita harus menghadapi ulang ujian-ujian itu?  Sebenarnya hal tersebut tidaklah aneh benar, karena pada dasarnya seluruh hidup kita ini berisi ujian.  Bagi seorang siswa, terdapat dua kemungkinan kenapa ia harus menghadapi lagi soal-soal ujian.  Kemungkinan pertama adalah bahwa ia merupakan seorang siswa yang cerdas.  Banyak sekolah sekarang ini menyediakan kelas-kelas akselerasi, atau kelas-kelas dengan sistem modul.  Seorang siswa yang telah menyelesaikan satu modul, setelah belajar dengan cepat ia dapat mengambil ujian berikutnya.  Ia tidak perlu menunggu waktu yang reguler untuk menyelesaikan ujian-ujian yang harus dilaluinya. Semakin pintar ia, semakin cepat ia harus menghadapi ujian berikutnya. Setiap kali melewati satu ujian ia merasa lebih bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ujian juga bisa diberikan lagi kepada siswa yang tidak memenuhi standar ketuntasan minimal.  Ujian yang demikian umum disebut sebagai remidi.  Siswa harus menempuh remidi karena ia dianggap tidak lulus ujian sebelumnya.  Remidi bisa berkali-kali bila si siswa tidak juga berhasil memenuhi standar ketuntasan minimal tersebut.  Bila demikian, tentu kita tidak suka menyebutnya sebagai siswa yang pintar.  Si siswa sendiri sangat mungkin merasa semakin tertekan bilamana waktu ujiannya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, ujian berupa bencana yang bertubi-tubi bagi kita tersebut ujian peningkatan kompetensi atau ujian remidi?  Marilah kita lihat perbedaan dari kedua kategori ujian tersebut.  Bagi kategori pertama, tingkat kesulitan ujian yang dihadapi tidak akan sama antara satu ujian dengan ujian berikutnya. Kepada seorang siswa kelas 2, tidak akan diberikan "hanya" soal-soal yang dimaksudkan untuk siswa kelas 1.  Tingkat kerumitan soal akan meningkat.  Sebaliknya dengan soal ujian remidi, "tingkat kesulitannya" sama meskipun soalnya berbeda.  Bahkan pada kasus remidi yang berulang-ulang, mungkin guru akan menurunkan tingkat kesulitan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kita bisa melihat ujian bencana yang diberikan kepada bangsa ini: apakah "tingkat kesulitannya" sama atau berbeda dari satu ujian ke ujian berikutnya. Saya pribadi sangat khawatir bahwa sebenarnya tingkat kesulitan soal yang diberikan kepada kita itu sama saja.  Artinya, saya sangat khawatir bahwa kita ini adalah murid-murid yang tidak pintar yang masih harus menempuh remidi. Apakah saya mendasarkan kekhawatiran ini pada fakta bahwa bencana yang diberikan kepada kita ini sama dari waktu ke waktu? BUKAN!!!  Apalagi berharap bahwa skala dan intensitas bencana yang lebih besar untuk menyesuaikan dengan pandangan bahwa tingkat kesulitan yang lebih besar berarti kita ini naik kelas.  SAMA SEKALI BUKAN ITU!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat kesulitan TIDAK BERARTI intensitas bencana.  Jadi, gempa bumi dengan skala richter yang lebih besar BUKAN BERARTI tingkat kesulitan ujian yang lebih tinggi.  Bayangkanlah soal berhitung untuk siswa kelas 1 SD. Berapa 2 + 2?  Soal ini begitu sederhana.  Mudah dipahami apa yang ditanyakan.  Tidak memerlukan pemahaman konseptual yang rumit untuk menangkap inti dari pertanyaannya.  Bayangkan dengan soal-soal yang diberikan untuk siswa-siswa pada level pendidikan yang lebih tinggi.  Diperlukan upaya pemahaman konseptual yang lebih keras hanya untuk menangkap maksud soal yang sebenarnya, meskipun dengan simplifikasi yang intensif esensinya sama saja dengan soal anak-anak SD.  Secara sederhana, soal 2+2 = ... itu tingkat kesulitannya sama saja dengan 200 + 200 = ... Dan, a+1 = 3 lebih memerlukan pemahaman konseptual tentang apa yang dipertanyakan (baca: tingkat kesulitannya lebih tinggi) dari pada 2+2 = ...  Meskipun besaran angkanya lebih rendah, tetapi tingkat kesulitannya lebih tinggi. Jadi ujian hidup yang lebih tinggi tingkat kesulitannya, bukan berarti harus berupa bencana yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa dasar kekhawatiran saya?  Karena ujian yang diberikan berupa bencana, maka mungkin kita ini masih siswa tingkat rendah.  Mengapa? Karena soalnya begitu mudah dipahami apa yang dipertanyakan.  Marilah kita lihat soal "ujian nasional" kita kali ini.  Ya, ini adalah ujian nasional karena meskipun kasusnya terjadi di Sumbar tetapi sebenarnya soalnya harus diselesaikan oleh semua anggota bangsa ini.  Kasus soalnya hanya satu, yaitu bencana gempa bumi. Tetapi maksud soalnya bermacam-macam tergantung siapa dan dimana kita.  Bagi mereka yang terkena langsung bencana tersebut maka ujiannya adalah soal kesabaran.  Jelas bagi kita bahwa adanya bencana menuntut kesabaran pada yang mengalaminya.  Akan tetapi mudahkah kita memahami bahwa tanpa bencanapun kita ini dituntut kesabaran?  Begitu tidak sabarannya kita selama ini pada masa-masa tidak ada bencana. Begitu mudahnya kita ini marah kepada saudara kita sendiri.  Begitu tergesa-gesanya kita sampai-sampai melanggar berbagai rambu agama.  Tergesa mau kaya, maka korupsi.  Tidak sabar menunggu waktu ketemu tempat sampah, maka sampah kita buang di sembarang tempat.  Tidak sabar menunggu terkumpulnya keuntungan dalam berdagang, maka kita tidak jujur dalam berjualan. Dan masih banyak lagi contoh lain.  Pada waktu itu kita tidak pintar membaca soal ujian hidup kita: "kamu harus bersabar".  Maka Sang Maha Guru "menurunkan" tingkat kesulitan soal agar lebih mudah dipahami bahwa dalam hidup dituntut kesabaran, dan terjadilah apa yang dikehendakiNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita yang tidak terkena langsung, bencana itu adalah ujian ketaqwaan.  Sesama muslim adalah saudara, persaudaraan seiman.  Begitulah kita ini diperintahkan, yaitu memperlakukan mereka yang seiman sebagai saudara.  Menerapkan hal ini dalam kehidupan merupakan wujud dari ketaqwaan. Sebaliknya, berarti kita mengacuhkan perintah - yang juga bermakna kita kurang bertaqwa.  Jelas bahwa bencana menuntut rasa persaudaraan di antara keluarga satu bangsa. Dituntut bagi kita untuk menolong saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana.  Ini adalah soal ujian dengan tingkat kesulitan yang mudah dipahami. Akan tetapi, tanpa bencana itu kita seakan sulit memahami bahwa kita ini bersaudara. Saling fitnah, menumbuhkan kebencian satu dengan yang lain, saling merendahkan antar kelompok, merasa yang paling benar, dan tidak rajin saling tolong dalam kebaikan.  Agaknya tanpa bencana itu kita tidak mampu memahami soal ujian ketaqwaan dari perintah untuk bersaudara.  Barangkali itulah sebabnya Allah menurunkan bencana, agar kita bisa memahami soal ujianNya.  Karena bencana itu adalah soal ujian yang lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita sebagai sebuah bangsa, agaknya bencana ini adalah soal tentang bagaimana hidup berjamaah.  Dengan bencana mudah bagi kita memahami bagaimana sebagai sebuah bangsa pemimpin harus memperhatikan rakyatnya, pemimpin harus memberi teladan kepada yang dipimpin.  Di masa tanpa bencana mungkin kita ini tidak memahami soal yang diberikan sehingga pemimpin tidak memperhatikan dan memberi teladan yang dipimpinnya.  Mudah-mudahan kita kali ini lulus ujian remidi ini dan dapat belajar bagaimana harus membaca soal pada waktu berikutnya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-8642190668186498437?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/8642190668186498437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/10/ujian-nasional-remidi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/8642190668186498437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/8642190668186498437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/10/ujian-nasional-remidi.html' title='Ujian Nasional Remidi'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-5387480469412210883</id><published>2009-09-29T04:13:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T17:24:58.796-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Bertanyalah.</title><content type='html'>Saya masih ingat bagaimana rasanya saat pertama kali menjalankan tugas mengajar.  Dada berdegup-degup.  Gembira dan bahagia karena merasa mendapat kepercayaan (meski gajinya kecil kalau dibandingkan kesempatan kerja yang saya tinggalkan).  Saya buat persiapan sebaik-baiknya: bikin rencana pembelajaran yang cukup rinci; menyiapkan slide-slide (masih pakai transparansi waktu itu).  Dan yang terpenting, menyiapkan penguasaan materi sebaik-baiknya agar tidak memalukan karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan di kelas.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begitulah.  Hari pertama mengajar di kelas betul-betul pengalaman yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;exciting&lt;/span&gt;. Segala persiapan yang telah kulakukan rasanya cukup untuk membuat diri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;confident&lt;/span&gt;.  Segalanya berjalan lancar, sebagaimana yang kuharapkan.  Namun, tetap ada terselip perasaan was-was kalau-kalau ada mahasiswa yang iseng mencoba &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngetes&lt;/span&gt; dosennya.  Kalau ada yang mengajukan pertanyaan untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngetes&lt;/span&gt; saya, tentu berupa pertanyaan yang menyudutkan yang diperkirakannya tidak dapat saya jawab.  Dan bila akhirnya saya benar-benar tidak bisa menjawab, wah kiamat ... sungguh-sungguh memalukan.  Tidak sanggup saya, saat itu, membayangkan hal itu akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cekaman bayang akan terjadinya hal itu sedikit banyak membuat saya tegang selama kuliah pertamaku.  Meski demikian, beberapa kali saya berikan kesempatan kepada penghuni kelas untuk bertanya: "Ada yang mau bertanya?"  Tidak ada tangan yang diangkat.  Lega! Berarti mereka mengerti apa yang kubicarakan, dan tidak ada yang iseng mau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngetes&lt;/span&gt;. Begitulah kesimpulan yang kubuat sendiri atas situasi yang kuhadapi itu.  Hingga akhirnya, di penghujung kuliah tersebut saya ulang lagi pertanyaan saya: "Ada pertanyaan?". Dan, tidak ada tangan yang diangkat lagi. Plong, begitu perasaan yang ada karena menganggap bahwa itu adalah kesuksesan pertama saya dalam mengajar.  Mereka terlihat serius memperhatikan kuliah dan tidak sampai menimbulkan pertanyaan.  Jadi  saya anggap apa yang saya sampaikan telah jelas bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi kuliah-kuliah berikutnya saya semakin merasa percaya diri.  Dari satu kuliah ke kuliah berikutnya kejadiannya selalu seperti itu. Hampir tidak ada pertanyaan - kalau tidak boleh dibilang tidak ada yang bertanya.  Ya... memang ada satu dua yang bertanya, tetapi itu hanya menanyakan kalimat saya yang tidak jelas atau tulisan yang kurang terbaca (bukan tulisan saya yang sangat buruk, tetapi kadang dari posisi tertentu tulisan spidol di whiteboard kabur karena kesilauan - he he he he).  Hal yang demikian membuat saya merasa bahwa saya memang berbakat jadi dosen (???).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, selang beberapa lama saya dihinggapi pertanyaan introspektif: "masa iya saya secanggih itu?"  Apa benar mereka tidak bertanya karena sudah paham apa yang saya bicarakan, sudah mengerti, sudah mengetahui?  Lalu, esoknya saya berinisiatif untuk menguji pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut itu.  Pada penghujung kuliah saya tawarkan lagi kalau ada yang bertanya, ternyata tidak ada yang bertanya.  Lalu saya sampaikan ke kelas, "Oke, sekarang kita kuis". Hebohlah kelas.  Dan.... hasilnya benar-benar tidak seperti yang saya harapkan. :((&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah waktu-waktu sesudah itu arena perenungan, menguji lagi kesimpulan-kesimpulan yang telah saya buat sebelumnya.  Apakah orang bertanya itu karena tidak tahu dan yang tidak bertanya itu sudah tahu?  Yah, akhirnya kutemukan simpul masalahnya.  Asumsi bahwa orang tidak bertanya karena sudah tahu dan bertanya karena sudah tahu inilah sumber masalah saya.  Mengapa orang bertanya? bukan karena tidak tahu.  Banyak hal yang kita tidak tahu tetapi kita tidak akan pernah menanyakannya.  (Misalnya: siapa istri ketua RW di lingkungan yang kita tidak tinggal di dalamnya.) Itu karena hal tersebut tidak penting bagi kita sehingga tidak mempunyai daya dorong agar kita bertanya.  Jadi orang bertanya lebih karena ingin tahu, dan bukan karena tidak tahu.  Sebaliknya orang tidak bertanya bukan berarti karena sudah tahu, tetapi lebih karena tidak ingin tahu.  Jadi kalau mereka di kelas saya tidak bertanya berarti ......?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi setelah saya rasakan beberapa saat, kelas-kelas yang demikian sungguh membosankan. Lagi-lagi saya dihinggapi pertanyaan: "Jangan-jangan merekalah yang bosan melihat gaya dan cara saya di kelas?" Rupanya, inilah tantangan besar yang sebenarnya dari seorang pengajar: bagaimana melakukan perubahan dalam diri kita sehingga membuat kelas-kelas menjadi lebih hidup - itu artinya banyak pertanyaan dan diskusi.  Pembelajar yang bertanya adalah mereka yang ingin tahu dan telah mempersiapkan diri untuk mengetahui dan belajar lebih banyak.  Diskusi yang terjadi adalah proses konstruksi pengetahuan di dalam dirinya.  Akhirnya saya mahfumi, kalau ada mahasiswa yang bertanya dan saya tidak memiliki jawabannya - itu berarti SUKSES BESAR.  Ya, sukses besar.  Karena itu berarti bahwa saya berhasil membangkitkan kemauannya belajar hingga mencapai batas melebihi apa yang telah saya ketahui.  Sebagai guru, itu berarti kesuksesan mengantarkan sang murid menjadi pintar.  Saya tidak perlu malu lagi kalau muncul pertanyaan yang saya tidak bisa jawab, dan saya tidak perlu berburuk sangka bahwa mereka yang bertanya sedemikian ini punya maksud &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngetes&lt;/span&gt;.  Mudah-mudahan renungan ini menjadi pelajaran bagi guru-guru lain maupun bagi mereka yang sedang belajar di kampus-kampus.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-5387480469412210883?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/5387480469412210883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/bertanyalah.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/5387480469412210883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/5387480469412210883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/bertanyalah.html' title='Bertanyalah.'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-2449327395556360017</id><published>2009-09-12T19:56:00.000-07:00</published><updated>2009-09-14T17:07:26.854-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Tips Mudik Spiritual</title><content type='html'>Ramadhan tinggal sedikit lagi, kesempatan meresapi nikmat juga tinggal sedikit lagi :( Udah gitu harus bikin persiapan mudik lagi.  Wah makin habis deh kesempatan bermesraan dengan Ramadhan.  Tapi bagaimana lagi, ritual mudik lebaran rasanya sulit sekali diabaikan.  Tidak mudik pas lebarn bisa membuat orang tua kita menitikkan air matanya - kesempatan sekali setahun koq anakku tidak pulang juga ya.  Malah bisa menimbulkan prasangka yang tidak-tidak.  Apa lagi bagi kaum migran, kesempatan bertemu dengan kerabat dan teman-teman masa kecil tentu sayang sekali kalau dilewatkan.  Tidak mudah mencari momen bisa berkumpul bertemu dengan mereka di luar hari raya.  Tapi, sisa Ramadhan yang tinggal sedikit ini juga sayang sekali kalau terabaikan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SqxoJcOhHyI/AAAAAAAAAIw/AeEBUOAp8Ds/s1600-h/mudik.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 241px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SqxoJcOhHyI/AAAAAAAAAIw/AeEBUOAp8Ds/s400/mudik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5380790166206095138" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Justru di 10 hari terakhir ini kita harus makin meningkatkan kualitas ibadah kita.  Terlebih, karena kita tidak tahu apakah kita masih akan dapat bertemu dengan bulan Ramadhan berikutnya. (Meski kita akan meminta kepadaNya agar diberi kesempatan bertemu Ramadhan yang akan datang). Karena sepertinya kita tidak bisa menghindari "ritual" mudik ini, maka ada baiknya kita berusaha agar ia menjadi bermakna dan bukannya mengganggu kekhusyu'an kita di akhir Ramadhan.  Berikut ini adalah beberapa tips untuk itu:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jangan lupa untuk meniatkan bahwa seluruh kegiatan hidup kita hanya sebagai ibadah kepada Allah.  Mudik bisa diniatkan sebagai tindakan berbakti kepada orang tua, memelihara silaturahmi dengan kerabat dan sahabat, atau hal-hal lain yang diperintahkan oleh Allah.  Jangan sampai kita termasuk orang yang rugi karena menggunakan waktu tidak dengan keimanan dan amal sholeh sebagaimana disinyalir dalam Al Ashr .&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Belanjalah dengan bijaksana - karena ia juga bisa bermakna ibadah. Mudik sering mengharuskan kita berbelanja sesuatu yang berbeda (jumlah maupun jenis) dari biasanya. Kalau anda membeli oleh-oleh, niatkanlah belanja anda sebagai ibadah untuk mencontoh rasul yang menyarankan umatnya memberi hadiah kepada saudara dan tetangganya.  Juga perhatikan bahwa barang yang anda beli adalah produksi umat islam dan dalam negeri, lalu niatkan sebagai jihad ekonomi. Pilihlah oleh-oleh yang baik dan bermanfaat bagi sang calon penerimanya.  Ketika berbelanja, jangan lupa untuk melakukannya sambil berdzikir, mengingat-ingat Allah.  Karenanya, jangan pilih barang yang memiliki dampak merusak lingkungan (setidaknya pilih yang dampaknya paling sedikit) karena Allah murka terhadap hambanya yang suka berbuat kerusakan di bumiNya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tanamkan lebih intensif kepada anak-anak untuk belajar menjadikan kegiatan-kegiatan keseharian sebagai ibadah dengan contoh persiapan mudik anda.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bila perjalanan anda cukup jauh, jangan sampai anda melewatkan waktu-waktu sholat.  Islam memberi kemudahan bagi orang yang sedang dalam perjalanan untuk mengqodlo' dan mengqoshor sholat. Jadikan perjalanan anda sebagai kesempatan untuk mendidik anak bagaimana musafir melaksanakan sholatnya. Demikian pula bila anda terpaksa melakukan perjalanan pada saat masih bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdzikirlah sepanjang perjalanan anda, rendahkan emosi, sehingga anda selalu sabar dalam mengemudi dan dapat menghormati pengguna jalan yang lain. Jangan marah atau memaki orang dalam perjalanan anda. Anda akan menyesal karena anda akan sulit meminta maaf untuk menghapus dosa anda tersebut (yah kan kita tidak kenal dan tak tahu tinggalnya orang yang kita maki di jalan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan buang sampah di jalanan, karena dengan demikian anda telah menebar kedzaliman kepada orang lain yang tidak anda kenali.  Lagi-lagi, anda akan kesulitan untuk meminta maaf agar dosa tersebut dapat diampuni Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banyak-banyak beristigfar dalam perjalanan anda.  Setiap tarikan piston kendaraan yang anda kemudikan menghasilkan polusi yang membahayakan kehidupan.  Mohon ampunlah kepada Allah untuk hal-hal yang anda betul-betul tidak bisa menghindarinya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-2449327395556360017?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/2449327395556360017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/tips-mudik-spiritual.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/2449327395556360017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/2449327395556360017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/tips-mudik-spiritual.html' title='Tips Mudik Spiritual'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SqxoJcOhHyI/AAAAAAAAAIw/AeEBUOAp8Ds/s72-c/mudik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-8443839947474243989</id><published>2009-09-11T16:51:00.000-07:00</published><updated>2009-09-12T22:26:52.472-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Hikmah Ramadhan: Keadilan Hijriyah</title><content type='html'>Kita umat Islam di Indonesia sangat terbiasa dengan kalender masehi.  Segala kegiatan, kita rencanakan, dokumentasikan, dan ceritakan menggunakan kerangka waktu masehi.  Jadual sekolah menggunakan masehi, gajian menggunakan masehi, umur dihitung dengan masehi, janji dibuat dengan masehi... yah hampir semuanya kita gunakan kalender masehi. Kalender hijriyah jarang sekali kita gunakan.  Paling-paling hanya pada saat hari dan bulan tertentu.  Itupun tidak keseluruhan, bulan Ramadhan hanya kita perhatikan awal dan akhirnya saja. Itu karena awal menentukan kapan kita harus puasa dan akhir kapan kita boleh merayakan Iedul Fitri (bukannya kapan kita haram berpuasa - begitulah yang kita perbincangkan dan tertanam di benak masyarakat :( )&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Sudah begitu (baca: tidak menggunakan kalender hijriyah dalam keseharian) yang cuma sedikit itupun tidak jarang diwarnai ribut-ribut perbedaan.  (Astaghfirullah, ampunilah hambaMu ini kalau menjadi bagian umat yang seperti itu ya Allah).  Fakta ini harus membuat kita berfikir ulang tentang diri kita sendiri, apakah kita ini termasuk orang-orang yang bersyukur?  Jangan-jangan kita termasuk hamba yang kurang bersyukur karena kita tidak mau membaca dan berfikir bahwa kalender hijriyah adalah rahmat dari Sang Maha Adil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kita kaum muslim yang tinggal di daerah tropis, seperti Indonesia, umumnya puasa Ramadhan dijalani selama 14 - 15 jam setiap harinya.  Begitulah yang terjadi sepanjang hidupnya, karena rata-rata lamanya siang adalah sebesar itu sepanjang waktu.  Berbeda dengan mereka yang tinggal di daerah sub-tropis, saat ini ada di antara mereka yang mengalami siang jauh lebih panjang daripada malam harinya.  Karena itu, ia berpuasa lebih lama daripada rata-rata orang yang tinggal di daerah tropis.  Sebaliknya, ada daerah dimana sekarang ini siangnya lebih pendek daripada kita yang tinggal di Indonesia.  Maka, mereka berpuasa untuk waktu yang lebih pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap tahunnya, terdapat selisih kurang lebih 11 hari antara kalender hijriyah dan masehi.  Karena jumlah hari hijriyah dalam setahun lebih sedikit, maka penanggalan hijriyah terlihat maju kurang lebih 11 hari dalam setahunnya.  Itu berarti, bulan Ramadhan akan terjadi pada keseluruhan waktu tahun masehi dalam kurun waktu 35 tahun. Dengan demikian, mereka yang tinggal di daerah subtropis (baik di utara maupun di selatan katulistiwa) akan sama-sama pernah menemui puasa ramadhan yang panjang (lebih dari 14 jam dalam sehari) juga yang pendek.  Sungguh Allah Maha Adil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan seandainya yang digunakan adalah kalender masehi, katakanlah kewajiban puasa Ramadhan jatuh di bulan Oktober.  Maka, akan ada daerah di mana setiap tahunnya mereka harus berpuasa lebih lama daripada di daerah lain dan sebaliknya. Wah kalau itu terjadi, mungkin akan ada orang muslim yang berfikir untuk pindah tinggal ke daerah yang siang harinya lebih pendek pada bulan Oktober itu.  Maka berduyun-duyunlah kaum muslimin menempati daerah tersebut dan meninggalkan daerah lainnya.  Bisa jadi, karena yang demikian itu maka islam hanya akan menjadi agama lokal - agama yang hanya dianut oleh penduduk di daerah yang siang harinya lebih pendek pada bulang oktober! Tidak menjadi agama bagi seluruh semesta. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-8443839947474243989?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/8443839947474243989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/hikmah-ramadhan-keadilan-hijriyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/8443839947474243989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/8443839947474243989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/hikmah-ramadhan-keadilan-hijriyah.html' title='Hikmah Ramadhan: Keadilan Hijriyah'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-4546136386698784702</id><published>2009-09-10T18:57:00.000-07:00</published><updated>2009-09-10T20:53:13.683-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Hikmah Ramadhan: Akhlak Global</title><content type='html'>Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad, dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah SAW bersabda, "Jika makanan salah satu kalian jatuh maka hendaklah diambil dan disingkirkan kotoran yang melekat padanya, kemudian hendaknya dimakan dan jangan dibiarkan untuk setan."  Dalam riwayat lain "sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu, jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaknya dibersihkan kemudian di makan dan jangan dibiarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari jemari dijilati karena tidak diketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dicontohkan oleh rasul oleh banyak orang hanya dijadikan rujukan tentang bagaimana adab makan yang seharusnya.  Padahal &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; apa yang disampaikan rasul lebih dari 1400 tahun yang lalu itu adalah suatu akhlak yang betul-betul berperspektif global, meskipun saat itu belum ada istilah "globalisasi".  Yah, karena apa yang disampaikan tersebut menyentuh ke jantung salah satu permasalahan global yang dihadapi oleh manusia modern.  Tentu ada yang bertanya, memangnya masalah tatacara makan termasuk persoalan gawat yang dihadapi oleh planet ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu bukan, karena perspektif dalam tulisan ini terletak pada sampah. Koq? Seandainya saja makanan yang terjatuh tadi tidak diambil kembali, maka itu berarti sampah dalam ukuran yang melebihi yang seharusnya.  Bukankah cukup yang tidak bisa dimakan saja (baca: yang terkena kotoran) yang boleh menjadi sampah?  Kalau yang masih bisa dimakan, sebaiknya janganlah menjadi sampah karena sampah akan memunculkan masalah-masalah (sebagaimana sifat setan).  Demikian pula sisa makanan pada jari (atau sendok, kalau makan pakai sendok) yang akan mencemari air yang kita gunakan untuk mencucinya.  Semakin sedikit sisa makanan yang kita cuci berarti semakin kecil tingkat pencemaran air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah sampah saat ini sungguh-sungguh merupakan persoalan global. Semua negara menghadapi persoalan sampah dalam tingkatan yang berbeda-beda sekaligus juga menjadi masalah bersama karena tidak mungkin diatasi sendirian saja.  Kompleksitas masalah sampah juga berasal dari persoalan ikutan yang dibawa oleh sampah itu sendiri, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tersumbatnya drainase dan banjir&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyebaran vector penyebab penyakit (Lalat, nyamuk, dan tikus)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Debu dan polusi udara, panas pembakaran dan dioksin yang berbahaya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jamur dan pathogen yang tersebar melalui sampah yang berserakan dan hasil penguraian &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Produksi methan (gas berbahaya terhadap efek rumah kaca)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Polusi air (resapan air tanah yang selanjutnya menggangu sumber air tanah di bawahnya.)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengurangi keindahan pemandangan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sampah menjadi masalah karena ukurannya yang besar (tentu, sampah yang sedikit tidak akan sampai menyumbat saluran drainase dan menyebabkan banjir).  Untuk Kota Malang saja, dengan jumlah penduduk 800 ribu lebih jiwa, sampahnya bisa mencapai 326 ribu ton lebih per tahun (diprediksi dari sampah per kapita perhari untuk Indonesia yang sebesar 0,76 Kg/orang/hari (World Bank. What a Waste: Solid Waste Management in Asia, May 1999). Dan, 64%-nya adalah sampah domestik, sampah yang diproduksi oleh rumah tangga.   Itu berarti kalau mau mengatasi masalah sampah, yang paling signifikan adalah mengatasi sampah domestik karena persentasenya yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi penekanan volume sampah domestik inilah arti penting semangat yang ditanamkan melalui adab makan oleh rasulullah.   Bukan sekedar tatacara makan itu yang menjadi fokusnya, tapi bagaimana membentuk akhlak yang peka terhadap terhadap masalah lingkungan.  Begitu halusnya akhlak yang diajarkan rasulullah ini karena di dalamnya terdapat perspektif menhindarkan diri dari melakukan perbuatan yang mendzalimi orang lain.   Dalam tatacara makan kita harus ada empati untuk menghindarkan seminimal mungkin dampak negatifnya terhadap orang lain.  Bukankah sampah (termasuk sisa makanan kita) yang kita buang itu hanya mengalihkan masalah dari tempat kita ke tempat (orang) lain?  Kalau urusan tata cara makan saja harus berimplikasi menghindari mudharat bagi orang lain, apa lagi urusan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adab makan itu sendiri setidaknya relevan dalam pandangan kekinian untuk dua hal.  &lt;font style="font-weight: bold;"&gt;Pertama&lt;/font&gt;, mengatasi masalah yang paling signifikan.  Karena rumah tangga merupakan penyumbang sampah terbesar,  maka setiap upaya untuk menguranginya sangat berarti.  Adab makan yang disunahkan rasul secara tepat menembak masalah terbesar dalam produksi sampah. Adab yang diajarkan oleh rasul ini seolah-olah hendak memprediksi bahwa kelak (baca: zaman modern sekarang ini) konsumen rumah tanggalah yang akan menjadi sumber utama masalah sampah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, mengatasi masalah sejak dari sumbernya.  Akhir-akhir ini telah berkembang mainstream pemikiran yang intinya menyelesaikan masalah sampah sedekat mungkin dengan sumbernya.  Pendekatan TPA (tempat pembuangan akhir atau kadang disebut landfill sanitary) terbukti di banyak tempat tidak menyelesaikan masalah dengan baik karena reliabilitasnya yang kurang atau penolakan-penolakan dari warga sekitar.  Sunah rasul ini selaras betul dengan pemikiran modern ini, bahkan sangat akurat.  Konsumen rumahtanggalah sumber sampah terbesar.  Namun, hakikatnya yang menjadi sumber masalah adalah perilakunya.  Kita tidak dapat mengeneralisir bahwa semua manusia merupakan sumber masalah dengan bobot yang sama.  Ada di antara mereka yang perilakunya acuh, tidak peduli akan akibat dari sampah yang dihasilkannya.  Tapi ada pula orang yang sangat peduli akan hal itu.  Jadi, perilaku yang tidak peduli terhadap akibat-akibat dari perbuatannya itulah sebenar-benarnya sumber masalah.  Adab makan yang menjadi idealitas akhlak muslim tersebut secara tepat menjadikan perilaku sebagai sumber masalah yang harus diperbaiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bulan Ramadhan ini, dimana orang beriman diajarkan mengendalikan nafsunya, pendalaman perbaikan akhlak dalam konteks kontemporer menjadi sangat relevan.  Tugas kita membumikan nilai-nilai yang dibawa rasulullah pada zaman ini.  Dan... contoh kecil tentang adab makan memberi gambaran kepada kita bagaimana sesungguhnya ajaran islam bisa menjadi akhlak global.  Hanya Allah yang Maha Tahu. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-4546136386698784702?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/4546136386698784702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/hikmah-ramadhan-akhlak-global.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4546136386698784702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4546136386698784702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/hikmah-ramadhan-akhlak-global.html' title='Hikmah Ramadhan: Akhlak Global'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-1545340567491844688</id><published>2009-09-09T18:27:00.000-07:00</published><updated>2009-09-11T06:52:49.100-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Puasa pendidikan hati</title><content type='html'>Sesaat sebelum berangkat ke kantor hari itu masih sempat saya melihat tayangan berita di salah satu stasiun televisi.  Kebetulan sekali berita yang ditampilkan sangat merisaukan hati: bentrok fisik yang melibatkan mahasiswa di dua kampus berbeda.  Tentu saja hal tersebut menyentuh nurani saya, karena keseharian saya adalah di kampus.  Sambil mengemudikan kendaraan ke arah kampus saya mencoba bermuhasabah, bagaimana mungkin kumpulan orang-orang terdidik dapat melakukan tindakan anarkhi - justru di bulan Ramadhan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, anarkhi itu telah terjadi. Karena itu pertanyaannya menjadi mengapa mereka melakukannya? Tentu kita sulit untuk menggali motivasinya, akan tetapi kita dapat menelusur dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai model.  Faktor apa yang akan membuat kita dapat bertindak anarkhis? Emosi nan tak terkendali. Kira-kira begitulah kita akan menjawabnya.  Sayangnya, justru emosi itulah yang diletakkan (entah sengaja atau tidak) di ranah di luar pendidikan formal.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hampir semua institusi pendidikan formal, hampir kita tidak temui kurikulum yang secara intensif dan terpadu untuk meningkatkan kemampuan emosional peserta didik secara terarah.  Padahal, telah menjadi kesadaran umum bahwa emtional quotient lebih penting dari sekedar intelectual quotient.  Mungkin para perancang kurikulum tersebut berasumsi bahwa dengan meningkatnya kemampuan kognitif seseorang maka dengan sendirinya kemampuan emosionalnya juga menjadi lebih baik.  Sayang sekali kenyataannya tidak membuktikan demikian.  Berita di tv yang saya ceritakan di awal posting ini secara telak menyanggah asumsi para perancang kurikulum itu.  Terlebih, berita itu bukanlah yang pertama, tapi telah yang kesekian kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ungkapan yang sering digunakan orang: kepala boleh panas, tetapi hati jangan.  Maksudnya, jangan sampai emosi mengalahkan nalar.  Ungkapan itu muncul karena orang melihat dari pengalamannya bahwa ternyata emosi dan nalar memang dua hal yang terpisah.  Banyak orang yang lebih bisa menerima orang dengan kepintaran nalar yang tidak terlalu menonjol tetapi pintar mengendalikan emosinya dari pada orang yang sebaliknya.  Itu berarti bahwa, pendidikan yang hanya menekankan kepintaran nalar sebenarnya tidak mampu memenuhi harapan masyarakat akan keluarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka inilah letak arti penting puasa ramadhan. Puasa adalah tindakan secara sengaja menahan diri dari segala perbuatan yang dilarang agama.  Jadi intinya adalah pengendalian diri.  Sehingga ketika ada orang yang menarik-narik kita agar kendali emosinya buyar, rasulullah menganjurkan agar menjawab dengan: saya sedang puasa.  Namun sayang sekali, seperti disinyalir oleh rasul, banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus saja.  Mereka itulah antara lain orang yang dalam puasanya tidak dapat mengendalikan emosinya.  Mereka itulah orang-orang yang gagal memanfaatkan puasa untuk mendidik hatinya.  Semoga kita tidak termasuk orang yang demikian. Na'udzubillah min dzalik. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-1545340567491844688?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/1545340567491844688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/puasa-pendidikan-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/1545340567491844688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/1545340567491844688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/puasa-pendidikan-hati.html' title='Puasa pendidikan hati'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-6668882913331835158</id><published>2009-09-05T08:19:00.000-07:00</published><updated>2009-09-05T22:25:06.302-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Bencana gempa itu.</title><content type='html'>Seorang supervisor pada sebuah proyek pembangunan infrastruktur suatu hari sedang sibuk melaksanakan tugasnya di lapangan.  Ia bertanggungjawab untuk mengarahkan dan mengawasi pekerjaan sejumlah pekerja bangunan.  Suasana sangat berisik, suara mesin dari berbagai peralatan berat menderu-deru diselingi teriakan pekerja dan mandor yang saling berkoordinasi.  Keadaan di lapangan itu seperti kapal pecah saja.  Berbagai tumpukan material terlihat di sana-sini.  Lubang-lubang galian juga terlihat menganga di sejumlah lokasi.  Dalam keadaan seperti itulah sang supervisor harus bergerak ke sana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begitu asyiknya sang supervisor bekerja hingga ia tidak sadar bahwa ia mendekati kabel terbuka yang mengalirkan listrik tegangan tinggi yang terhampar di tanah di depannya.  Mengetahui bahwa sang supervisor mendekati bahaya, sejumlah pekerja berteriak-teriak memperingatkannya.  Sayang sekali, suasana di tempat itu begitu gaduh dan jarak para pekerja yang berterian tersebut cukup jauh dari sang supervisor. Suara-suara memperingatkan dari para pekerja itu tidak mampu menyadarkan sang supervisor karena tertelah kegaduhan ditempat itu.  Dengan tenang ia melanjutkan langkahnya dan tanpa disadarinya ia mendekati bahaya yang mengancam jiwanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal dua langkah lagi kaki sang supervisor akan melanggar kabel bertegangan tinggi tersebut.  Menyadari teriakannya diabaikan sementara jaraknya cukup jauh untuk menghentikan langkah sang supervisor, seorang pegawai mengambil inisiatif melempar sang supervisor dengan sebuah batu.  "Pletak!" Batu yang dilempar agak keras tersebut mengenai kepala sang supervisor menyusup di bawah helm dan sedikit di atas telinga. Entah keberuntungan apa yang menghinggapi sang pelempar sehingga batu tersebut mengenai bagian kepala yang tak terlinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kepala sang supervisor tersebut terluka oleh lemparan itu.  Kepalanya terlihat mengeluarkan darah.  Tapi hal tersebut justru menyelamatkannya.  Mendadak ia menghentikan langkahnya, tepat dua langkah sebelum ia melanggar kabel yang membahayakan dirinya.  Segera ia membalik badan menghampiri arah dari mana lemparan tadi berasal.  "Siapa yang melemparku dengan batu tadi?" tanyanya kepada sekelompok pekerja dengan agak geram. Tangannya memegang bagian kepalanya yang terluka seakan ingin menghentikan pendarahan yang sebenarnya tidak terlalu bahaya baginya.  "Saya pak" jawab seorang pekerja. "Kami sudah berteriak agar Bapak berhenti, tapi rupanya Bapak tidak mendengar. Padahal di depan Bapak ada kabel bertegangan tinggi yang berbahaya. Jadi saya lempar saja pakai batu, karena tidak mungkin lagi mencegah Bapak melanggar kabel itu dengan cara yang lain.", demikian ia menerangkan sambil menunjuk kabel yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang supervisor menengok arah yang ditunjuk sang pekerja, dan ia menyadari betapa dia tadi hampir saja celaka. Andai saja tidak ada lemparan batu yang menghentikannya, sangat mungkin ia telah meregang nyawanya.  Menyadari hal tersebut, ia tidak menjadi marah, justru berterimakasih sekali kepada pekerja yang melempar kepalanya hingga luka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah gambaran tentang bencana alam yang menimpa bangsa kita kemarin ini.  Dengan bencana alam gempa di Jawa Barat yang menggiriskan itu seolah Tuhan sedang melempar kita agar kita berhenti melakukan sesuatu atau memulai sesuatu yang lainnya.  Yah, bencana gempa itu merupakan peringatan Tuhan kepada kita.  Bukankah akhir-akhir ini sepertinya bangsa kita mengalami bencana yang silih berganti saja?  Jangan-jangan bencana-bencana itu adalah lemparan batu yang maksudnya untuk menyelamatkan kita sebagai bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih teringat kita akan dahsyatnya bencana tsunami yang melanda Aceh. Bencana itu sesaat membangkitkan rasa saling menyayangi yang amat besar kepada seluruh anggota bangsa ini. Bencana itu telah mampu menggerakkan hati setiap kita untuk mau berkorban dan memberikan apa yang kita punyai untuk saudara kita.  Tetapi, mungkin rasa itu hanya sesaat saja.  Kita kembali menjadi egois, seba mementingkan diri sendiri. Kalau perlu milik saudara harus kita terkam.  Bukankah itu hakikat korupsi? kekacauan di balik ambruknya Bank Century?, keengganan anggota dewan lengser kita memenuhi berbagai kewajiban? (mis: mengembalikan mobil dinas, melunasi hutang, dll).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya itu saja. Mungkin kita telah menjauhi Tuhan. Kita tidak lagi bersemangat menjalankan perintah-perintahnya.  Kita tidak berusaha meninggalkan hal-hal yang mubah. Kita juga tidak meninggalkan hal-hal yang makruh, bahkan yang haram.  Di bulan Ramadhan ini, begitu semarak fenomena ngabuburit. Jauh lebih semarak dari kegiatan tadarus di masjid-masijd atau di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yahh, sangat mungkin lemparan batu itu membuat kita berdarah-darah. Tetapi kita tidak boleh marah, justru harus berterimakasih. Mungkin tanpa bencana itu kita akan terjerumus lebih jauh pada kerusakan yang lebih tak terperikan.  Naudzubillahi min dzalik. Semoga tidak terjadi pada kita. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-6668882913331835158?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/6668882913331835158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/bencana-gempa-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/6668882913331835158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/6668882913331835158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/bencana-gempa-itu.html' title='Bencana gempa itu.'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-48378410902205619</id><published>2009-09-04T18:08:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T18:16:10.290-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>Kayu dari hutan mana?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SqG7ZNL1VoI/AAAAAAAAAIQ/FsRoDvFUKII/s1600-h/angkut_kayu.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SqG7ZNL1VoI/AAAAAAAAAIQ/FsRoDvFUKII/s400/angkut_kayu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377785471767500418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha.. kayu dari hutan mana tuh? Berapa umur pohon itu? Wah... sekejap saja ia telah menghiasi rumah-rumah kita. Kalau kita menanam sekarang, cucu ke berapa baru bisa tebang seperti itu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-48378410902205619?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/48378410902205619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/kayu-dari-hutan-mana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/48378410902205619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/48378410902205619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/kayu-dari-hutan-mana.html' title='Kayu dari hutan mana?'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SqG7ZNL1VoI/AAAAAAAAAIQ/FsRoDvFUKII/s72-c/angkut_kayu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-1020782623306620217</id><published>2009-09-04T18:04:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T18:07:47.388-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><title type='text'>Memburu pelanggar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SqG5mkX_teI/AAAAAAAAAII/ZLoHssKqc3s/s1600-h/memburu-pelanggar.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SqG5mkX_teI/AAAAAAAAAII/ZLoHssKqc3s/s400/memburu-pelanggar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377783502307571170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelebihan muatan memang bisa membahayakan orang lain, pak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-1020782623306620217?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/1020782623306620217/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/memburu-pelanggar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/1020782623306620217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/1020782623306620217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/memburu-pelanggar.html' title='Memburu pelanggar'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SqG5mkX_teI/AAAAAAAAAII/ZLoHssKqc3s/s72-c/memburu-pelanggar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-3852825099055113634</id><published>2009-09-03T16:07:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T16:52:40.610-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Doa seorang petani</title><content type='html'>Seorang sahabat, yang pekerjaannya menanam dan menjual bibit-bibit tanaman, menginspirasikan sebuah do'a kepada kami.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkaulah pemilik segala kekuatan maka kuatkanlah hambamu ini beribadah hari ini.  Ya Allah yang Maha Hidup, jadikanlah bibit-bibit yang hamba tanam hari ini hidup dan tumbuh sebaik-baiknya dan menjadi rejeki bagi hamba untuk menafkahi keluarga dan menyantuni mereka yang membutuhkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkaulah yang Maha Mengatur segala urusan di bumi ini.  Karena itu ya Allah, jadikanlah tanaman yang hamba tanam hari ini tumbuh sehat sempurna sehingga memberikan keindahan dan kenyamanan bagi semua makhlukMu yang hidup di sekitarnya.  Jadikan pula dengannya daurh hidup berbagai makhlukMu berlangsung dengan sebaik-baiknya dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada para makhlukMu yang lain.  &lt;br /&gt;Jadikanlah itu shodaqoh hamba beserta mereka yang ikut merawat tanaman itu semuanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jadikanlah tanaman itu bekerja sempurna menghasilkan oksigen sehingga menjadi jalan rahmatMu bagi makhluk-makhluk di sekitarnya.  Jadikan pula seresah tanaman ini sebagai penyubur tanah ciptaanMu di berbagai tempat dan menjadi jalan rahmadMu dengan menyuburkan bumi dan menggembirakan mereka yang tinggal di atasnya. &lt;br /&gt;Dan, jadikanlah itu sebagai amal hamba dan orang-orang yang merawatnya yang menjadikan berat timbangan kebaikan hamba di sisiMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkaulah Maha Pemberi Rejeki.  Maka, hamba memohon kepadaMu ya Allah, sempurnakan perakaran tanaman yang hamba tanam hari ini agar menjadikannya dapat menahan air yang kemudian memberi kehidupan kepada makhluk-makhlukMu di sekitarnya yang membutuhkan.  Jadikan pula perakaran tanaman tersebut mencegah erosi dan menyelamatkan makhluk-makhlukMu di sekitarnya dari bahaya banjir, kekeringan, dan kerusakan lingkungan. Ya Alah yang Maha Pemurah, jadikanlah hal tersebut amal jariyah hamba dan orang-orang yang memeliharanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkaulah yang Maha Kaya dan kami sungguh-sungguh miskin, sungguh-sungguh dhoif. Karena itu ya Allah, tumbuhkanlah dengan sempurna tanaman ini agar orang-orang dapat menerima rezekiMu dari buah-buahannya, dari dedauanannya, dan dari semua bagian tanaman yang hamba tanam ini. Berkahkanlah rezeki tersebut bagi mereka dan ikutkanlah hamba sebagai orang yang Kau perhitungkan menjadi jalan rezeki mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkaulah yang Maha Memelihara.  Maka, mudahkanlah hamba dan sesiapa saja yang ikut merawat tanaman ini menjaganya dari kerusakan-kerusakan.  Tumbuhkanlah tanaman tersebut dengan sempurna sehingga berkembang biak, beranak-pinak dengan sebaik-baiknya.  Dan jadikanlah semua keturunan tanaman ini memberikan manfaat sebagaimana induknya, serta jadikanlah manfaat-manfaat tersebut amal jariyah bagi hamba dan semua orang yang ikut memeliharanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, kabulkanlah permohonan hamba ini. Karena hamba yakin Engkau adalah Maha Pengabul segala doa.&lt;br /&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih sahabat, berkat engkau kepalaku semakin tertunduk - malu aku akan hidupku bila kelak dipertanyakan di hari perhitungan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-3852825099055113634?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/3852825099055113634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/doa-seorang-petani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/3852825099055113634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/3852825099055113634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/doa-seorang-petani.html' title='Doa seorang petani'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-2191315846982606631</id><published>2009-09-01T19:07:00.001-07:00</published><updated>2009-09-01T21:30:38.026-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Manusia haram</title><content type='html'>Sudahkan kita introspeksi diri kita hari ini? Mungkin ide berikut ini dapat menjadi kerangka untuk kita memperbaiki diri.&amp;nbsp; Ada lima kategori orang di setiap masyarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Manusia haram&lt;/i&gt;.&amp;nbsp; Ini adalah jenis manusia yang menyebalkan.&amp;nbsp; Tidak, ia tidak menyebalkan tetapi lebih dan lebih dari menyebalkan :P.  Keberadaanya dibenci oleh orang-orang di sekitarnya karena menebarkan ancaman, ketidak-nyamanan, kerusakan, dan malapetaka. Banyak yang ia lakukan yang menyebabkan ketakutan orang lain. Takut akan kerusakan secara fisik maupun takut akan kerusakan moral dan tauhid.&amp;nbsp; Karena itu mereka tidak dikehendaki keberadaannya dalam suatu komunitas - mereka mengharamkan keberadaan orang tersebut di dekatnya.&amp;nbsp; Dengan kata lain, orang seperti ini &lt;b&gt;seharusnya&lt;/b&gt; tidak ada di sekitar kita. Naudzubillah min dzalik, jangan sampai kita dan keturunan kita masuk ke dalam golongan ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Manusia makruh&lt;/i&gt;. Nah, yang ini baru yang menyebalkan.&amp;nbsp; Mereka ini lebih suka memilih melakukan hal-hal yang banyak mudhorotnya.&amp;nbsp; Tidak sampai menebarkan ketakutan, tetapi sudah meresahkan.&amp;nbsp; Yah... banyak orang yang sebal-lah dengan mereka dari kelompok ini. Orang sangat berharap bahwa orang seperti ini &lt;b&gt;sebaiknya&lt;/b&gt; tidak berada di sekitar mereka - mereka memakruhkan orang dari jenis ini di lingkungannya.&amp;nbsp; Naudzubillah min dzalik, jangan sampai kita dan keturunan kita juga masuk ke dalam golongan ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Manusia mubah&lt;/i&gt;. Ini adalah jenis manusia yang tidak berguna. Ia tidak suka berbuat keburukan yang meresahkan masyarakat tetapi sikapnya acuh pada lingkungannya sehingga keberadaannya atau ketiadaannya tidak berarti apa-apa bagi orang-orang di sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Manusia sunnah&lt;/i&gt;. Jenis manusia sunnah adalah mereka yang lebih suka melakukan kebaikan-kebaikan sehingga tetangga dan lingkungannya menjadi senang akan keberadaannya. Marilah kita berharap, setidaknya kita dan keluarga kita masuk ke dalam jenis manusia ini.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;Manusia wajib&lt;/i&gt;. &amp;nbsp; Ini adalah jenis manusia ideal.&amp;nbsp; Keberadaanya di masyarakat sungguh-sungguh bermakna. Kontribusi bagi lingkungannya begitu diperlukan sehingga ketiadaannya membuat orang lain betul-betul merasa kehilangan, bahkan kualitas kehidupan terasa berkurang.&amp;nbsp; Begitulah seharusnya prototipe orang-orang yang beriman.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-2191315846982606631?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/2191315846982606631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/manusia-haram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/2191315846982606631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/2191315846982606631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/09/manusia-haram.html' title='Manusia haram'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-4517277853718357745</id><published>2009-08-31T17:33:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T21:22:55.410-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Gelas nan tak retak</title><content type='html'>Bulan ramadhan disebutkan oleh banyak ulama sebagai bulan pendidikan.  Artinya dalam bulan tersebut kita belajar sesuatu, biasanya kita sebut dengan ilmu. Karena tujuan orang berpuasa itu adalah menjadi orang bertaqwa, maka ilmu yang kita pelajari tentu saja ilmu tentang jalan atau cara menuju ketaqwaan.  Karena ketaqwaan itu bukanlah sesuatu yang kuantitatif dan tidak ada batasan kriterianya, maka setiap tahun - siapapun dia - harus mengalami perubahan karena puasanya. Di penghujung Ramadhan tingkat ketaqwaannya harus lebih baik dari sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;Masalahnya, boleh jadi banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapat haus dan dahaga saja.  Itu berarti orang-orang tersebut gagal menggapai tujuan Ramadhan. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah orang-orang tersebut gagal menampung ilmu yang diajarkan dalam puasa Ramadhan.  Terkait dengan hal ini, orang belajar menuntut ilmu bisa diandaikan seperti gelas yang diisi air.  Keadaan gelas itu akan menentukan apakah ia akan terisi penuh atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gelas pecah.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Mengisi air hingga penuh ke dalam gelas pecah/bocor tentu menjadi pekerjaan yang tidak masuk akal (kecuali gelasnya ditambal dulu :P ). Apa lagi jika gelas tersebut bocor atau pecahnya pada bagian bawah, bahkan air tidak mau tinggal dalam gelas tersebut.  Gelas pecah ini ibarat orang yang menuntut ilmu tidak dengan sungguh-sungguh. Gak niat, kata orang Jawa. Keadaan tidak sungguh-sungguh ini berkawan karib dengan kemalasan. Tergantung tingkat kesungguhan orang tersebut, semakin malas ia maka ibarat gelas semakin dekat lubang bocor dengan dasar gelas - alias semakin sedikit ilmu yang bisa dihimpunnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SpxrFQt-wyI/AAAAAAAAAHo/jfF8yTT0gus/s1600-h/gls_pecah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SpxrFQt-wyI/AAAAAAAAAHo/jfF8yTT0gus/s320/gls_pecah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ini adalah gambaran orang yang berpuasa tetapi tidak sungguh-sungguh menjalani dan menyerap pelajaran di dalamnya. Ketika ada kultum, ia sibuk bercakap dengan jamaah di sebelahnya, atau ber sms, atau fesbukan, atau sekedar melamun berhitung kecukupan tabungan plus te ha er untuk mudik.  Begitu pula ketika hati kecil berbisik "eh mendingan kamu tadarus saat menunggu berbuka puasa dari pada ngabuburit", maka pesan nurani ini diabaikannya saja. Juga ketika secara halus hati berbisik untuk memperbanyak sodakoh, kepala berkata "eh nanti dulu, buat mudik belum cukup nee".  Yahh itulah sedikit contoh yang membuat kita mirip dengan gelas pecah. Jadi ilmu yang tersaji selama Ramadhan ini luber kemana-mana, tidak ada yang tinggal dalam hati. Akhirnya, sebelum dan sesudah Ramadhan kita sama saja. Tidak menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gelas terbalik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini keadaan yang lebih parah dari gelas pecah. Bahkan gelas tanpa cacat kalau dipasang terbalik tidak akan dapat menampung air setetespun. Ini adalah ibarat orang-orang yang sombong, yaitu mereka yang merasa dirinya sudah baik dan lebih baik dari orang lain. Mereka ini menolak mentah-mentah nasehat-nasehat dari orang lain karena merasa mereka itu tidak lebih baik dari dirinya. Bagi mereka berlaku, siapa yang bicara - bukan apa yang diucapkan.  Dan sang "siapa" yang paling pintar dan paling benar adalah dirinya sendiri.  Mereka ini yang dicap di dalam Al Qur'an: golongan yang sama saja engkau beri nasehat atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Sp3SArgVvHI/AAAAAAAAAIA/6RaXBxYnzmo/s1600-h/gls_terbalik.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Sp3SArgVvHI/AAAAAAAAAIA/6RaXBxYnzmo/s320/gls_terbalik.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, sebagian dari golongan gelas terbalik adalah mereka yang merasa telah berilmu. Karenanya mereka pikir tidak perlu lagi menerima nasihat orang lain. Dalam kelompok ini juga termasuk orang-orang yang mengangkat dirinya sendiri (dengan persangkaannya sendiri) bahwa mereka lebih baik dari orang lain karena status sosialnya, atau hartanya.  Secara umum orang-orang yang sombong adalah orang yang tidak mau menerima kebenaran di dalam hatinya. Jadi jangan harap dengan bekal kesombongan kita akan sukses meraih tujuan puasa Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gelas utuh dan terbuka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SpxrYbd0BGI/AAAAAAAAAH4/VRVPhb5by8Y/s1600-h/gls_utuh2a.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SpxrYbd0BGI/AAAAAAAAAH4/VRVPhb5by8Y/s320/gls_utuh2a.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Inilah kedaan yang ideal. Pada saat puasa Ramadhan (atau dalam kondisi apapun - termasuk di luar Ramadhan), kita menuntut ilmu dengan kesungguhan dan kerendahan hati.  Belajar sungguh-sungguh ibarat gelas yang utuh, dan kerendahan hati ibarat gelas yang duduk dengan mulutnya di atas - siap menampung air yang dicurahkan. Dua hal ini sekaligus juga menjadi indikator apakah kita sukses berpuasa atau tidak. Bila setelah Ramadhan ini kita menjadi orang yang semakin bersungguh-sungguh menjalankan semua ibadah dan lebih rendah hati dalam bergaul dengan sesama, maka itu menggambarkan pada saat puasa kita telah terlatih menggunakan keduanya untuk menimba ilmu puasa ramadhan.  Semoga kita termasuk orang-orang yang bersungguh-sungguh dan rendah hati. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-4517277853718357745?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/4517277853718357745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/gelas-nan-tak-retak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4517277853718357745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4517277853718357745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/gelas-nan-tak-retak.html' title='Gelas nan tak retak'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SpxrFQt-wyI/AAAAAAAAAHo/jfF8yTT0gus/s72-c/gls_pecah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-700097343742159273</id><published>2009-08-30T20:50:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T20:56:40.890-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>I love this game</title><content type='html'>Life is a game.  Yes it is ... It is writen in part of verse 20th of Surah Al Hadid of Holy Quran.&amp;nbsp; The great thing is that the statement commented more than thousand years ago exactly actualized by today's games.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;All games can be characterized by: &lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;The goal. All games have clearly defined goal to be completed by the players.  Similarly, life has its goal which is clearly stated in Holy Qur'an - to pray Allah.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;The rule. Every game has predefined rules so it can be played by people who understand the rules.  Life also needs rules so people can live together in harmony.  The rules also needed for people to get their life's goals.  Holy Qur'an an Al Hadith explain the ultimate rules of life so they can reach their ultimate goal: meet Allah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;The power.&amp;nbsp; You will not winning the game if you have no skill to play and no spirit to energize your muscle and mind or to speed up your movement.&amp;nbsp; Powerless will never be a winner. This is exactly we should have with our life. We've to be a skillful person to reach the ultimate goal of life - that's why the Prophet Muhammed p.b.u.h. taught us how to life and how to pray.&amp;nbsp; We need also to energize our life with iman and taqwa by which we will do everything enjoyable nevertheless the result.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;The Competitor.&amp;nbsp; Whatever the games played, player(s) has(ve) competitor(s). Even a single player game has her/his competitor. The standard a player has to pass play as a competitor as it defines whether a player is a winner or a looser.&amp;nbsp; Life does the same thing. The desire may be the most difficult competitor to beat. It means that the most powerful competitor stays inside ourselves. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Stages. Modern games introduce double score stages. Amazingly, Islam has introduced this concept thousand years ago. Ramadhan fasting is a doubling reward stage within a moslem life. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&amp;nbsp;Life is a game. As any other games that will be ended after it was started, life will also be ended. Game will be over at the time you die. You may be a winner or a looser at that time. If you want to be a winner in your life game, you need to:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Understand your life's goal clearly, and keep stay on track during your life.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Refer to Qur'an and Hadith to understand the rule of life.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Beat and manage your desire in a good manner as demonstrated by Mohammed p.b.u.h.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Use every chance to get double reward effectively.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-700097343742159273?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/700097343742159273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/i-love-this-game.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/700097343742159273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/700097343742159273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/i-love-this-game.html' title='I love this game'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-4027071749789193732</id><published>2009-08-26T18:58:00.000-07:00</published><updated>2009-08-27T00:31:02.116-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Kepastian</title><content type='html'>Jangan mengejar burung gelatik yang terbang di langit lantas burung merpati di tangan dilepaskan.  Begitulah nasihat ibu saya ketika saya meminta pertimbangannya saat mau berhenti bekerja dari sebuah pabrik gula - pekerjaan yang saya jalani selama 2 tahun selepas SLTA.  Inti dari nasihat itu adalah agar saya berhati-hati untuk tidak menukar kepastian dengan suatu ketidakpastian.  Karena kepastian itu lebih &lt;font style="font-style: italic;"&gt;safe&lt;/font&gt; dan   &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; karena ketidakpastian itu memuat resiko lebih besar.   Bagi seorang penganut paham &lt;font style="font-style: italic;"&gt;safety first&lt;/font&gt;, nasihat itu adalah ajaran utama. Tidak masuk akal bagi seseorang untuk mengabaikan sesuatu yang sudah pasti dengan mengejar-ngejar yang tidak pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpastian tidak saja mengandung resiko, tetapi juga bisa memberi tekanan psikologis. Bisa bikin gelisah, bikin sakit hati sampai bikin stress.  Tapi, anehnya justru kebanyakan orang mengabaikan nasihat penting tersebut.  Bukannya memegang yang sudah pasti, justru mengejar-ngejar yang tidak pasti.  Bila kita belajar keras untuk mencapai prestasi akademik, maka ketercapaiannya adalah ketidakpastian.  Bila kita sibuk bekerja mengumpulkan harta untuk mendapatkan kebahagiaan, maka belum pasti bahwa kesibukan kita tersebut.  Pada prinsipnya semua urusan dunia ini tidak pasti, dan mengejar-ngejar urusan duniawi itu berarti mengejar ketidakpastian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena mengejar urusan-urusan yang tidak pasti tersebut, banyak orang yang mengabaikan urusan yang telah pasti.  Satu kepastian yang akan terjadi pada setiap orang adalah MATI. Senang tidak senang, disiapkan atau tidak, kematian akan mendatangi setiap orang. Itulah kepastian yang telah jelas.  Meski demikian, sayang sekali kita banyak mengabaikan kepastian ini.  Ketika mengejar tujuan-tujuan duniawi, kita begitu khusyu - bersungguh-sungguh untuk mencapainya.  Tetapi ketika melakukan hal-hal yang terkait dengan persiapan kematian kita tidak sungguh-sungguh.  Jika demikian, betul-betul kita ibarat orang mengejar burung gelatik yang sedang terbang dan melepaskan burung merpati yang ada di tangan.  Bisa jadi, karena ketidakpastiannya, tujuan dunia tidak dapat dan tidak juga memiliki persiapan untuk mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman yang pengusaha menanyakan, bukankah keberanian mengambil resiko itu modal dasar seorang wirausahawan?  Saya tidak menyangkal hal tersebut.  Akan tetapi saya justru balik bertanya, apakah seorang karyawan sudah memiliki kepastian akan mencapai tujuan-tujuan hidupnya? Adakah kepastian ia akan terus bekerja di tempatnya bekerja hingga waktu yang diinginkannya? Bagaimana kalau perusahaanya bangkrut? atau jika ada hal-hal khusus yang memaksa perusahaan melepaskannya? Bahkan bagi seorang pegawai negeripun tidak ada kepastian bahwa ia akan terus menjadi PNS seperti yang diinginkannya. Banyak juga kasus PNS yang diberhentikan, malah dengan tidak hormat.  Sebaliknya, para pengusaha justru memiliki tingkat kepastian akan keberhasilan yang lebih tinggi untuk menggapai tujuan-tujuan duniawinya.  Coba dicek, lebih banyak mana pengusaha kaya atau karyawan kaya? (jika kaya merupakan tujuan duniawi) Kalo karyawan khan tingkat kepastian "tidak lebih kaya dari pengusaha" yang lebih tinggi. :-P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman yang agaknya mau putus asa mempertanyakan: Jadi, kalau begitu lebih baik tiap hari di masjid saja, tidak usah kemana-mana? Wah, itu namanya bunuh diri! Kalau di masjid terus, siapa yang harus kasih makan - apa lagi kalau semua orang melakukan hal yang sama! Biarlah dunia berjalan sebagaimana seharusnya. Yang penting adalah bahwa semua yang kita lakukan tujuannya adalah mempersiapkan diri menghadapi situasi setelah kematian.  Persiapan itu bukan berarti harus selalu di masjid.  Bekerja keras dan sungguh-sungguh bahkan sangat perlu. Hanya niatnya bukan mau menumpuk-numpuk harta dan berbangga-bangga, tetapi sebagai bentuk ibadah. Itu adalah amal sholeh, jadi memang harus khusyu dan sungguh-sungguh melakukannya.  Akan rugilah kita kalau niatan bekerja bukan sebagai ibadah, karena hasilnya belum pasti.  Akan tetapi kalau niatnya adalah ibadah, maka itu telah menjadi persiapan kita menghadapi suatu kepastian: MATI. Jadi benar jualah apa yang diungkapkan dalam surat Al Asr, semua orang pasti rugi kecuali orang yang beriman, beramal soleh, dan saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-4027071749789193732?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/4027071749789193732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/kepastian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4027071749789193732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4027071749789193732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/kepastian.html' title='Kepastian'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-7619900307731724536</id><published>2009-08-23T16:02:00.000-07:00</published><updated>2009-08-23T18:11:02.014-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Belajar pelit</title><content type='html'>Belajar pelit? di bulan Ramadhan? Ah... masa iya, kan pelit itu sudah menjadi watak kita sehari-hari [ :( ], apa harus belajar lebih pelit lagi? Tapi begitulah. Kenyataannya saya sedang belajar menjadi pelit, dan lebih pelit lagi. Justru di bulan Ramadhan ini saya harus belajar keras untuk lebih pelit.  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; Dan ternyata, 3 hari puasa ini harus menyadarkan saya bahwa itu hanya mudah teorinya - praktiknya, wuahh mungkin saya nggak melewati kriteria ketuntasan minimal. (Jangan menyangka saya riya dengan pernyataan ini, karena hal ini sungguh menyedihkan saya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya maksud pelit di sini adalah pelit dalam urusan waktu.  Kalau urusan harta memang dilarang pelit. Sebaliknya urusan waktu kita harus pelit, jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu sedetikpun tanpa kita mendapatkan manfaatnya. Karena sang waktu yang telah lewat tak kan pernah kembali lagi. Dalam urusan waktu kita tidak boleh bersikap royal, menghamburkannya untuk hal-hal yang GJ (baca Gak jelas, :P), tidak bermanfaat, dan sia-sia. Bila ada orang yang meminta waktu kita untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna, minta maaf sajalah tidak bisa memberikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pelajaran dan motivasi telah disampaikan kepada kita tentang bagaimana seharusnya mengelola waktu. Ada petunjuk dari Nabi tentang &lt;a href="http://bismillahhirohmanirrohim.blogspot.com/2009/04/5-kesempatan-sebelum-5-kesempitan.html"&gt;5 kesempatan sebelum datangnya 5 kesempitan&lt;/a&gt; atau pengibaratan waktu dengan pedang.  Tapi... yahh begitulah. Dasar saya ini dhoif, petunjuk-petunjuk yang kelihatannya mudah saja itu nggak sukses juga diterapkan.  (Mudah-mudahan Allah Ta'ala menolong saya di sisa waktu hidup saya - Amien!). Jadi... yah saya masih harus belajar lebih banyak lagi untuk bisa menggunakan waktu seluruhnya untuk pencapaian &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;the ultimate goal of my life&lt;/span&gt;. Semoga sisa hari-hari Ramadhan ini memberi kesempatan untuk itu. Amien. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-7619900307731724536?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/7619900307731724536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/belajar-pelit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7619900307731724536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7619900307731724536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/belajar-pelit.html' title='Belajar pelit'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-7762095350702033347</id><published>2009-08-22T07:04:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T23:40:34.416-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Mata memang (bisa) menipu</title><content type='html'>Mata sungguh merupakan karunia Allah yang luar biasa. Dengannya kita bisa mengenali dunia sekitar kita dengan baik. Dengannya kita mengenal keindahan berbagai ciptaan-Nya. Dengannya kita bisa menghindari bahaya yang mengancam kita. Dengannya kita bisa membangun kesadaran manusiawi tentang kebesaran Sang Pencipta. Tapi sadarkah kita bahwa mata juga (bisa) menipu kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita berdiri di atas rel (atau berdiri di gerbong paling belakang dari KA, seperti saat mengambil gambar berikut), maka pandangan kita memperlihatkan bahwa semakin jauh rel terlihat semakin menyempit sehingga seolah (akan) bersatu pada satu titik.  Beranikah kita menarik kesimpulan dari pandangan mata ini? Bahwa rel kereta api semakin menyempit dan bertemu pada suatu titik tertentu?  Dari pengalaman naik kereta api, belum pernah ada orang yang menemukan sepasang rel yang bersatu di ujungnya.  Jadi, apa yang terlihat itu bukanlah yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SpB9XVJfZjI/AAAAAAAAAHg/ynXYtNBjm8Y/s1600-h/rel_1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 277px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SpB9XVJfZjI/AAAAAAAAAHg/ynXYtNBjm8Y/s400/rel_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372932195220416050" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yang kita lihat bukanlah yang sebenarnya? Yah... kenyataannya begitulah.  Daun yang terlihat hijau oleh mata kita sesungguhnya tidaklah demikian. Kalaupun terlihat hijau, itu karena reseptor pada mata kita hanya mampu menangkap gelombang elektromagnetik pada kisaran cahaya tampak.  Kisaran cahaya tampak pada gelombang EM itu sungguh sangat tipis, hanya berkisar antara 400 hingga 700 nm (lihat di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Electromagnetic_spectrum"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;).  Seandainya (sekali lagi seandainya saja) mata kita bisa menangkap kisaran panjang gelombang EM infra merah, maka daun tidak lagi berwarna hijau.  Itu karena reflektan kisaran warna hijau jumlahnya hanya sedikit bila dibandingkan dengan infra merah.  Bahkan, tanpa cahaya daun tidak akan terlihat warna hijau.  Ia hanyalah sesuatu yang hitam saja, bahkan bentuknya tak dapat kita ketahui.  Jadi apa warna daun sesungguhnya? Kita tidak pernah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kalau kita melihat matahari terbit dan terbenam. Mata kita menyaksikan bahwa matahari terbit dari timur lalu naik dan terbenam di ufuk barat.  Bila kita saksikan lagi hal itu esok hari, maka pandangan mata kita mengungkapkan bahwa matahari telah bergerak mengitari bumi.  Demikianlah yang diyakini orang-orang jaman dulu ketika teori geocentris masih menjadi mainstream. Akan tetapi saat ini... masih adakah orang yang cukup terpelajar yang berani menyatakan bahwa matahari telah mengelilingi bumi? Rasanya tidak satupun akan kita temukan. Rupanya mereka sudah mahfum, yang terlihat mata bukanlah yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ternyata keyakinan berlebihan terhadap penglihatan oleh mata ini - bahwa apa saja yang terlihat oleh mata, itulah kebenaran - begitu kuat mencekam diri kita dalam keseharian.  Visual sekilas yang terrekam oleh mata kita sering menggoyahkan hati dan pikiran kita.  Pada hati yang lemah, hal tersebut bahkan sering mampu membangun purbawasangka - su'udzon.  Menggunakan hasil pandangan mata untuk menilai sesuatu yang tidak terjangkau oleh mata itu sendiri.  Maka, sangat bijaksanalah orang kalau ia menyadari bahwa mata bisa menjadi satu dari titik lemahnya selain mensyukuri nikmat akan manfaat yang diberikan Allah melalui mata kita.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-7762095350702033347?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/7762095350702033347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/mata-memang-bisa-menipu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7762095350702033347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7762095350702033347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/mata-memang-bisa-menipu.html' title='Mata memang (bisa) menipu'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SpB9XVJfZjI/AAAAAAAAAHg/ynXYtNBjm8Y/s72-c/rel_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-2982193212679084286</id><published>2009-08-21T17:04:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T06:44:06.262-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Jaranan Buto</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/So-E36sLb4I/AAAAAAAAAHI/1GAu4-hnWjM/s400/jb3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 268px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/So-E36sLb4I/AAAAAAAAAHI/1GAu4-hnWjM/s400/jb3.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 17 Agustus kemarin saya sedang dalam perjalanan di Banyuwangi. Nuansa perayaan kemerdekaan terasa sampai ke ujung-ujung pelosok kabupaten ini. Salah satu yang menarik adalah pagelaran kesenian Jaranan Buto. Rupanya kesenian jaranan (atau kudalumping) yang begitu terkenal di tanah Jawa ini telah mengalami evolusi yang cukup signifikan. Seni jaranan buto ini merupakan wujud evolusi mutakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaranan buto secara harfiah berarti "kuda lumping raksasa". Mungkin ini muncul karena daerah Banyuwangi terkenal dengan legenda Menak Jinggo, seorang raja kerajaan Blambangan yang dilukiskan sebagai seorang "buto" atau raksasa. Sesuai dengan namanya, para pemain kesenian ini berperawakan besar dengan kostum buto. Gerakan-gerakan tarinya juga mengekspresikan ke-raksasa-an. Tegap, berani, dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evolusi paling signifikan dari seni ini adalah ekspresi seni itu sendiri yang lebih kuat. "Hampir" tidak ada unsur magic yang terlibat. Saya memang tidak melihat kehadiran unsur-unsur magic, dan begitulah yang saya dengar dari salah satu penonton lokal yang menginformasikan bahwa tidak ada yang kalap-kalapan. Saya tulis "hampir" karena saya tidak menonton hingga tuntas dan terus terang saja belum yakin benar memang tidak akan ada yang kalap (intrance).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/So_AtNH9dyI/AAAAAAAAAHQ/ez8xaALNnXM/s400/jb4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 286px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/So_AtNH9dyI/AAAAAAAAAHQ/ez8xaALNnXM/s400/jb4.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih menekankan pada sisi seninya, maka pagelaran yang dihelat di halaman rumah warga ini memasang panggung tempat para "pemusik" (sengaja tidak pakai pemain gamelan karena sudah ada unsur-unsur musik modernnya) dan menyertakan penyanyi sinden. Irama musiknya masih kental irama jaranan, akan tetapi karena telah ada sinden maka musik tersebut sekaligus sebagai pengiring lagu. Para penari jaranannya sendiri tampil di bawah, di halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/So_yOUrsNDI/AAAAAAAAAHY/dfsqeHNrSK0/s400/jb1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 268px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/So_yOUrsNDI/AAAAAAAAAHY/dfsqeHNrSK0/s400/jb1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-2982193212679084286?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/2982193212679084286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/jaranan-buto.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/2982193212679084286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/2982193212679084286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/jaranan-buto.html' title='Jaranan Buto'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/So-E36sLb4I/AAAAAAAAAHI/1GAu4-hnWjM/s72-c/jb3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-5285674280016502730</id><published>2009-08-21T00:40:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T16:47:07.545-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Puasa Binatang</title><content type='html'>Selidik punya selidik, ternyata yang berpuasa itu bukan hanya manusia.  Banyak binatang juga berpuasa. Buaya, ular, ayam, dan ulat adalah beberapa di antaranya. Menarik untuk menyimak dan mengambil hikmah dari puasa binatang-binatang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Puasa Ular&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ular termasuk binatang yang melakukan puasa.  Puasa ular dimulai ketika dia melakukan "sahur" - makan mangsanya.  Setelah mendapatkan mangsanya biasanya ular tidak melakukan aktifitas apa-apa. Mencari tempat bersembunyi, lalu diam saja.  (Mungkin dia tafakur ya?).  Pada saat berpuasa begini biasanya ular menjadi "penyabar", tidak mudah marah oleh godaan atau gangguan kecil. Jadi, ular pada saat puasa menjadi berkurang galak dan ganasnya.  Lalu, ular berganti kulit dan mengakhiri puasanya.  Hikmah: setelah berpuasa ular tetaplah ular.  Ia tidak mengalami perubahan fundamental pada sifat dan karakternya.  Mungkin ia menjadi lebih penyabar saat berpuasa, tetapi setelah selesai masa puasanya ia kembali ular sebagaimana lazimnya.  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bila dalam puasa kali ini kita hanya baik saat bulan Ramadhan tetapi tidak mampu mempertahankannya setelah Ramadhan usai maka puasa kita adalah tipe puasa ular&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Puasa Ayam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ayam juga melakukan puasa, yaitu ketika ia harus mengeram telurnya.  Ia tidak makan tidak minum selama mengeram tersebut. Bahkan ia tidak beranjak dari tempatnya sama sekali. Begitulah cara ayam berpuasa.  Pelajaran apa yang bisa kita ambil?  Sebagaimana ular, sebelum dan sesudah berpuasa ayam tetaplah ayam. Ia tidak mengalami perubahan.  Justru obyek lain yang berubah, sang telur berubah menjadi anak ayam.  Bisa jadi puasa kita mirip dengan puasa ayam.  Karena kita tidak sungguh-sungguh berpuasa dan atau karena puasa kita karena pamrih duniawi, maka tidak terjadi perubahan besar dalam diri kita. Meskipun mungkin, karena melihat kita berpuasa orang lain di sekitar kita menjadi segan melakukan "ketidak-baikan". Jadi, kita sendiri tidak mengalami perubahan, justru orang lain yang berubah karenanya.  Bila demikian yang kita jalani maka puasa kita adalah puasa tipe ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Puasa Ulat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ulat memang menjijikkan, begitulah umumnya kita melihat binatang ini. Keberadaannya membuat kita tidak merasa nyaman. Tidak itu saja, ulat juga menjengkelkan karena dimanapun dia berada selalu membuat kerusakan.  Bila dia tinggal di daun, rusaklah daun itu. Bila ia tinggal di buah, rusaklah buah itu. Bila ia tinggal di batang, rusaklah batang itu. Bila ia tinggal di akar, rusaklah akar itu. Pokoknya, dimanapun dia berada kerusakanlah yang dia perbuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naudzubillah min dzalik. Semoga kita tidak memiliki sifat-sifat yang demikian ini. Keberadaan kita tidak disukai orang lain dan atau menyebabkan kerusakan. Untuk itu kita perlu selalu melakukan introspeksi diri. Jangan-jangan keberadaan kita selalu menimbulkan kerusakan. Misalnya dalam bergaul sering kita menginisiasi ghibah, membicarakan kejelekan orang lain. Maka dalam hal ini kita telah mengajak partner bicara kita melakukan perbuatan yang dimurkai Allah. Artinya keberadaan kita membuat dia rusak. Atau cewek dengan pakaian yang mengundang, maka bila karenanya ada cowok-cowok yang "terganggu" berarti sang cewek tersebut telah meninggalkan kerusakan.  Bahkan mungkin saja kerusakan itu kita perbuat atas nama cinta. Kita mencintai lawan jenis kita, mengundangnya membalas cinta kita, lalu terlanggarlah norma-norma, maka berarti cinta kita telah membuatnya rusak. Atau kita terlalu mencintai anak kita, lalu bersikap sangat permisif, sehingga anak kita melabrak batasan dan perintah Allah, maka berarti dengan cinta kita telah membuat kerusakan pada anak kita. Naudzubillah tsuma naudzubillah min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasanya ulat adalah kodratnya yang melakukan metamorphosis.  Melakukan perubahan fundamental atas dirinya secara keseluruhan. Dan itu dilakukannya dengan cara berpuasa. Subhanallah. Setelah berpuasa yang kita kenal sebagai fase kepompong, secara keseluruhan ulat mengalami perubahan. Perubahan pertama adalah fisiknya. Sebelum berpuasa ia adalah binatang menjijikkan, namun setelah berpuasa ia menjadi binatang yang menyenangkan - kupu-kupu yang indah. Keindahan kupu-kupu mampu mengundang decak kagum manusia sehingga membangkitkan rasa dan karsa keindahan dalam dirinya. Lahir banyak karya sastra yang menggambarkan keindahan kupu-kupu. Keberadaan kupu-kupu itu sendiri telah mendatangkan kebaikan. Perubahan kedua adalah perilakunya. Bila sebelumnya tindakannya selalu menimbulkan kerusakan, setelah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu kemanapun dia pergi selalu melakukan kebaikan. Ketika ia hingga di bunga, bunga mendapatkan manfaat dari bantuannya melakukan penyerbukan. Setidaknya, keberadaannya tidak menimbulkan kerusakan. Di manapun dia hinggap, tidak sampai terjadi kerusakan. Bahkan ia menjadi perhiasan di tempat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah tipe puasa ulat.  Puasa yang dilakukan ulat bersifat totalitas. Pada dasarnya perubahan itu membuat dirinya lebih baik dan perilakunya juga lebih baik. Sungguh puasa Ramadhan adalah karunia Allah yang luar biasa.  Karena kewajiban puasa itu dapat menjadi alat bagi kita melakukan transformasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hawa nafsu membuat kita berprasangka bahwa diri kita telah baik dan melakukan kebaikan. Hawa nafsu sering membuat kita terlena sehingga melupakan kebutuhan transformasi diri tersebut. Karenanya, sungguh kita patut bersyukur karena diberi kewajiban ini. Dan ulat dapat menjadi teladan bagi kita untuk melaksanakan puasa sebaik-baiknya. Ia adalah kalam Allah yang terdapat di alam ini. Semoga Allah menjadikan puasa Ramadhan kita ini seperti puasanya ulat yang sukses melakukan transformasi diri. Amien.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-5285674280016502730?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/5285674280016502730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/puasa-binatang.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/5285674280016502730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/5285674280016502730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/puasa-binatang.html' title='Puasa Binatang'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-9188670998865733330</id><published>2009-08-12T01:08:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T20:49:08.974-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Colorful Memories</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SoLn1ax5NCI/AAAAAAAAAGg/WMoNoNZoWFQ/s1600-h/anvilmorning_1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SoLn1ax5NCI/AAAAAAAAAGg/WMoNoNZoWFQ/s400/anvilmorning_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369108610686727202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;The last two months, there was a different color in my family.  We have two "temporary" family members.  Yeah... they lived temporarily in my home, but I sure that they will never leave our heart.  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;They're special members of my family: Mao Xueren (we call her Morning) and Hu Chunrong (we call her Anvil Hu).  They both are Chinese who participating in international students exchange.  Morning is a student of Shanghai University while Anvil is a student of Nanjing University. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My son and my daughter were so excited when they heard from their ma that we will be a host family for two Chinese students.  And, I could feel my child's hapiness when finally they're coming.  Yap... we have a colorful family.  Their coming has changed our live color.  We are different skin color, different mother language, different value, different attitude, and we love each other.  Yes, our family becomes colorful and we're happy with these new color.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anvil and Morning, your coming has changed the color.  Because of you, all of people living in my house have to speak in English.  Even my wife who can not speak English at all.  I've to use my bad English, my son and my daughter also.  You help my children learn and improve their English.  This is my first posting in English, and ... the reason is you. Thanks to you.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SoLzixAkH6I/AAAAAAAAAGo/8fWPQOukhGk/s1600-h/anvilmorning_2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 342px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SoLzixAkH6I/AAAAAAAAAGo/8fWPQOukhGk/s400/anvilmorning_2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369121484375859106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your coming also help &lt;s&gt;my wife and me&lt;/s&gt; us to educate &lt;s&gt;my&lt;/s&gt; our children how to respect and love others.  Whatever your belief, whatever your background ... we all respect you.  No matter where you come from, no matter how difference between us ... we all love you. And, I wish wherever we are ... we still a family unified with love.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, whenever the meeting happen ... the parting will be the next.  So, let me modify part of Hoobastank song to express our feeling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The Reason" (from Hoobastank)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;s&gt;I'm&lt;/s&gt; We're not &lt;s&gt;a&lt;/s&gt; perfect persons&lt;br /&gt;There's many things &lt;s&gt;I&lt;/s&gt; We wish &lt;s&gt;I&lt;/s&gt; we didn't do&lt;br /&gt;But &lt;s&gt;I&lt;/s&gt; we continue learning&lt;br /&gt;&lt;s&gt;I&lt;/s&gt; We never meant to do those things to you&lt;br /&gt;And so &lt;s&gt;I&lt;/s&gt; we have to say before &lt;s&gt;I&lt;/s&gt; you go&lt;br /&gt;That &lt;s&gt;I&lt;/s&gt; we just want you to know&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;s&gt;I&lt;/s&gt; We've found out a reason for &lt;s&gt;me&lt;/s&gt; us&lt;br /&gt;To change who &lt;s&gt;I&lt;/s&gt; we used to be&lt;br /&gt;A reason to start over new&lt;br /&gt;and the reason is you&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thanks God for this everything is happen.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-9188670998865733330?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/9188670998865733330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/colorful-memories.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/9188670998865733330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/9188670998865733330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/colorful-memories.html' title='Colorful Memories'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SoLn1ax5NCI/AAAAAAAAAGg/WMoNoNZoWFQ/s72-c/anvilmorning_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-1252035080436455475</id><published>2009-08-09T16:57:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T20:50:08.503-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Silabi Ceramah Ramadhan</title><content type='html'>Setiap kali menjelang ramadhan kita selalu disibukkan menyiapkan silabi untuk ceramah-ceramah Ramadhan.  Mungkin, topik-topik di masjid tempat saya aktif bisa berguna bagi teman lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEMA:&lt;br /&gt;PUASA RAMADHAN UNTUK MEMBANGUN KEMASHLAHATAN SOSIAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Umum:&lt;br /&gt;Rancangan topik-topik ceramah Rameadhan ini adalah membantu jamaah agar sukses berpuasa ramadhan dan diharapkan setelah menyelesaikan mengikuti ceramah-ceramah Ramadhan jamaah dapat:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memahami bagaimana ibadah khos harus terefleksi dalam kehidupan sehari-hari (ibadah ‘amm).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengetahui perwujudan ibadah dalam kehidupan sehari-hari yang akan membawa pada kemashlahatan bersama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan refleksi diri secara luas sehingga mampu mengekspresikan seluruh kegiatan kesehariannya sebagai ibadah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melihat secara lebih mendalam pengaruh tindakan keseharian individu dan keluarga terhadap kemashlahatan bersama.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table class="MsoNormalTable" style="width: 438.15pt; margin-left: -0.75pt; border-collapse: collapse;" width="584" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 12.75pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="bottom"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Tanggal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 12.75pt;" width="234" nowrap="nowrap" valign="bottom"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Topik   Ceramah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 12.75pt;" width="288" nowrap="nowrap" valign="bottom"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keterangan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 12.75pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 12.75pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Amanah   Rasul pada menyambut bulan Ramadhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 12.75pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Membahas   tentang intisari khutbah rasul menjelang ramadhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 25.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 25.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;2&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 25.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Puasa untuk membangun pribadi muslim menuju   insan kamil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 25.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Bagaimana sifat-sifat insan kamil serta   pelajaran-pelajaran apa dari puasa Ramadhan yang menuju sifat-sifat tersebut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 25.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 25.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;3&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 25.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Puasa dan peningkatan hubungan vertikal (habluminallah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 25.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Membahas tentang bagaimana caranya agar puasa   ramadhan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkau kualitas dan kuantitas ibadah   khos&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 38.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 38.25pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;4&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 38.25pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Puasa   Ramadhan dan peningkatan hubungan horizontal (habluminannas)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 38.25pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Membahas   tentang bagaimana caranya agar puasa ramadhan dapat dimanfaatkan untuk   meningkatkau kualitas dan kuantitas ibadah 'amah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 51pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 51pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;5&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 51pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Puasa untuk peningkatan kualitas keimanan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 51pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Bagaimana puasa ramadhan dapat dimanfaatkan   sebagai sarana peningkatan kualitas keimanan seseorang - yang dapat tercermin   dari kemaslahatan sosial yang muncul atas tercapainya peningkatan iman   tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 12.75pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;6&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 12.75pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Hikmah   Puasa Ramadhan untuk membangun etos kerja yang islami&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 12.75pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 63.75pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 63.75pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 63.75pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Bekerja   (dan belajar bagi siswa) sebagai suatu ibadah, amanah, dan rahmat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 63.75pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Bekerja   adalah ibadah, amanah, sekaligus rahmad - karena itu juga harus dikerjakan   dengan kualitas sebagaimana ibadah maghdhoh.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Begitu juga belajar bagi para siswa.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Bagaimana menyerap kualitas puasa Ramadhan untuk diterapkan dalam   bekerja dan belajar sehari-hari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 25.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 25.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;8&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 25.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Hikmah   dan semangat Ramadhan untuk pembentukan keluarga sakinah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 25.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Bagaimana   nilai-nilai dan semangat puasa Ramadhan yang dapat menjadi pondasi bagi   pembinaan keluarga sakinah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 38.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 38.25pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;9&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 38.25pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Menanamkan nilai-nilai dan semangat puasa   Ramadhan dalam keluarga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 38.25pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Bagaimana cara atau pendekatan untuk   menanamkan nilai dan semangat puasa Ramadhan dalam pembentukan keluarga   sakinah: hubungan suami-istri, orangtua-anak, dan antar saudara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 38.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 38.25pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;10&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 38.25pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Membangun   teladan puasa Ramadhan (yang khusyu') dalam keluarga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 38.25pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Bagaimana   agar dalam berpuasa Ramadhan orang tua dapat menjadi tauladan yang efektif   dalam pembinaan keimanan dan tauhid anggota keluarganya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 38.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 38.25pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;11&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 38.25pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Menerapkan hikmah puasa dalam hidup   sehari-hari, sepanjang tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 38.25pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Bagaimana agar keluarga tetap mampu istiqomah   menerapkan nilai-nilai dan semangat puasa Ramadhan sepanjang hari, sepanjang   tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 25.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 25.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;12&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 25.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Adab   hidup bertentangga yang madaniyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 25.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Pemahaman   tentang kehidupan madaniyah dan nilai-nilai Islam secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;umum untuk membina kehidupan bertetangga   yang madaniyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 38.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 38.25pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;13&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 38.25pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Menerapkan   nilai-nilai puasa Ramadhan untuk membangun kehidupan bertetangga yang madani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 38.25pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Bagaimana   cara dan pendekatan yang efektif untuk menerapkan nilai-nilai dan semangat   puasa Ramadhan dan Islam secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;umum   untuk membina kehidupan bertetangga yang madaniyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 38.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 38.25pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;14&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 38.25pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Adab   hidup bermasyarakat yang madaniyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 38.25pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Pemahaman   tentang kehidupan madaniyah dan nilai-nilai Islam secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;umum untuk membina kehidupan bermasyarakat   luas yang madaniyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 38.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 38.25pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;15&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 38.25pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Hikmah dan semangat Ramadhan dalam   hubungannya dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 38.25pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Bagaimana umat Islam harus menghargai dan   menerapkan nilai dan norma yang telah berlaku di masyarakat modern, baik di   lingkungan sempit, masyarakat luas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 38.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 38.25pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;16&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 38.25pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Hikmah dan semangat Ramadhan dalam   hubungannya dengan kehidupan berbangsan dan bernegara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 38.25pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Bagaimana umat Islam harus menghargai dan   menerapkan nilai dan norma yang telah berlaku serta menjadi kesepakatan   bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 25.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 25.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;17&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 25.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Rahmad   Allah SWT. Melalui turunnya Al Quran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 25.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Membahas   tentang fakta-fakta modern tentang kebenaran Al quran yang membuktikan   besarnya rahmad Allah SWT kepada manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 12.75pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;18&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 12.75pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Islam dan   pemeliharaan kelestarian lingkungan hidup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 12.75pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Ajaran-ajaran   Islam untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 51pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 51pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;19&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 51pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Hubungan perilaku individu dan keluarga   dengan pemanasan global&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 51pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Banyak perilaku keseharian umat islam yang   tidak mempedulikan dampaknya terhadap pemanasan global.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Topik ini membahas apa saja hal tersebut,   bagaimana pengaruhnya terhadap kerusakan lingkungan, pilihan tindakan apa   yang dapat diambil sebagai alternatif?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 63.75pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 63.75pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;20&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 63.75pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Hubungan perilaku individu dan keluarga   dengan kerusakan linkungan air dan tanah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 63.75pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Banyak perilaku keseharian umat islam yang   tidak mempedulikan dampaknya terhadap kerusakan lingkugan air dan tanah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Topik ini membahas apa saja hal tersebut,   bagaimana pengaruhnya terhadap kerusakan lingkungan, pilihan tindakan apa   yang dapat diambil sebagai alternatif?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 76.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 76.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;21&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 76.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Hubungan perilaku individu dan keluarga   dengan permasalahan sampah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 76.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Sampah bukanlah "dibuang", tapi   hanya "dipindahkan". &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Sehingga, membuang sampah hanyalah memindahkan masalah ke   tempat lain atau ke orang lain.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Bagaimana latihan pengelolaan hawa nafsu di bulan Ramadhan ini dapat   meminimalisir kerusakan lingkungan karena sampah dan mengurangi tindakan   dzalim melalui pembuangan sampah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 25.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 25.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;22&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 25.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Menyongsong   Lailatul Qodr&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 25.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Bagaimana   caranya kita agar dapat memperoleh karuniaNya dalam malam Lailatul Qodr&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 51pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 51pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;23&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 51pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Permasalahan ekonomi umat Islam saat ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 51pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Salah satu kendala dalam membangun   kemashlahatan sosial adalah kemiskinan dan keterbatasan ekonomi umat,   lemahnya penguasaan sumberdaya ekonomi, dan ketidak-mandirian (ketergantungan   umat terhadap kekuatan eksternal)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 76.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 76.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;24&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 76.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Hiikmah dan semangat puasa Ramadhan untuk   pembangunan ekonomi umat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 76.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Puasa mendidik orang untuk lebih menahan   nafsunya dan menggunakan akal dengan lebih baik sehingga lebih bijak, tetapi   faktanya justru pada bulan Ramadhan inflasi naik pesat yang didorong oleh   belanja konsumtif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagaimana caranya   agar pendidikan menahan hawa nafsu di bulan ini bisa mewujudkan   tindakan-tindakan ekonomi yang lebih produktif dan menyejahterakan umat?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 89.25pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 89.25pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;25&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 89.25pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Belanja individu, keluarga, dan sosial   sebagai jihad ekonomi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 89.25pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Umumnya persoalan harta hanya dibahas tentang   bagaimana memperolehnya, jarang tentang bagaimana membelanjakannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Padahal belanja itu merupakan pilihan   tindakan yang menentukan nilai manfaat harta tersebut: apakah menjadi alat   berjihad memperrbaiki ekonomi dan kesejahteraan umat (dengan membeli barang   produksi umat sendiri) atau menyejahterakan orang lain dan memperlebar   kesenjangan ekonomi dengan umat Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 12.75pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;26&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 12.75pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Zakat fitrah, maal, dan profesi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 12.75pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Membahas   tentang panduan berzakat bagi umat Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 25.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 25.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;27&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 25.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Zakat dan pemberdayaan ekonomi umat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 25.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Membahas   bagaimana caranya mendayagunakan potensi zakat untuk pemberdayaan ekonomi   umat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 25.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 25.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;28&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 25.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Zakat dan perbaikan kesejahteraan sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 25.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Membahas bagaimana caranya mendayagunakan   potensi zakat untuk peningkatan kesejahteraan umat dan ukhuwah islamiyah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 12.75pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 12.75pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;29&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 12.75pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Mempersiapkan diri dan keluarga menyambut   Iedl Fitri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 12.75pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Panduan   berpisah dengan Ramadhan dan menyambut Iedul Fitri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style="height: 25.5pt;"&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 46.95pt; height: 25.5pt;" width="63" nowrap="nowrap" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;30&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 175.2pt; height: 25.5pt;" width="234" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  &gt;Refleksi   Ramadhan 2009 (Cadangan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 216pt; height: 25.5pt;" width="288" valign="top"&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:85%;"  lang="NO-BOK" &gt;Setiap Ramadhan dan Hari Raya, inflasi   meroket, belanja konsumsi meningkat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-1252035080436455475?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/1252035080436455475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/silabi-ceramah-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/1252035080436455475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/1252035080436455475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/silabi-ceramah-ramadhan.html' title='Silabi Ceramah Ramadhan'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-5802969703741772055</id><published>2009-08-04T22:46:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T20:56:45.586-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Kesia-siaan (?) - Bagian  3 - Tentang Lupa</title><content type='html'>Bagaimanakah dengan sifat lupa?  Adakah kita mensyukuri sifat ini ada pada kita sebagai rahmat Allah SWT. yang luar biasa?  Ahh... jangan-jangan kita ini hanyalah hamba yang kufur nikmat karena telah "melupakan" rahmatNya yang berupa sifat pelupa.  Kata "melupakan" sengaja diberi tanda kutip untuk mengindikasikan bahwa maksudnya adalah sengaja lupa.  Memang ada lupa yang disengaja? Tentu..., itu bisa juga disebut mengabaikan.  Tapi yang dibahas dalam posting ini adalah lupa yang benar-benar lupa, bukan lupa sejenis pengabaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Sudah dikemukakan pada posting sebelumnya bahwa sifat lupa ini juga termasuk yang sering tidak kita sukai.  Bahkan kita benci. (Memang ada orang yang suka cita berharap dapat berjodoh dengan orang yang pelupa?)  Tapi itulah salah satu sifat yang diberikan Allah kepada kita.  Adakah orang yang tidak pernah lupa sama sekali?  Kalau yang ini saya yakin pasti tidak ada.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata pepatah: manusia itu adalah tempatnya lupa.  Karena itu, kalau bertemu dengan manusia dengan kadar sifat lupa yang tinggi, perbanyaklah maklum. Wahh, ya nggak bisa begitu dong.  Gara-gara dia lupa saya rugi besar nih.  Demikianlah kita itu.  Kalau ada orang lupa dalam urusannya dengan kita dan kita rugi karenanya maka kita tidak bisa menerimanya.  Kalau perlu dibawa ke jalur hukum.  Jadi, terlihat wajar kalau kemudian orang membenci keberadaan sifat lupa ini.  Tapi, betul-betul wajarkah hal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sifat lupa, mungkin kita tidak akan bisa hidup berumur panjang.  Benarkah?  Tentu saja.  Tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah bertemu dengan situasi atau kondisi yang jorok - karena manusia sendiri adalah salah satu sumber kejorokan (Ihhh horok ah!  ha...ha...ha...ha...)  Kondisi jorok yang membuat kita jijik, kepala pusing, perut mual hingga mau muntah (atau muntah betulan) hingga kita tidak bisa menelan makanan betapapun lezatnya makanan tersebut.  Nah, seandainya kita tidak bisa melupakan hal tersebut 10 hari berturut-turut saja, adakah yang masih akan sanggup hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga, bayangkan seandainya kita tidak bisa melupakan yang sedih-sedih dalam hidup kita.  Betapa muramnya kehidupan, tiada semangat, tiada hasrat, tiada kegembiaraan.  Sungguh bukan dunia yang kita inginkan yang demikian itu.  Sebaliknya, bila kita selalu tidak bisa lupa dengan kejadian lucu, maka kita akan tertawa sepangjang waktu.  sampai-sampai nggak bisa tidur dibuatnya.  Cuma gara-gara tidak bisa lupa hal yang lucu.  Wahh... dunia yang begitupun tentu tidak menarik.  Kesimpulannya, sungguh lupa itu adalah anugerah yang besar dari Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana nih... apakah berarti kita boleh melupakan segala sesuatu? (Kan namanya mensyukuri nikmat) Tentu tidak.  Sebagaimana sifat suka mencari kesalahan orang lain, maka sifat lupa ini hanyalah alat agar manusia dapat hidup lebih baik.  Jadi boleh lupa, asal bermartabat.  Ha...ha...ha...ha... Artinya untuk hal-hal penting apalagi yang kalau sampai kita melupakannya akan menimbulkan banyak mudharat, maka wajib bagi kita berusaha tidak lupa.  Bikin catatan reminder, misalnya.  Lalu yang bikin kita tidak bisa berbuat lebih baik, bolehlah kita lupa.  Sungguh, tidak ada sesuatupun ciptaanNya yang sia-sia.  Tidakkah kita gunakan akal untuk memikirkannya? &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-5802969703741772055?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/5802969703741772055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/kesia-siaan-bagian-3-tentang-lupa.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/5802969703741772055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/5802969703741772055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/kesia-siaan-bagian-3-tentang-lupa.html' title='Kesia-siaan (?) - Bagian  3 - Tentang Lupa'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-5427224454654889128</id><published>2009-08-04T21:20:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T20:59:14.151-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Kesia-siaan (?) - Bagian  2 -  Mengungkit Kesalahan Orang Lain</title><content type='html'>Begitu banyak nikmat Allah yang kita terima tetapi kita, dengan mata picik kita, memandangnya sinis.  Posting sebelumnya tentang rasa sakit mengilustrasikan hal ini. Itu hanya salah satu contoh saja.  Melanjutkan posting sebelumnya, posting ini mendiskusikan hal lain yang seringkali juga kita benci, sifat suka mencari kesalahan orang.  Adakah sebenarnya sifat-sifat ini merupakan rahmat Allah kepada manusia atau justru kesia-siaan saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Adakah di antara kita yang tidak memiliki "keahlian" mencari-cari kesalahan orang lain?  Saya belum melakukan survey, dan belum menemukan laporan hasil survey tentang hal tersebut.  Tapi, boleh dibilang dari semua orang dalam pergaulan saya tidak ada yang tidak memiliki "keahlian" ini (termasuk penulis, tentu saja :D ).  Jujur saja, membicarakan kesalahan orang lain itu nikmat sekali (dibandingkan soto madura, nikmat mana yahh?).  Pembicaraan terasa gayeng, menarik, dan memikat ketika kita membicarakan kesalahan orang lain.  Hal-hal ini, hanya menegaskan bahwa kesukaan itu memang sifat kita-kita semua.  Padahal, siapakah di antara kita yang bisa terpikat dan menikmati pembicaraan orang lain tentang kesalahan dan kekurangan kita?  Andakah? Saya betul-betul mengkhawatirkan diri saya tidak termasuk orang yang demikian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi..., intinya adalah kita tidak suka kalau orang lain menjelek-jelekkan kita, mengupas-upas kekurangan dan kesalahan kita, apa lagi memaparkannya dalam suatu majelis.  Sungguh kita membenci situasi ini.  Makanya sebagian kita berdoa semoga Allah menutupi aib-aib kita, karena, adakah di antara kita yang tidak memiliki aib?  Makanya wajar kemudian kalau kita ini membenci sifat suka mencari kesalahan orang lain, meskipun sifat tersebut kita juga memilikinya.  Kenapa Allah memberikan sifat yang sedemikian itu kepada kita? Adakah rahmad di dalam sifat tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, saya termasuk orang yang mengkomersialkan sifat suka mencari kesalahan orang lain yang ada dalam diri saya (dasar dosen! ha...ha...ha...ha).  Pekerjaan saya menuntut saya mampu mengeksploitasi kesukaan tersebut secara profesional (wuihhh bahasanya.)  Demikianlah adanya.  Sebagai dosen saya secara rutin harus mengkoreksi pekerjaan para mahasiswa.  Bayangkan kalau saya tidak suka mencari-cari kesalahan mahasiswa dalam menyelesaikan tugasnya - maka tidak ada istilah nilai jelek (bukan berarti harus memberi nilai jelek lho!).  Itu berarti tidak ada nilai baik (karena tidak bisa lagi dibedakan yang baik dan yang jelek).  Itu juga berarti tidak perlu lagi istilah "lebih", misalnya lebih baik atau lebih jelek.  Selanjutnya tidak perlu juga ada istilah standar atau baku - untuk menilai baik atau jelek.  Maka tidak perlu juga norma - atau kumpulan baku.  Maka tidak perlu lagi hukum, karena bukankah hukum itu untuk membedakan yang benar dan yang salah (yaitu menemukenali apakah seseorang bersalah atau tidak bersalah). Kalau secara hukum, tidak dapat dibuktikan kesalahan pada seseorang, maka orang tersebut tidak bersalah!  Bukankah demikian adanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, begitu pentingnya sifat suka mencari kesalahan yang melekat pada manusia untuk membangun kebudayaan (wahh...! orang jawa bilang "kaboten" - terlalu berat nih).  Tapi, (bahasanya orang yang nggak ikhlas nih) bukankah sangat tidak nyaman dicari-cari kesalahan kita oleh orang lain?  Jawabnya, siapa bilang jadi pesakitan itu nyaman? Ya pasti tidak nyamanlah... Masalahnya, sifat seperti ini menjadi alat bagi manusia untuk membangun peradabannya.  Sebagai sebuah alat, maka nilainya tergantung pada penggunanya.  Jika pisau digunakan untuk merampok, membunuh orang, mengancam, atau melakukan perusakan maka pisau sungguh menakutkan dan mengerikan.  Kalau karena alasan itu maka dibuat undang-undang pelarangan produksi, penyimpanan, dan pemakaian pisau, maka ibu-ibu rumah tangga yang akan mendemonya.  Mereka memerlukannya di dapur.  Demikianlah, hal yang sama juga terdapat pada sifat suka mencari kesalahan orang lain.  Kalau ia digunakan secara profesional dan bermartabat (seperti guru, dosen, atau praktisi hukum misalnya, he..he..he..) maka ia bernilai positif.  Akan tetapi jika ia digunakan selain dengan cara itu, maka ia bernilai negatif.  Sungguh, tidak ada sesuatupun ciptaan Allah yang sia-sia.  Betapa picikpun pandangan kita terhadapnya &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-5427224454654889128?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/5427224454654889128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/begitu-banyak-nikmat-allah-yang-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/5427224454654889128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/5427224454654889128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/begitu-banyak-nikmat-allah-yang-kita.html' title='Kesia-siaan (?) - Bagian  2 -  Mengungkit Kesalahan Orang Lain'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-1445865368741436503</id><published>2009-08-01T20:59:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T21:13:54.856-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Kesia-siaan (?) - Bagian 1 -  Tentang Sakit</title><content type='html'>Sebenarnya banyak hal lain yang mau aku tulis.  Tetapi dua hari ini badan terasa sakit sekali setelah mengikuti acara outbond yang diselenggarakan oleh kampus.  Bahkan sebenarnya ingin sekali menulis pandangan-pandanganku tentang outbond itu sendiri.  Karena badan terasa sakit semua, maka aku tidak memaksakan diri.  Mudah-mudahan setelah sembuh bisa nulis lebih banyak lagi dan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa sakit memang sangat menyiksa.  Entah itu rasa sakit karena tubuh kita terinfeksi kuman, bakteri, virus atau yang disebabkan oleh ketidak-normalan kondisi fisik kita.  Karena itu, maka umumnya kita tidak menyukai rasa sakit ini.  Hal yang terlihat sangat wajar. Memang siapa orangnya yang mengingini rasa sakit menghinggapi dirinya?  Bahkan orang gilapun tidak, juga binatang!!!  Lalu untuk apa rasa sakit itu harus ada?  Siapa yang menciptakan rasa sakit itu?  Siapa yang menentukan bahwa manusia itu harus memiliki sifat merasakan sakit?  Tuhankah? Kenapa ia tidak menulis saja takdir manusia itu tidak usah merasa sakit? Bukankah kita akan bahagia kalau kita tidak usah merasakan pusing, demam, ngilu, dan lain-lainnya itu?  Aahhh, masih panjang lagi kiranya deret pertanyaan ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita pikir, masih banyak hal lagi yang ada di dunia ini yang tidak kita sukai keberadaannya.  Rasa sakit itu hanyalah salah satu.  Renungan ini akan mengambil contoh dua hal lainnya lagi: sifat suka mencari kesalahan orang lain dan lupa.  Siapakah di antara kita yang suka kalau ada orang di sekitar kita yang "pekerjaannya" mencari-cari kesalahan kita?  Keberadaan orang yang demikian ini di sekitar kita sungguh tidak menyenangkan.  Seolah-olah dengan keberadaannya seluruh aib kita siap ditumpahkannya di halaman tetangga, kantor, sekolah atau bahkan di pasar.  Membuat kita harus menanggung malu bertemu dengan orang lain, kikuk, dan tidak nyaman dengan keberadaan kita sendiri.  Sungguh menjengkelkan dan menderita "memiliki" orang seperti itu.  Maka sungguh sangat pantas kalau kita membenci sifat seperti itu(?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga sifat lupa.  Jangankan orang lain yang lupa sehingga merugikan kita, bahkan kita sangat sering menyesali diri sendiri karena telah melupakan sesuatu yang sangat penting.  Bayangkan jika anda berjanji bertemu seseorang untuk keperluan bisnis, lalu anda lupa sehingga peluang bisnis menjadi sirna.  Banyak kita lihat bagaimana ekspresi aktor di layar kaca untuk menggambarkan situasi ini.  Mereka memaki-maki diri sendiri, membentur-benturkan kepala ke dinding, dan lain sebagainya.  Atau ketika kita mau berangkat kerja, lalu kita kesulitan menemukan kunci kontak kendaraan kita karena lupa meletakkannya dimana.  Waktu sudah mepet, terbayang jarak yang jauh dan jalanan yang macet, serta wajah boss yang menakutkan. Kita jadi stress dan jengkel, bagaimana bisa lupa meletakkan kunci?  Maka, maklumlah kita bila kejadian-kejadian serperti itu lalu menggerakkan rasa benci kita terhadap lupa muncul ke permukaan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kembali ke pertanyaan-pertanyaan, mengapa harus ada di dunia ini hal-hal yang tidak kita sukai.  Untuk apa Allah SWT memberi rahmat kepada manusia hal-hal yang tidak disukai oleh manusia? Tidakkah hal itu sia-sia saja bila Tuhan menginginkan manusia untuk mengabdi kepadaNya?  Sebenarnya ketika mendentumkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, begitu banyak rasanya cadangan peluru di dalam hati, di dalam pikiran.  Semua menunggu ditembakkan.  Hanya saja kalau ditembakkan semuanya seketika, tentu suaranya menjadi bising dan yang terdengar oleh telinga hanya ribut dan hingar-bingarnya saja.  Maka biarlah tulisan ini hanya &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;berusaha &lt;/span&gt;menuntaskan sedikit pertanyaan itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah memang banyak sesuatu yang keberadaannya di dunia ini sia-sia? Contohnya adalah hal-hal yang tidak kita sukai yang sudah dikemukakan pada paragaf sebelumnya.  Pertanyaan ini berimplikasi langsung pada penyifatan diri Allah.  Bukankah Allah maha pencipta dan semua yang ada di alam ini adalah ciptaannya?, termasuk sifat-sifat yang kita benci di atas. Jadi kalau ada sesuatu yang sia-sia di dunia ini, maka itu berarti Allah telah menciptakan sesuatu yang sia-sia, yang tidak berguna.  Benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita tengok lebih cermat satu demi satu.  Rasa sakit, adakah dia berguna untuk kita? untuk manusia?  Kalo dijawab, nggak ada rasa sakit maka nggak ada dokter, nggak ada ilmu kedokteran, nggak ada industri farmasi, dan nggak ada kebudayaan (...wuahh berat amat! :D) - maka orang bisa berkilah: itu kan untuk orang lain, bukan kegunaan bagi penderita sendiri.  Mengapa saya harus menderita untuk memberi manfaat pada orang lain?  Eeehhh...! Wah, egois banget yah!  Tapi itu khan yang ada dalam hati kecil kebanyakan dari kita?  (ngaku nih, penulisnya termasuk orang yang sulit ikhlas - semoga Allah segera merubahnya. Amien)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika remaja dulu saya pernah terserang penyakit typhus. Wuahhh rasanya.  Badan lemas, demam, pusing, ngilu ... rasanya masih saya ingat sampai sekarang.  Betapa tidak nyaman. Tidak bisa main, tidak bisa belajar, bahkan dudukpun tidak boleh!!! Harus tiduran terus di ranjang rumah sakit.  Mau apa-apa harus dengan bantuan orang lain. Memang pernyakit itu termasuk yang berbahaya dan mengharuskan penderitanya istirahat total.  Seandainya rasa sakit itu tidak ada, saya tidak bisa membayangkan akan bisa menulis sekarang ini.  Karena sangat mungkin saya sudah mati! Ya, mati! Tanpa rasa sakit itu saya tidak akan tahu ada masalah dalam tubuh saya, ada bahaya yang mengancam dalam diri saya.  Tanpa rasa sakit itu saya tidak harus pergi ke dokter lalu ke rumah sakit, jadi tidak usah opnname yang tidak nyaman dan mahal itu.  Orang tuaku akan tenang-tenang saja, juga tidak melihat masalah pada diri anaknya. Dan tanpa rasa sakit itu, ketika penyakit typhus mencapai puncaknya - sangat mungkin tiba-tiba saja saya mati! Tidak sempat lagi berobat.  Subhanallah!!! justru sakit itu menjadi rahmat Allah bagiku untuk selamat dari penyakit ganas itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, untung aku bisa merasakan sakit.  Kalau tidak, mungkin namaku tinggal terpampang di batu nisa aja (itupun kalo ada yang sempat nulis di sana, kalau kejadian betul kan sudah nggak bisa nulis lagi).  Jadi ternyata, rasa sakit itu benar-benar rahmad Allah yang luar biasa. Ia ibarat termometer di mobil yang memberi tahu sopir bilamana ada yang tidak beres pada mesin.  Ia ibarat nilai indeks saham bagi investor, ekonom, dan pemerintah. Ia ibarat nisbah rugi-laba bagi manajer perusahaan.  Pendeknya rasa sakit memberi petunjuk kepada penderitanya dengan pesan: "There is something wrong with your body! Respond it quickly!"  Sungguh tidak ada yang sia-sia segala sesuatu yang diciptakan Allah, betapapun pandangan picik kita menilainya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-1445865368741436503?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/1445865368741436503/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/kesia-siaan-bagian-1-tentang-sakit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/1445865368741436503'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/1445865368741436503'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/08/kesia-siaan-bagian-1-tentang-sakit.html' title='Kesia-siaan (?) - Bagian 1 -  Tentang Sakit'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-7509812252372820798</id><published>2009-07-29T05:22:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T21:22:02.026-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Bulan terbelah</title><content type='html'>"Saya tidak percaya ada kejadian yang bersifat kebetulan. Semua hal terjadi karena ada alasannya".  Kalimat itu yang meluncur dari bibir Rubens Barichello, pembalap Brawn GP itu, ketika mengomentari kecelakaan pada sirkuit Hungaroring maupun kecelakaan beberapa hari sebelumnya pada lomba GP2 (baca detikSport &lt;a href="http://www.detiksport.com/read/2009/07/26/062700/1171516/80/barrichello-pertanda-di-balik-kecelakaan-massa"&gt;di sini&lt;/a&gt;). "Kebetulan", suatu kata yang sering kali kita ucapkan untuk mendeskripsikan kejadian-kejadian yang sulit kita pahami rangkaian proses subab musababnya.  Atau kita gunakan sebagai atribut pada hubungan waktu dua kejadian yang dipandang sebagai tidak memiliki hubungan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, kebetulan saya lewat jalan A ketika bertemu dengan seorang sahabat lama.  Saya berjalan di jalan A merupakan suatu proses yang tidak memiliki hubungan kausalitas dengan proses yang terjadi pada sahabat lama saya sehingga ia pada saat yang bersamaan berada pada tempat yang sama.  Ini kita sebut kebetulan.  Benarkah itu sebuah kebetulan?  Memang, keputusan saya untuk melewati jalan yang tidak biasa saya lewati pada waktu yang menyebabkan pertemuan itu terlihat independen.  Tidak dipengaruhi oleh apapun yang dilakukan oleh teman saya, atau oleh keadaan yang mendorong teman saya berada pada saat yang sesuai untuk bertemu saya.  Demikian juga dengan sang teman saya itu. Ia terlihat independen, dalam hal tidak ada satupun pengaruh dari saya yang menggerakkannya sehingga terjadinya pertemuan itu.  Jadi kejadian saya berjalan lewat lintasan A terlihat tidak ada sangkut pautnya dengan berjalannya teman di jalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali demikianlah maka konsep "kebetulan" disebut sebagai &lt;a href="http://www.merriam-webster.com/dictionary/coincident"&gt;co-incident&lt;/a&gt; (sengaja saya tulis dipisah dengan tanda hubung, agar terlihat benar dua kata penyusunnya) dalam bahasa Inggris.  Dalam kasus kecelakaan di Hungaroring itu, "kebetulan" komponen mobil lepas pada &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;waktu&lt;/span&gt; mobil Ferrari yang dikemudikan oleh Felipe Massa berada pada &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;tempat &lt;/span&gt;yang "benar" sehingga perkakas yang lepas tersebut &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;tepat &lt;/span&gt;mengenai kepalanya.  Jadi dalam hal ini, tidak ada tujuan dari "kebersamaan" dalam posisi/ruang dan waktu.  Hal inilah yang dibantah oleh Rubinho (nama akrab Rubens Barichello).  Kalimatnya berimplikasi bahwa "kebetulan" itu memiliki suatu tujuan.  Dalam konteks itu tujuannya adalah memberi peringatan.  Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, penganutnya harus meyakini bahwa tidak ada suatupun kejadian yang dapat terwujud tanpa seijinNya (lihat surat &lt;a href="http://www.dudung.net/quran-online/indonesia/22"&gt;Al Hajj 65&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://www.dudung.net/quran-online/indonesia/64/10"&gt;At Taghaabun 11).&lt;/a&gt; Maka itu berarti bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini.  Apapun itu, selalu terjadi atas ijin (kehendak) Nya.  Bahkan tidak satu daunpun yang jatuh tanpa seijinNya.  Ini berimplikasi dua arah, pertama bahwa setiap kejadian itu sebab utamanya adalah ijin Allah.  Kedua, karena tidak ada yang diciptakan (dikehendaki) Allah yang sia-sia, maka semuanya pasti memiliki tujuan.  Dan salah satu tujuan penting yang relevan dengan manusia adalah bahwa semua kejadian di sekitar kita agar menjadi peringatan bagi kita.  Begitu banyak dalam Al Qur'an Allah bertanya, tidakkah engkau berfikir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian di atas sebenarnya hanya pengantar untuk menampilkan fakta berikut ini, bulan telah terbelah.  Kata-kata tersebut berasal dari surat &lt;a href="http://www.dudung.net/quran-online/indonesia/54/1"&gt;Al Qomar (surat ke 54) ayat 1&lt;/a&gt;.  Ada pernyataan yang sangat kuat mengundang tanya di sini.  Bulan telah terbelah.  Pengertian terbelah secara umum berarti bahwa  sesuatu telah terbagi menjadi dua atau lebih bagian.  Konsep dalam bahasa Jawa membedakan ukuran, kalau ukurannya tidak seimbang sehingga terkesan tidak seimbang (satu bagian terlalu kecil dibanding bagian yang lain) maka dikatakan bahwa benda tersebut telah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cuwil&lt;/span&gt;. Tapi kalo seimbang disebut bahwa benda tersebut telah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diparo&lt;/span&gt;. (Kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;separo&lt;/span&gt; berarti setengah, jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diparo&lt;/span&gt; berarti dibagi sama besar).  Terlepas dari konteks bahasa Jawa tersebut, baik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cuwil &lt;/span&gt;mapun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diparo &lt;/span&gt;menunjukkan bahwa sesuatu yang tadinya utuh telah terpisah menjadi dua bagian.  Jadi sama-sama terbelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.nasm.si.edu/collections/imagery/apollo/AS11/a11facts.htm"&gt;Link &lt;/a&gt;ini merujuk pada situs NASA yang memuat &lt;a href="http://www.nasm.si.edu/collections/imagery/apollo/AS11/a11facts.htm"&gt;fakta-fakta tentang Apollo 11&lt;/a&gt;.  Perhatikan pada fakta yang termuat pada halaman tersebut.  Mula-mula fakta tentang telah diambilnya sejumlah batuan (Moon Rocks Collected: 21.7 kilograms).  Lalu tentang waktu take-off (sekali lagi waktu take-off atau waktu berangkat meninggalkan bulan).  Tercatat pada situs tersebut:&lt;br /&gt;LM Departed Moon:        July 21, 1969&lt;br /&gt;                                          17:54:01 UT (1:54:01 p.m. EDT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan angka satuan terkecil dari waktu keberangkatan Lunar Module (LM) meninggalkan bulan, yaitu menit ke 54, detik ke 1.  Subhanallah.  Persis dengan nomor surat dan ayat tentang bulan terbelah yang dikutip di atas.  Jadi, tepat pada waktu itu (yaitu menit ke 54, detik 1) bulan telah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;cuwil&lt;/span&gt;.  Kita sadar, sangat sulit bagi kita untuk melakukan sesuatu secara terencana hingga satuan detik!!! Tapi, catatan waktu tersebut sesuai hingga tingkat detik!!! Apakah ini suatu kebetulan saja?  NO COINCIDENT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hikmah bahwa yang memiliki dan menerbangkan Apollo adalah orang-orang Amerika.  Hal ini menghindarkan persangkaan bahwa angka-angka itu disesuai-sesuaikan (Bayangkan kalau orang Jawa yang pergi ke bulan.  :D ) Implikasinya berarti keadaan dunia seperti sekaranng ini terjadi juga karena ijin dari Allah.  Agar yang berangkat ke bulan adalah orang Amerika, maka orang Amerika harus maju lebih dulu.  Tidak mungkin mereka bisa membangun Apollo dan berangkat ke bulan, kalau ide bikin industri pesawat terbang (pada jaman sekarang ini) aja tidak didukung tapi malah diketawain oleh saudara sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Allah yang Maha Tahu.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-7509812252372820798?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/7509812252372820798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/bulan-terbelah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7509812252372820798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7509812252372820798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/bulan-terbelah.html' title='Bulan terbelah'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-4987017034322061542</id><published>2009-07-27T23:19:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T18:36:11.450-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Yang Pertama</title><content type='html'>Memang tidak mudah menjadi yang pertama (?!). Jadi anak yang pertama dalam satu keluarga biasanya lahir ketika ekonomi keluarga belum cukup mantap. Jadi ia hanya menerima fasilitas seadanya, beda dengan anak ke dua dan seterusnya yang lahir setelah cukup waktu bagi orang tua mencapai tingkat ekonomi yang lebih baik. Sama persis dengan murid-murid angkatan pertama dari sebuah sekolah baru. Fasilitas belum lengkap, guru masih sedikit dan belum banyak pengalaman.  &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan suatu usaha.  Langkah pertama biasanya sangat sulit.  Seolah meraba-raba di tempat gelap untuk menemukan segala sesuatunya yang akan dilakukan.  Diperlukan kepercayaan diri yang sangat tinggi untuk melakukannya. Bahkan, bagi sebagian orang hal itu terlihat sebagai sebuah kenekadan - atau lebih dari itu sebuah kegilaan.  Bagi sebagian orang tersebut, hanya orang nekad atau yang gila saja yang mau melangkah dengan meraba-raba dalam kegelapan.  Bagi mereka kegelapan identik dengan menyimpan sejuta resiko - sehingga dalam bahasa mereka mengayunkan langkah pertama suatu usaha adalah suatu kenekadan dan kegilaan.  Itulah sebabnya mereka tidak terlalu siap mengembangkan dirinya. Ayunan kakinya selalu dibayangi oleh ketakutan yang dibangunnya sendiri akan resiko-resiko. Bagi mereka, kegagalan sungguh sesuatu yang amat mengerikan.  Benarkah yang sesungguhnya itu sedemikian rupa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu ajaran yang selalu saya anggap sebagai teori pembelajaran.  Sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS 94, 5-6). Bagi seorang guru sangat mudah melihat hal ini.  Seorang yang belajar matematika, ketika kepadanya diberikan suatu soal yang sulit maka sekali saja ia mampu menyelesaikannya maka soal yang sejenis akan menjadi mudah baginya.  Nasihat ayah saya, tirulah sikap Semar (tokoh punakawan dalam dunia pewayangan).  Semar selalu tertawa bila dalam perjalanannya harus menempuh jalan mendaki. Ia menyemagati anak-anaknya yang berkeluh kesah melakukan pendakian dengan keyakinannya yang sangat masuk akal. Sesudah jalan mendaki pasti ada jalan menurunnya. Jadi bergembiralah menempuh jalan terjal mendaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 25 Juli yang lalu saya mengisi pelatihan untuk guru-guru di Sulawesi Utara. Saya beruntung karena dengannya saya menghayati kembali pedoman ini.  Sesudah kesulitan terdapat kemudahan.  Ini semacam refreshing bagi saya, penyegaran kembali sesuatu yang mungkin sekali saya telah lengah terhadapnya.  Jadi kisahnya, itu adalah pelatihan pertama yang diselenggarakan panitia lokal.  Modusnya juga merupakan yang pertama. Biasanya guru-guru disana mengikuti pelatihan sejenis berdasarkan suatu penugasan dari sekolah atau dinas.  Kali itu tidak, karena guru peserta pelatihan mengikuti atas dasar inisiatif pribadi.  Jadi boleh dikatakan kegiatan tersebut adalah "jenis yang pertama". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan itu sendiri menumbuhkan kesan yang kuat dalam diri saya karena antusiasme peserta yang luar biasa. (Saya yakin dengan guru-guru seperti mereka itu pendidikan di Indonesia akan lebih maju.)  Kepuasan utama seorang penyampai adalah ketika penerima antusias dengan apa yang disampaikannya. Namun, penyelenggaraannya sendiri bukanlah sesuatu yang mudah.  Beberapa kali terjadi penundaan.  Pada H-1, pendaftar sudah ... 14 orang.  Tentu panitia lokal dalam keadaan underpressure.  Saya harus angkat topi tinggi-tinggi untuk panitia lokal, khususnya Pak Manopo.  Ketenangan panitia lokal membuat saya tidak dapat membaca masalah yang sedang mereka hadapi.  Saya sangat berterimakasih karena dengan demikian persiapan saya untuk pelatihan itu sendiri tidak terganggu.  Meskipun sebenarnya saya punya pengalaman seperti itu. Saya pernah memberi kuliah dengan mahasiswa cuma satu orang. Saya juga pernah mengikuti pelajaran tanpa teman sama sekali, sendiri di kelas (eh berdua koq sama Pak Rahmad - guru yang mengajar saya saat itu).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, jumlah peserta pelatihan tersebut 70 orang.  Meskipun masih di bawah taget, angka tersebut sudah lumayan.  Setelah pelatihan, saya dan beberapa panitia lokal berbincang-bincang sambil sedikit melakukan evaluasi.  Eureka! Setelah melangkah yang pertama ini, begitu mudah kami melihat berbagai hal yang seharusnya dilakukan agar even yang sejenis dapat terlaksana dengan lebih baik. Kami mengidentifisi satu demi satu kelemahan penyelenggaraan dan segera menemukan solusinya. Subhanallah... Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Dengan bekal ini kami siap membuat langkah ke dua.  Semoga Allah meridhoi, dan semoga yang membaca tulisan ini ikut tergerak menguak kabut ketakutan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang baru - sesuatu yang pertama baginya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-4987017034322061542?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/4987017034322061542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/yang-pertama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4987017034322061542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4987017034322061542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/yang-pertama.html' title='Yang Pertama'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-3387338887641613620</id><published>2009-07-26T21:50:00.000-07:00</published><updated>2009-07-27T14:53:18.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Lovely Family</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Sm06fiRUD0I/AAAAAAAAADI/BbBzGk-Q6MQ/s1600-h/famili.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Sm06fiRUD0I/AAAAAAAAADI/BbBzGk-Q6MQ/s400/famili.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363007044717907778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah agak telat sih posting tentang hal ini. Tapi gimana lagi, baru sekarang tergerak untuk menulisnya. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 11-12 Juli, kami mengadakan acara family gathering.  Ceritanya, setiap 3 bulan sekali keluarga Bani Munawar (dimana aku menjadi menantu di dalamnya) mengadakan pertemuan 3 bulan sekali.  Tempatnya berpindah-pindah, dari satu rumah ke rumah lainnya.  Acara tersebut juga sudah pernah dilakukan di rumahku.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keluarga istriku sembilann bersaudara dan semua telah berkeluarga, maka acara itu selalu heboh karena anak-anak selalu membikinnya jadi meriah.  Tapi acara itu juga penuh manfaat karena kami selalu salinng menasehati.  Kami saling mengingatkan pentingnya untuk selalu memperbaiki diri, beriman lebih baik, bertakwa lebih dari hari sebelulumnya.  Terutama sekali mBak Ina, kakak iparku, yang selalu bersemangat mengajak adik-adik dan anggota keluarga lainnya untuk menjaga kebersihan diri dan menapak hari esok dengan keadaan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kali kemarin format acaranya dirubah.  Bertepatan dengan liburan sekolah, acara dilakukan di tempat wisata air terjun Coban Rondo.  Formatnya jadi outbond.  Tentu saja anak-anak yang paling antusias.  Sebelum acara itu sendiri, mereka sudah saling komunikasi tentang rencana kegiatan.  Bahkan keluarga yang jauh, Dik Dinar, datang juga dari Jakarta.  Juga keluarga dari Moga, Pemalang, bahkan Bapak dan Ibuku dari Banyuwangi juga datang berpartisipasi.  Alhamdulillah silaturahmi keluarga ini menjadi semakin terjaga.  Tapi, sebagaimana tradisi keluarga ini, acara itu tak lepas dari siraman-siraman rohani. Baik dari anggota keluarga maupun dari ustadz yang diundang.  Kali ini, acara siraman rohani dipisahkan.  Orang-orang dewasa dikumpulkan di aula, sementara anak-anak dibuatkan acara sendiri.  Dengan demikian, peringatan dan pelajaran yang disampaikan bisa lebih spesifik berdasar kelompok umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Sm048ZU6QMI/AAAAAAAAADA/zgy-8B7ryx0/s1600-h/outbond.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Sm048ZU6QMI/AAAAAAAAADA/zgy-8B7ryx0/s400/outbond.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363005341510025410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku secara pribadi gembira, setiap kali selesai acara keluarga seperti ini dapat mendapatkan pencerahan baru.  Dapat menjadi bahan bakar meningkatkan spirit menjadikan keluargaku mawaddah wa rohmah dan sakinah.  Semoga Allah menjadikan anak-anak dari keluarga ini sebagai anak-anak yang sholeh dan sholehah.  Aku tahu masih banyak kekurangan yang kami miliki, tapi mudah-mudahan tak pernah kami kehabisan tenaga untuk berusaha menjadikan diri kami dan keluarga kami lebih baik, meskipun sedikit saja dibandingkan dengan waktu sebelumnya..&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-3387338887641613620?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/3387338887641613620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/lovely-family.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/3387338887641613620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/3387338887641613620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/lovely-family.html' title='Lovely Family'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/Sm06fiRUD0I/AAAAAAAAADI/BbBzGk-Q6MQ/s72-c/famili.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-6991401921496971009</id><published>2009-07-26T17:09:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T02:31:49.246-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Bentor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SmzzCmYaC7I/AAAAAAAAAC4/5HLB1aNGQNY/s1600-h/bentor1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SmzzCmYaC7I/AAAAAAAAAC4/5HLB1aNGQNY/s400/bentor1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5362928482279623602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah catatan tambahan saya tentang bentor, becak montor, yang telah saya posting sebelumnnya.  Dalam kesempatan berbincang dengan Pak Tutu D. Manopo, salah seorang tokoh masyarakat di Kotamobagu, saya mendapatkan banyak informasi tentang berbagai hal.  Salah satunya adalah tentang bentor ini.  Menurut beliau, jumlah bentor di Kotamobagu tidak kurang dari 5 ribu unit.  Ini adalah perkiraan yang moderat, karena ada yang memperkirakan jumlahnya sampai 8 ribu dan sebagaimana yang saya tulis pada posting sebelumnya ada yang memperkirakan 3 ribu.  Berapapun jumlah yang sebenarnya, itu adalah jumlah yang besar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau harga satu unit bentor rata-rata adalah 17,5 juta maka, bila dipilih jumlah moderat, total investasi untuk modus transportasi ini sudah 87,5 milyar.  Suatu jumlah yang besar untuk pengembangan ekonomi rakyat di kota sebesar Kotamobagu.  Putaran ekonomi yang digerakkan oleh modus transportasi ini juga luar biasa.  Jika rerata penghasilan bersih seorang operator bentor adalah 20 ribu rupiah, maka dalam sehari sektor ini menghasilkan nilai tambah jasa (sektor transportasi) sebesar 100 juta rupiah atau 36,5 milyar per tahun.  Nilai sebesar itu berguna secara langsung menghidupi 5 ribu kali 3 orang (jika per orang memiliki satu istri dan satu anak).  Dapat dibayangkan betapa pentingnya peranan bentor di kota ini.  Itu belum ditambahkan dengan sektor jasa lain yang terbawa oleh modus transportasi ini.  Industri perakitan bentor yang berupa bengkel-bengkel rakyat.  Usaha jasa perawatan dan pemeliharaan bentor.  Selain bodi dan kerangka bentor, mesin penggerak bentor memerlukan pemeliharaan yang lebih intensif mengingat beban yang diampunya melebih normal rancangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu pengaruh ekonomi keberadaan bentor semakin luas karena sifat multiplier effect-nya.  Kalau mau diteliti lebih lanjut banyak sekali kegiatan ekonomi yang ikut bergerak bersama bentor ini.  Belum lagi pengaruhnya pada kehidupan sosial.  Menurut pak Tutu D. Manopo sejak mulai beroperasinya bentor ini tingkat kriminalitas di Kotamobagu menurun signifikan.  Rupa-rupanya, operator bentor menjadi profesi yang bisa diterima oleh para pemuda.  Mereka ini sebelum ada bentor banyak yang pengangguran, kegiatannya nongkrong di pinggir jalan dan beberapa oknumnya mungkin melakukan kegiatan yang meresahkan masyarakat.  Tapi dengan bentor ini mereka merasa mendapat profesi yang sesuai dengan karakter mereka dan cukup terhormat (dari pada menjadi penarik becak, misalnya).  Kesukaan mereka akan musik tersalurkan.  Kegembiraan mereka menelusuri jalanan dengan kendaraan bermotor juga tersalurkan.  Lebih dari itu, dengan model bentor yang mengesankan mereka juga mendapatkan uang pemasukan setiap harinya.  Jadi, bentor telah melakukan fungsi perubahan sosial di Kotamobagu ini.&lt;br /&gt;Manfaat bentor akan semakin meningkat jika pemerintah daerah berhasil melakukan pembinaan dan fasilitasi.  Alam yang indah di wilayah ini sendiri sudah bisa menjadi obyek wisata yang menarik.  Jika dikelola dengan baik, akan menjadi kompleks wisata alami yang menggiurkan.  Dan, bentor dapat berperan di dalamnya.  Ia akan menjadi kendaraan eksotik bagi wisatawan untuk berkeliling menikmati keindahan alam Kotamobagu dan sekitarnya, melintasi jalan-jalan meliuk, naik dan turun dengan nyaman dan nikmat.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-6991401921496971009?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/6991401921496971009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/bentor.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/6991401921496971009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/6991401921496971009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/bentor.html' title='Bentor'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SmzzCmYaC7I/AAAAAAAAAC4/5HLB1aNGQNY/s72-c/bentor1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-6977278474310200746</id><published>2009-07-26T14:57:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T02:32:48.103-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pribadi'/><title type='text'>Razia</title><content type='html'>Akhirnya selesai juga pekerjaan yang harus kutuntaskan di Kotamobagu, Sulawesi Utara.  Jam 3 dini hari, udara cukup segar tapi tidak sedingin kota Malang pada jam yanng sama, barang-barang bawaan mulai kukemasi.  Rencananya jam 6 pagi check-out dan langsung berangkat ke Manado untuk penerbangan jam 12 siang.  Memang harus berangkat pagi, karena ada dua alasan.  Pertama waktu tempuh normal perjalanan dari Kotamobagu ke Manado adalah 4 sampai 4,5 jam. Jadi bila berangkat jam 6 pagi akan tiba di bandara Sam Ratulangi kurang lebih jam 10.30.  Masih cukup waktu untuk melaksanakan alasan yang ke dua, beli tiket.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya, kami memang belum memiliki tiket untuk pulang. Padatnya kegiatan yang membuat kami tidak sempat mencari tiket pulang lebih awal.  Tapi aku ambil hikmahnya, tidak perlu ada kekhawatiran kehilangan uang tiket kalau-kalau saja sampai terlambat tiba di bandara.  Dan..., ternyata aku benar-benar mengambil manfaat dari alasan yang sebenarnya mungkin sekali hanya upaya internal dalam diri ketika mennghadapi masalah. Tulisan ini adalah kisah tentang hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami meninggalkan Kotamobagu menuju Manado menggunakan jasa angkutan travel tepat jam 7, 1 jam lebih lambat dari yang direncanakan.  Kepada pak sopir aku sampaikan bahwa aku harus naik pesawat jam 12.  Aku percaya pada pak sopir ketika ia menjanjikan akan menurunkan kami sebelum jam 12 di bandara. Pada perjalanan berangkat aku telah memperhatikan angkutan-angkutan seperti ini berjalann sangat laju di lintasan trans-sulawesi.  Tidak banyak aku ngobrol dengan pak sopir. Aku benar-benar ingin menikmati kemolekan alam Sulawesi Utara pada perjalanan pulang dari kungjunganku yang pertama ini.  Subhanallah, memang luar biasa rahmat Allah di bumi nyiur ini.  Aku akan sangat senang sekali kalau dapat pergi lagi ke tempat ini beberapa kali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sangat lancar. Tetapi terjadi sesuatu yang tidak kuperhitungkan. Di tengah jalan, sopir berhenti di sebuah rumah makan dan mempersilahkan penumpang yang 7 orang termasuk aku untuk istirahat dan sarapan (tentu harus membayar sendiri, karena tidak termasuk dalam ongkos tiket).  Wah, bisa mereduksi alokasi waktu untuk cari tiket nih, paling tidak 30 menit.  Aku sendiri telah mengganjal perutku dengan roti yang dihidangkan oleh hotel sebelum berangkat tadi.  Aku sudah siap untuk tidak sarapan (orang Jawa belum sarapan kalau belum makan nasi - hehehehe...).  Apa boleh buat.  Sang sopir perlu sarapan agar cukup tenaga menyupir dengan selamat sampai tujuan.  Penumpang lain perlu sarapan, karena mungkin mereka belum sarapan dan agar tidak mabuk darat ketika kendaraan melewati Gunung Monte yang jalanannya meliuk-liuk bak ular menari.  Dan kupikir..... akupun perlu sarapan. Jadi enjoy aja, nikmati aja.  Lebih-lebih menunya sepertinya khas daerah sini.  Beberapa waktu di sini aku memang belum merasai keniikmatan kuliner yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya perjalananpun dilanjutkan.  Kembali mataku dihidangi pemandangan alam yang menyegarkan.  Istirahat dan sarapan tadi ternyata membuatku lebih dapat menikmati hidangan mata ini. Terima kasih ya Allah, telah menambahkan nikmatMu kepadaku.  Jam di lengan kiriku menunjukkan pukul 9.47 yang berarti pukul 10.47 waktu Sulut ketika kubaca angka 37 pada tanda jarak di pinggir jalan.  Berarti 37 Km lagi menuju Manado, atau 42 Km ke bandara.  Tapi kendaraan tidak bisa melaju secepat tadi.  Jalan berkelak-kelok tajam dan naik turun yang juga cukup curam.  Beberapa saat sebelum memasuki batas wilayah kota Manado terlihat ada polisi di tengah jalan.  Rupa-rupanya ada operasi.  Aku tenang-tenang saja, karena aku juga sering menemui hal tersebut di Jawa.  Paling-paling sopir akan ditanya mana SIM-nya, mana STNK-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mobil berhenti dan seorang polisi mendekat, ternyata yang ditanya... aku duluan. "Maaf, ada KTP pak?" Aku tersentak. Ternyata yang dirazia penumpangnya.  Wah sungguh diluar dugaan.  Ketika membaca KTP yang kuserahkan tampak Pak polisi itu mencermati dengan seksama sambil membaca alamat rumahku dengan jelas.  Ia menahan KTPku lalu diikuti dengan KTP semua penumpang.  KTP para penumpang lain telah dikembalikan semua setelah diperiksa.  Tinggal milikku dan milik Mas Shobah, asisten yang mendampingiku dalam kegiatan di Kotamobagu.  Wah berabe nih... Mana waktu sudah semakin mepet saja, bisa-bisa betul-betul tertinggal pesawat. Untung aku belum beli tiket (belum punya tiket koq untung ya?!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya peristiwa teror bom di Jakarta beberapa waktu lalu telah membuat polisi sibuk kembali.  Jadi biarlah kalau memang harus ketinggalan pesawat.  Toh ini memang perlu untuk keamanan bersama.  Toh aku belum beli tiket, jadi tidak harus kehilangan uang tiket kalau ketinggalan pesawat.  Toh kalau tidak dapat pesawat yang langsung ke Surabaya aku masih dapat memilih penerebangan lain, meskipun mungkin harus transit dan lebih lama perjalannya.  Jadi aku benar-benar memanfaatkan hikmah belum beli tiket. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikuti langkah Pak Polisi bersama Mas Shobah menuju satu sisi jalan dimana terlihat banya orang berbaris antri.  Aku dan Mas Shobah berpartisipasi memperpanjang barisan itu.  Rupanya banyak juga orang yang harus diperiksa.  Ada penduduk lokal yang tidak membawa KTP. Tapi lebih banyak yang pendatang. Dan di antara pendatang tersebut, paling banyak dari Jawa. Dan di antara orang-orang Jawa ini yang paling banyak ternyata dari Lamongan. termasuk Mas Shobah yang mendampingi saya.  Wah, wah.  Kebanyakan mereka adalah para pekerja pada berbagai proyek pembangunan di Sulut ini.  Macam-macam yang ditanyakan oleh polisi, yang lalu dicatatnya pada lembaran kertas HVS seadanya.  Aku berusaha mengintip apa saja yang dicatat, tapi susah sekali.  Tulisannya kayak resep obat, sulit sekali dibaca. Mungkin petugasnya adalah dokter yang jadi polisi dan bertugas di bagian kesehatan, tapi karena operasi ini memerlukan banyak tenaga jadi petugas kesehatanpun diikutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena antriannya banyak, 30 menit lewat barulah tiba giliranku.  Untung KTP-ku mencamtumkan profesi yang bagi beberapa (ingat, cuma beberapa) orang terhormat, yaitu dosen.  Rupanya polisi itu termasuk yang beberapa orang itu, sehingga pertanyaan yang diajukan tidak berbelit dan tidak terlalu banyak komentar.  Begitu pula kepada Mas Shobah ketika kukatakan bahwa ia adalah mahasiswaku.  Pak polisi yang mengambil KTP-ku tadi mengantar kami kembali ke mobil sambil menyampaikan permintaan maaf dan terima kasihnya atas "kerjasama"nya.  Aneh juga rasanya.  Tidak enak sekali nama kita dicatat oleh polisi dalam suatu razia, meski tidak dalam suatu kasus apapun.  Aku membayangkan betapa berat beban psikis bagi mereka yang harus mengalaminya karena kasus-kasus kriminal.  Ini pengalaman pertama, mudah-mudahan yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah selesai juga, dan perjalanan dapat dilanjutkan.  Tapi waktu yang tersedia tinggal sedikit saja.  Betapapun aku masih berharap bisa naik penerbangan yang sudah kurencanakan.  Jalanan yang menelusuri pantai Utara Sulut menjelang masuk kota Manado terasa lambat sekali.  Karena sepanjang pantai banyak orang bersantai dan rupanya kendaraan-kendaraan berjalan melambat karena di antaranya ada yang berusaha mencari tempat parkir dan bersantai yang nyaman.  Memang kulihat banyak orang bermain di laut.  Rupanya sopir kendaraan yang kunaiki termasuk pengguna jalan yang sopan dan baik, jadi sedikit sekali usahanya untuk menyalip kendaraan di depannya yang berjalan merambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tiba juga aku di bandara Sam Ratulangi. 12 menit menjelang pukul 12 waktu setempat. Aku langsung berupaya mencari loket tiket dari Sriwijaya. Tapi tidak ketemu juga.  Wah tegang juga nih. Jangan-jangan Sriwijaya tidak pasang loket di bandara ini. Aku bertanya ke salah seorang yang ada di bandara itu dan ditunjukkannya ke sebuah loket yang memang tidak ada logo atau nama Sriwijawa.  Yang ada malah logo dari operator penerbangan lain. Tapi aku berjalan juga menuju loket yang ditunjukkan tersebut.  Beruntung karena ternyata loket itu juga melayani tiket Sriwijaya.  Tapi yang ada di depat loket hanya dua orang calo.  Di dalam loket tidak terlihat ada orang. Sang calo bilang, wah sudah terlambat pak, ini sudah boarding, tapi coba saya usahakan.  Ucapan yang biasa dari calo tiket.  Tapi aku percaya, karena aku sudah memahami situasinya memang seperti itu.  "Boleh saya bawa KTP-nya pak" kata salah seorang calo. Aku serahkan KTP-ku, juga Mas Shobah.  Lalu ia berlari masuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu, aku tanyakan ke calo satunya berapa harga tiketnya.  Ia menjawab, nanti saja pak kalo memang bisa masuk.  Wah, ngeri juga kalo ia nanti pasang harga yang selangit. Tapi apa boleh buat, aku sangat memerlukan tiket itu.  Kemudian calo yang membawa KTP memberi isyarat dari balik dinding kaca bahwa kita bisa masuk.  Mulai lega hatiku.  Kutanya lagi harga tiket pada calo yang menemaniku di luar.  Ia mengatakan, "nanti saja pak di dalam".  Wah.  Aku berdoa semogga tidak dikenai harga yang melangit, sekaligus menyiapkan diri kalau itu benar-benar terjadi.  Setelah calo yang berada di dalam mendapatkan boarding pass, kami bisa masuk.  Calo yang satu membantu kami membawa barang bawaan kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah berlari kami menuju lantai 2 dari mana para penumpang biasanya memasuki pesawat.  Calo yang satu lagi masih harus membayar airport tax. Jam sudah menunjukkan pukul 12.04 waktu setempat. Pesawat sudah terlambat beberapa menit dari jadual penerbangannya.  Sesampai di lantai 2 setelah kami menerima borading pass kami, tibalah saat pembayaran.  Alhamdulillah, doa saya terkabul. Para calo tidak meminta harga yang melangit.  Bahkan lebih murah dari harga tiket berangkat saya. Karena gembiranya, saya lebihkan pembayaran tiket tersebut. Begitu saya memasuki garbarata (jembatan penghubung ke badan pesawat) saya masih melihat beberapa penumpang memasuki pesawat.  Alhamdulillah.  Terima kasih ya Allah, telah engkau mudahkan perjalanan hambaMu ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-6977278474310200746?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/6977278474310200746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/razia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/6977278474310200746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/6977278474310200746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/razia.html' title='Razia'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-8276074954867382991</id><published>2009-07-25T06:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T02:35:25.946-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Kota Bentor</title><content type='html'>Exciting.  Itu kesan pertama saya ketika untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Sulawesi Utara. Subhanallah. Sungguh suatu karunia Allah yang luar biasa.  Alam yang indah dan permai.  Tanah yang subur menumbuhkan berbagai tanaman yang ditanam penduduknya.  Sepanjang perjalanan dari Manado ke Kotamobagu terpampang hamparan kebun nyiur.  Pantas Sulawesi disebut sebagai Pulau nyiur.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan hari ini saya ada kegiatan di kota Kotamobagu. Ini bukan salah mengetik kata kota 2x, memang namanya adalah Kotamobagu yang setelah saya telusur mobagu ternyata berarti baru. Jadi Kotamobagu berarti Kotabaru sebagaimana di Kalimantan atau Kutoanyar di Jawa.  Kota yang kaya sumberdaya alam dan terletak di tengah Propinsi Sulawesi Utara ini merupakan kota yang cukup besar untuk wilayah ini.  Dulunya ia merupakan pusat kota Bolaang Mongondow sebelum kota tersebut dimekarkan menjadi 5 kabupaten dan 1 kota pada tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menarik perhatian saya begitu kendaraan yang saya tumpangi memasuki wilayah Bolaang Mongondow (sering disingkat dengan Bolmong saja).  Banyak jenis kendaraan yang tidak lazim ditemui di daerah lain.  Itu adalah kendaraan roda 3, tetapi menggunakan mesin motor. Karenanya ia disebut dengan bentor - becak bermontor.  Yang menarik dari kendaraan ini adalah modelnya yang eksotik.  Disainnya khas, dan kayaknya nyaman ditumpangi (pada saat menulis ini saya belum mencoba naik - :)) ). Motor yang digunakan kelihatannya bukan berasal dari motor bekas (seperti pernah saya lihat di salah satu kota di Jatim) tetapi dari motor baru.  Berbagai merek dengan model terbaru terlihat di jalanan dimodifikasi menjadi bentor.  Mungkin usaha bentor ini cukup menguntungkan sehingga orang-orang berani menggunakan motor yang masih baru untuk dirombak menjadi angkutan umum ini.  Dari beberapa sumber yang saya konfirm perlu duit setidaknya17 juta untuk mendapatkan bentor baru, yaitu 5 juta untuk modifikasi dan selebihnya untuk harga motor baru.  Kalau digunakan model motor berharga lebih mahal, berarti harga bentor jatuhnya juga lebih mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disain bentor sangat menarik.  Ia cukup ergonomis - penumpangnya nyaman duduk dan terlindung dari debu, angin, atau hujan. Juga kepada pengemudinya.  Bentuk keseluruhannya juga cukup aerodimais, memungkinkannya bergerak cukup lincah.  Konstruksinya terlihat cukup kokoh dan memberi kesan rasa aman bagi penumpangnya. Meskipun sebagai sebuah becak, yaitu kendaraan roda tiga dimana penumpangnya duduk di depan pengemudi, arti aman harus diselaraskan dengan kategori dari kendaraan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam hotel tempat menginal saya bisa mendengar suara musik yang cukup keras dari jalanan. Mengalir berganti-ganti, tiada henti dari pagi sampai malam. Setelah saya cek keluar, ternyata itu dari bentor yang hilir mudik di jalan. Wow.  Mereka memasang audio yang cukup kuat pada bentor-bentor tersebut (meskipun tidak pada semua bentor).  Hal itu menumbuhkan suasana yang khas.  Khas kota Kotamobagu, kota Bentor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah bentor di kota ini sangat banyak. Dari sopir yang menjemput saya, di Kotamobagu sendiri tidak kurang dari 3000 bentor beroperasi di jalan-jalan yang tidak terlalu lebar.  Secara pribadi saya sangat mengapresiasi keberadaan bentor di kota ini. Dari sudut geografis dan infrastruktur jalanan, kayaknya modus transportasi ini sesuai benar.  Modus angkutan kota seperti di kebanyakan kota di Indonesia sepertinya tidak optimal untuk memenuhi kebutuhan penduduk di sini akan jasa transportasi.  Bentor lebih fleksibel dan lebih cepat karena kapasitasnya yang tidak besar - maksimal berpenumpang 3 orang plus 1 pengemudi. Ongkosnya juga tidak terlalu mahal sehingga terjangkau oleh umumnya masyarakat - cukup kompetitif dibandingkan dengan ongkos angkot atau becak di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat bahwa keberadaan bentor ini telah menggerakkan perekonomian rakyat. Tidak hanya dari sektor transportasi atau sektor ekonomi lain yang terdongkrak karena jasa transportasi. Ia menggerakkan sisi sebelah hulu, industri bentor. Di Kotamobagu, bentor diproduksi oleh bengkel-bengkel kecil yang diusahakan oleh masyarakat kecil.  Ia juga menggerakkan jasa layanan pemeliharaan dan perawatan bentor. Saya kira dalam hal ini kota-kota di Indonesia patut meniru Kotamobagu. Berpihak kepada rakyatnya untuk tumbuh perekonomiannya - tidak lebih berat berpihak kepada industri besar yang sudah kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan orang-orang yang berkompeten dalam produksi bentor di kota ini bekerja sinergis meunmbuhkan kegiatan produksi bentor sebagai sebuah industri yang membesar sehingga mampu menjual unit-unitnya ke berbagai kota lain di Indonesia.  Bagi Kotamobagu, hal tersebut akan sangat berarti dalam meningkatkan perekonomian masyarakatnya.  Siapa tahu, dari kota yang tidak besar inilah akan tumbuh industri kendaraan bermotor yang benar-benar nasional. Tidak seperti jaman mobnas dulu yang sebenarnya hanya mengganti embleem mobil dengan merek lokal.  Mungkin dari sini Indonesia akan dapat meniru dan mengejar India dengan Tata Nano-nya. Mudah-mudahan lamunan ini benar-benar akan jadi kenyatan suatu saat. Amien.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-8276074954867382991?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/8276074954867382991/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/kota-bentor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/8276074954867382991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/8276074954867382991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/kota-bentor.html' title='Kota Bentor'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-1133301362157743047</id><published>2009-07-20T18:03:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T02:36:02.769-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Melawan aksi menjiplak</title><content type='html'>Dengan adanya Internet, ketersediaan sumber belajar bagi siswa maupun guru menjadi tersedia melimpah.  Mudah saja bagi seseorang untuk dengan segera mendapatkan pustaka rujukan melalui media ini. Karena itu mudah juga bagi seseorang untuk membuat makalah atau karya tulis atau apapun karya sejenis itu yang ditugaskan oleh dosen atau guru.  Namun kemudahan itu bukan berarti kendala dalam penyelenggaraan PBM berupa penugasan menulis artikel (paper, atau yang sejenisnya) menjadi lenyap sama sekali.  Internet telah merubah situasinya.  Masalah ketersediaan pustaka yang dahulu umumnya dikeluhkan kalanggan pendidik dan pembelajar, mungkin sekarang tidak lagi dianggap masalah.  Asal tersedia koneksi Internet (plus sedikit ketrampilan penelusuran informasi – dan bahasa Inggris) pustaka ruujukan tidak lagi menjadi masalah. Akan tetapi, saat ini justru muncul masalah yang tidak kalah memusingkannya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan komputer memudahkan seseorang menjiplak karya orang lain (saya sebut aksi CoPas – Copy Paste, ?). Bahkan aksi copas ini lebih berbahaya dari pada jaman nyontek dulu. Pada jaman nyontek dulu seseorang harus menulis ulang atau mengetik ulang naskah (atau frase) yang diconteknya. Setidaknya modus ini memastikan seseorang membaca bahan yang diconteknya. Tapi aksi copas bisa lebih parah, karena seseorang bisa terlihat telah membuat karya tulis yang luar biasa padahal ia sendiri tidak pernah (atau sedikit saja) membaca karya ”yang ditulisnya” itu.  Ada cerita seorang guru SD yang sudah senior dengan bangga memperlihatkan hasil pekerjaan rumah siswanya yang diketik mennggunakan komputer, terlihat rapi dan indah dihiasi dengan gambar dan foto yang kontekstual. Saya mengelus dada, karena bahkan pada bagian bawah halaman tersebut masih tertulis alamat Web.  Saya membayangkan, apalagi jika siswanya agak mau kerja sedikit, ia copy teks dari web, lalu ia paste pada aplikasi pengolah kata. Kalau gurunya masih menggunakan cara tradisinal dijamin deh tidak akan tercium jejak pencontekannya (kecuali ada kecelakaan lebih dari satu siswa mencontek satu sumber yang sama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, jaman komputer dan Internet semakin memanjakan kaum pelajar yang malas.  Mudah sekali membuat sebuah makalah tugas dengan teknik CoPas. Namun jaman ini sebenarnya juga memudahkan guru untuk mendeteksi peristiwa CoPas tersebut.  Jadi, meskipun mudah bagi seseorang untuk mencontek, namun mudah pula untuk memeriksanya.  Saat ini telah tersedia beberapa piranti yang disediakan untuk keperluan tersebut.  Beberapa di antaranya memang harus diperoleh dengan membayar sejumlah uang.  Kabar baiknya, ada juga yang gratis dengan kinerja yang memuaskan.  Salah satunya adalah Viper (sekarang sudah versi 1.2.03).  Cukup pasang perangkat lunak ini (bisa didownload di &lt;a href="http://download.cnet.com/Viper%20Plagiarism%20Scanner/3000-2051_4-10795356.html?part=dl-6305030&amp;amp;subj=dl&amp;amp;tag=button"&gt;sini&lt;/a&gt;) pada komputer anda, lalu anda registrasi (prosesnya sederrhana banget), kemudian anda pilih file yang mau discan, dan Viper akan memberikan laporan tentang kemungkinan adanya aksi mencontek (plagiarisme).  Insya Allah posting berikut akan saya bahas lebih rinci tentang penggunaan Viper ini. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-1133301362157743047?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/1133301362157743047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/melawan-aksi-menjiplak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/1133301362157743047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/1133301362157743047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/melawan-aksi-menjiplak.html' title='Melawan aksi menjiplak'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-3093813362631273796</id><published>2009-07-19T21:42:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T02:39:56.038-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>HP di Kelas</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;&lt;/span&gt;HP telah menjadi perangkat yang sangat lumrah dibawa oleh pelajar kita.  Banyak sekolah melarang siswa membawa HP ke sekolah karena dianggap mengganggu proses belajar mengajar.  Beberapa sekolah rajin melakukan razia HP kepada para siswanya.  Namun demikian, tidak semua orang menyukai aturan ini.  Orang tua ingin agar mereka dapat menghubungi anaknya sebelum pelajaran dimulai atau setelah usai pelajaran.  Siswa ingin menghubungi orang tuanya atau menggunakan alarm jadual untuk mengingatkannya pada kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler.  Beberapa staf sekolah mungkin memerlukannya bila terjadi keadaan darurat agar siswa dapat menghubungi keluarganya, atau bahkan polisi, dengan lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski banyak keberatan, bukan berarti dilema HP siswa di sekolah surut masalah.  Gangguan karena HP dapat semakin meningkat terlebih dengan perkembangan teknologi yang memperkaya kemungkinan modus pemanfaatannya.  HP saat iini memungkinkan penggunanya melakukan lebih dari beberapa waktu yang lalu.  Siswa dapat menggunakan HP mereka untuk menulis dan mengirim pesan, mengambil dan mengirim foto digital, dan bahkan mengambil dan mengirim klip video digital pendek, selain menggunakannya untuk melakukan panggilan.  Hampir semua hal tersebut dapat menjadi penggunaan yang tidak sesuai atau tidak diinginkan di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena alasan ini, maka banyak sekolah, khususnya tingkat menengah atas, yang membolehkan siswanya membawa HP ke sekolah tetapi tetap melarang penggunaannya selama jam-jam pelajaran – kecuali bila terjadi keadaan darurat.  Sayangnya, peraturan ini seringkali dilanggar karena siswa dapat dengan mudah menyembunyikan perangkatnya menggunakan HP yang semakin kompak dan aksesori yang semakin mungil dan nirkabel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah-masalah yang sering dihadapi para guru di kelas berkaitan dengan HP antara lain:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mengirim pesan teks selama pelajaran&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengirim atau menerima jawaban soal ujian (ingat kasus UNAS)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kekerasan dan pelecehan melalui pesan-pesan teks yang tidak diinginkan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengambil dan berbagi foto dan video digital yang tidak pantas antar siswa&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sekolah mungkin mempertanyakan apakah sekolah harus mengambil kebijakan yang ketat untuk membuat lingkungan sekolah yang lebih aman, atau membiarkan dan mengabaikan saja perilaku tidak terpuji tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melembagakan peraturan sekolah untuk melawan penyalahgunaan HP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekolah tidak memiliki peraturan yang jelas tentang penggunaan HP, maka para guru dapat menerapkan beberapa hal berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jika ditemukan HP yang aktif pada saat ujian berlangsung, maka siswa tersebut akan menerima pengurangan nilai sejumlah poin tertentu (misalnya saja 20%). Ingatka sebelumnya bahwa siswa harus mematikan HP sebelum ujian dan sangsi yang diberikan jika ada yang melanggar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika ditemukan menggunakan HP pada saat pelajaran, maka siswa tersebut menerima pengurangan nilai pada poin partisipasi di kelas. Make the deduction appropriately severe to be a deterrent.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perintahkan kepada siswa untuk memberi label namanya pada HP miliknya dan meletakkannya di sebuah tempat sebelum pelajaran dimulai.  Kembalikan HP kepada mereka setelah pelajaran usai.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HP untuk pembelajaran di kelas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ide yang mungkin cukup bijak tetapi penuh tantangan berkenaan dengan penggunaan HP oleh siswa.  Alih-alih melarang siswa menggunakan HP justru menggunakan perangkat tersebut secara terpadu untuk pembelajaran.  Berikut ini beberapa fungsi yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran:&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kalkulator.  Untuk pelajaran-pelajaran yang tidak mengharuskan siswa melakukan perhitungan luar kepala tetapi banyak mengutak-atik angka, maka piranti HP dapat sesuai untuk keperluan tersebut. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kamera digital. Tidak semua sekolah memiliki kamera digital yang dapat digunakan secar mencukupi untuk kegiatan kelas.  Dalam hal ini siswa dapat mempergunakan HP-nya untuk mendokumentasikan berbagai hal untuk membuat presentasi atau laporan multimedia.  Perjalanan dan kegiatan fieldtrip dapat direkam dan dibuat travelog digital.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akses Internet. Banyak HP yang memiliki fitur akses Internet nirkabel, sehingga membuka kemungkinan penggunaan Internet di kelas.  Pelajaran IPA dapat melakukan kegiatan lapang dan mengirimkan hasil pengamatan atau data ke situs pengumpulan data internal atau eksternal.  Students can subscribe to podcasts that you produce or offered by a multitude of other sources.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kamus.  Pada kelas bahasa atau seni siswa dapat memanfaatkan pencarian definisi dari suatu konsep dengan cepat menggunakan kamus yang terpasang pada HP.  Selain itu, siswa yag belajar bahasa Inggris dapat memanfaatkan program kamus penterjemah yang dapat dipasang di HP.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perekam suara.  Siswa dapat merekam suara guru ketika menyampaikan pelajaran untuk didengar ulang di rumah.  Cara ini dapat meningkatkan penerimaan siswa akan materi yang disampaikan di kelas.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-3093813362631273796?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/3093813362631273796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/hp-di-kelas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/3093813362631273796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/3093813362631273796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/07/hp-di-kelas.html' title='HP di Kelas'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-4912067719048858051</id><published>2009-04-04T15:50:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T14:54:01.131-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teknologi pembelajaran'/><title type='text'>NING</title><content type='html'>Untuk anda yang mengikuti MK Aplikom, SIM, maupun Teknologi Pembelajaran dapat mengikuti kegiatan online melalui tik-umm.ning.com atau tekpend-fai-umm.ning.com.&lt;br /&gt;Prosedur untuk mengikuti hal tersebut akan disampaikan di kelas. Terimakasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-4912067719048858051?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/4912067719048858051/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/04/ning.html#comment-form' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4912067719048858051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/4912067719048858051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/04/ning.html' title='NING'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-213099425661443948</id><published>2009-03-04T22:13:00.000-08:00</published><updated>2009-07-26T14:57:03.703-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teknologi pembelajaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GIS'/><title type='text'>Blog kelas GIS</title><content type='html'>Bagi yang mengikuti MK Sistem Informasi Geografis silahkan menginfokan alamat blog, dan info diri: NIM dan nama melalui komentar pada posting ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-213099425661443948?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/213099425661443948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/03/blog-kelas-gis.html#comment-form' title='55 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/213099425661443948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/213099425661443948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/03/blog-kelas-gis.html' title='Blog kelas GIS'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>55</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-8925451221948054647</id><published>2009-03-02T18:00:00.000-08:00</published><updated>2009-07-26T14:56:29.903-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teknologi pembelajaran'/><title type='text'>Kelas Aplikasi Komputer Pertanian</title><content type='html'>Untuk mahasiswa yang menempuh MK Aplikom, silahkan memposting melalui komentar posting ini berisi nama, nim, jurusan, alamat email, dan alamat blog masing-masing.  Untuk selanjutnya, tugas-tugas diupload ke blog masing-masing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-8925451221948054647?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/8925451221948054647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/03/kelas-aplikasi-komputer-pertanian.html#comment-form' title='56 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/8925451221948054647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/8925451221948054647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/03/kelas-aplikasi-komputer-pertanian.html' title='Kelas Aplikasi Komputer Pertanian'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>56</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-6119078742140822926</id><published>2009-02-26T18:54:00.000-08:00</published><updated>2009-07-26T14:53:37.081-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='teknologi pembelajaran'/><title type='text'>Tugas Blog (Kelas TekPend Pemprov)</title><content type='html'>Blog telah menjadi media pembelajaran yang banyak digunakan di berbagai sekolah. Media blog banyak digunakan untuk mempertajam kompetensi dasar akademik eXpressing dan eXchanging, yaitu kemampuan dasar akademik yang harus dimiliki oleh setiap pembelajar untuk menyajikan pengetahuan yang telah dikuasainya dan saling bertukar dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;Tugas membuat blog bagi mahasiswa yang menempuh mata kuliah Teknologi Pembelajaran ini, selain dimaksudkan agar mahasiswa mendapat pengalaman nyata membuat dan mengelola blog juga untuk mengorganisasikan tugas-tugas yang diberikan dalam perkuliahan ini.&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Buatlah blog pribadi yang nantinya digunakan untuk mengorganisasikan semua karya dari tugas-tugas yang diberikan dalam kuliah ini.  Selanjutnya keseluruhan tugas tersebut akan membentuk porto folio digital.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangan lupa untuk memberikan link kepada halaman blog teman-teman anda sekelas pada blog anda sendiri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berikan &lt;strong&gt;alamat blog &lt;/strong&gt;anda dengan cara memberi komentar pada topik ini, jangan lupa untuk menyertakan &lt;strong&gt;nama lengkap&lt;/strong&gt;, &lt;strong&gt;kelas&lt;/strong&gt;, dan &lt;strong&gt;NIM &lt;/strong&gt;anda melengkapi alamat blog anda pada komentar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selanjutnya, setiap ada tugas yang telah anda selesaikan maka upload ke blog anda tersebut.  Penilaian terhadap tugas akan dilakukan terhadap yang termuat di dalam blog anda.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-6119078742140822926?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/6119078742140822926/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/02/tugas-blog-kelas-tekpend-pemprov.html#comment-form' title='49 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/6119078742140822926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/6119078742140822926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/02/tugas-blog-kelas-tekpend-pemprov.html' title='Tugas Blog (Kelas TekPend Pemprov)'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><thr:total>49</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-299568852204791049</id><published>2009-01-01T00:57:00.000-08:00</published><updated>2009-07-26T14:28:36.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Google Earth'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GIS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kiblat'/><title type='text'>Periksa arah kiblat dengan Google Earth (2)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2. Memeriksa arah kiblat kita&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dahulu, diperlukan seorang ahli khusus untuk bisa menentukan arah kiblat dengan tepat. Misalnya saja ketika akan mulai membangun masjid atau musholla. Mungkin pada masa-masa awal Islam, orang menggunakan petunjuk (berdasarkan posisi) bintang-bintang dalam menentukan arah kiblat. Lalu ketika geografi dan geometri berkembang memadai orang mulai menggunakan perhitungan matematis untuk menentukan arah. Sekarang dengan adanya GoogleEarth (terima kasih GoogleEarth) seorang awam dapat dengan mudah memeriksa (dan atau menentukan) arah kiblatnya. Cukup memiliki akses ke komputer yang terhubung ke Internet (biar bisa akses GoogleEarth), yang telah terpasang perangkat lunak GoogleEarth (kalo belom bisa unduh dulu, ada versi gratisnya koq), lalu ikuti langkah-langkah sederhana berikut.&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Jalankan aplikasi GoogleEarth (jangan lupa komputer harus terkoneksi ke Internet, kecuali anda sudah menabung data pada cache anda sebelumnya dari daerah yang menjadi location of interest).&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SVyOnSsmIkI/AAAAAAAAAAU/lsoh9EV13gk/s1600-h/GE_isti_jkt.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286256868311048770" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 320px; height: 200px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SVyOnSsmIkI/AAAAAAAAAAU/lsoh9EV13gk/s320/GE_isti_jkt.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cari dan zoom ke lokasi dimana anda ingin mengetahui arah kiblatnya. Dalam contoh ini akan kita gunakan Masjid Istiqlal Jakarta. Lalu beri penanda lokasi (placemark) agar nantinya memudahkan kita mencari lokasi ini (perhatikan setelah anda memberikan penanda lokasi, maka penanda buatan anda tadi akan ditampilkan pada kota &lt;strong&gt;Places&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Cari dan zoom ke lokasi Ka'bah. Anda bisa melakukannya secara manual bila memiliki gambaran dimana kira-kira letaknya di muka bumi ini. Atau gunakan fasilitas search dengan menggunakan kata kunci "Ka'bah". Untuk memudahkan penelusuran selanjutnya sebaiknya beri tanda (placemark) di sekitar Kakbah.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Aktifkan perangkat ruler. Perangkat ini selain dapat digunakan untuk mengukur jarak, juga dapat digunakan untuk membantu kita memeriksa arah kiblat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tarik garis menggunakan ruler dengan titik awal adalah titik tengah bangunan Kakbah dan titik akhirnya adalah lokasi yang akan diperiksa arah kiblatnya. &lt;strong&gt;Tips&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;Karena Indonesia berjarak sangat jauh dari Kakbah, cara yang praktis setelah mengklik titik awalnya (yaitu Kakbah) lalu klik pranala penanda lokasi yang telah anda buat sebelumnya yang terletak pada kotak Places. Perhatikan bahwa setelah anda klik titik awalnya, kemanapun anda mengarahkan pointer anda akan diikuti garis lurus yang dimulai dari titik awal tersebut&lt;/em&gt;.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286260378208153058" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 320px; height: 200px; text-align: center;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SVyRzmFRreI/AAAAAAAAAAc/GfIOdQv-yzc/s320/GE_point_kakbah.gif" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Selanjutnya anda dapat menilai apakah arah kiblat masjid telah tepat menuju ke Kakbah. Silahkan anda mencoba untuk memeriksa arah kiblat masjid-masjid yang anda kenali atau yang sering anda gunakan untuk sholat. Jangan terlalu kaget dan perbanyaklah maklum jika anda menemukan masjid tempat anda biasa sholat tidak tepat mengarah ke Kakbah.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286262399714639330" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 400px; height: 250px; text-align: center;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SVyTpQx-veI/AAAAAAAAAAk/ccJDyGAIEOg/s400/GE_point_isti.gif" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Atur zoom untuk bisa melihat garis lurus yang menghubungkan Kakbah dengan masjid yang anda periksa. &lt;strong&gt;Tips: &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Anda bisa mematikan perangkat ruler untuk memudahkan zooming dan melihat tampilah tanpa tertutup kota ruler.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286263890424559746" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 400px; height: 250px; text-align: center;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SVyVACG6-II/AAAAAAAAAAs/syPQgJodBLc/s400/GE_kiblat_zoom.gif" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selamat mencoba.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-299568852204791049?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/299568852204791049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/01/periksa-arah-kiblat-dengan-google-earth.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/299568852204791049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/299568852204791049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2009/01/periksa-arah-kiblat-dengan-google-earth.html' title='Periksa arah kiblat dengan Google Earth (2)'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SVyOnSsmIkI/AAAAAAAAAAU/lsoh9EV13gk/s72-c/GE_isti_jkt.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2894794542690907207.post-7579118794528208578</id><published>2008-12-31T23:52:00.000-08:00</published><updated>2009-07-26T14:53:07.424-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Google Earth'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GIS'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kiblat'/><title type='text'>Periksa arah kiblat dengan Google Earth (1)</title><content type='html'>&lt;strong&gt;1. Arah kiblat dan ketaatan kita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi setiap muslim, tentu sangat penting untuk mengetahui arah kiblat. Karena ke arah kiblatlah wajahnya dihadapkan setiap kali melakukan sholat. Menghadap kiblat bukan saja sekedar memenuhi syarat sahnya sholat, tetapi lebih menunjukkan ketaatan seorang muslim akan perintah Allah SWT, sebagaimana yang disampaikan melalui Al Baqoroh 143.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5286240183096814210" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 320px; height: 147px; text-align: center;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SVx_cFbhqoI/AAAAAAAAAAM/efyl2L8ZWdA/s320/2_143.gif" border="0" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia (Al Baqoroh 143)&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ayat tersebut berkaitan dengan perubahan kiblat kaum mukminin dari yang sebelumnya (yaitu Baitul Maqdis) ke Masjidil Haram. Pada saat itu perintah memindah kiblat berguna untuk membedaka siapa yang benar-benar beriman (karena mentaati perintahNya) dan siapa yang munafik (mengingkari perintahNya - mengaku beriman karena ada kepentingan-kepentingan lain. Pada jaman kita sekarang, hal itu tetap berlaku, yaitu untuk menguji apakah kita mentaati perintahNya - sekalipun kita tahu bahwa Allah ada dimana-mana, sholat kita tetap mengarah ke Ka'bah).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, menghadapkan wajah ketika sholat ke kiblat (yaitu Ka'bah) bukan berarti karena Allah SWT berada di sana. Allah berada di mana-mana. Kemanapun kita menghadapkan wajah kita, ke sana kita menghadap Allah. Jadi mengapa sholat harus menghadap ke kiblat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkanlah seandainya anda adalah orang tua yang memiliki seorang anak. Lalu anda meminta/menyuruh anak anda mengambilkan beberapa lembar kertas yang ada di meja kerja anda, padahal di rumah anda terdapat banyak kertas yang sejenis di berbagai tempat. Lalu anak anda mengambilkan kertas yang terdekat dengan posisinya, bukan kertas yang berada di tempat yang anda minta. Bukankah anda akan menilai bahwa anak anda tidak cukup patuh kepada anda? (Mungkin karena maksud anda sekalian merapikan meja kerja anda!? Siapa tahu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula ketika kita harus menghadapkan wajah kita ke kiblat pada saat sholat. Meski ke arah manapun kita menghadap di sana ada Allah, tetapi karena diperintahkan kita menghadap kiblat - dan sebagai bukti ketaatan kita terhadap perintah tersebut - maka dalam sholat kita hadapkan wajah kita ke kiblat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya melaksanakan syari'at dengan disiplin adalah wujud dari ketaatan kita (yang menjadi ciri dari ketaqwaan) kepada Allah SWT. Bukannya tidak boleh kita mencari hikmah di balik suatu syari'at, tetapi dalam pelaksanaannya tidak perlulah kita bertanya mengapa perintahnya begini atau begitu. Bila diperintahkan sholat shubuh itu dua rekaat, tidak perlu lagi kita tanya mengapat sholat shubuh hanya dua rekaat ketika kita mau melaksanakannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2894794542690907207-7579118794528208578?l=resonansi-wahono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/feeds/7579118794528208578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2008/12/periksa-arah-kiblat-dengan-google-earth.html#comment-form' title='12 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7579118794528208578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2894794542690907207/posts/default/7579118794528208578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resonansi-wahono.blogspot.com/2008/12/periksa-arah-kiblat-dengan-google-earth.html' title='Periksa arah kiblat dengan Google Earth (1)'/><author><name>Wahono</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SanYvg6_N5I/AAAAAAAAABc/-4crazXW1v0/S220/me.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SNvBhMjHtP8/SVx_cFbhqoI/AAAAAAAAAAM/efyl2L8ZWdA/s72-c/2_143.gif' height='72' width='72'/><thr:total>12</thr:total></entry></feed>
