Kebanyakan kita sepakat bahwa kita ini hidup di dunia 3 dimensi. Yaitu dunia ruang yang secara geometrik memiliki 3 sumbu: panjang, lebar, dan tinggi. Pernahkah kita membayangkan dunia dengan dimensi yang tidak 3? Mari kita coba "merekonstruksi" secara imajinatif suatu dunia yang tidak 3 dimensi, tetapi dua dimensi.
Dunia dua dimensi atau dunia bidang datar hanya memiliki dua sumbu saja, yiatu panjang dan lebar saja. Tidak ada tinggi. Dalam dunia yang seperti itu, kita misalkan terdapat obyek-obyek yang secara fungsional selaras dengan dunia 3 dimensi kita. Maksudnya: dalam dunia tersebut ada makhluk hidupnya yang bermasyarakat, ada tanaman, ada rumah, dan seterusnya.
Wujud dan Persepsi
Sebagaimana dunianya yang berupa bidang datar, maka segala sesuatu yang ada "di dalamnya" juga mengikuti sifat fisik tempat keberadaannya tersebut. Artinya, yang bisa eksis dalam dunia bidang datar hanyalah obyek-obyek yang tidak memiliki tinggi, mungkin sebuah poligon, garis, atau titik. Maka kita dapat mengkonstruksi makhluk imajiner di dunia bidang datar misalnya berupa poligon-poligon. Strata sosial terbentuk dengan pengelompokan makhluk-makhluk tersebut berdasarkan jumlah sudut yang dimilikinya. Dalam hal seperti ini, makhluk segi tiga berada pada strata sosial paling bawah, dan lingkaran berada pada strata paling atas.
Katakanlah setiap makhluk hidup di dunia bidang datar tersebut juga dilengkapi dengan indera untuk mengenali lingkungannya. Meskipun terdapat banyak ragam wujud makhluk dua dimensi tersebut, namun persepsi mereka terhadap satu dengan lainnya relatif sama. Bagi seorang poligon yang tinggal di dunia bidang datar, obyek sekeliling yang bisa dilihatnya semuanya berbentuk garis. Dalam persepsi seorang lingkaran, seorang segitiga terlihat sebagai sebuah garis. Demikian pula sebaliknya.
Tentu saja seseorang dapat mendekati orang lainnya lalu merabanya. Maka ia akan dapat meraba sudut-sudut yang dimiliki oleh orang yang dirabanya. Walaupun demikian penglihatannya tetap memberi persepsi bahwa yang dilihatnya hanyalah sebuah garis. Diperlukan kemampuan abstraksi matematis tingkkat tinggi bagi mereka untuk merekonstruksi "wujud yang sesungguhnya" dari obyek yang dirabanya tadi. (Itulah sebabnya lingkaran berada pada strata yang lebih tinggi karena wujudnya yang bersudut tak terbatas membuatnya lebih peka merasakan sudut yang dimiliki orang lain. He he he he).
Perbandingan interdimensi
Apa makna membagun dunia imajiner dua dimensi tersebut bagi kita? Ilustrasi sebelumnya mendeskripsikan betapa sulitnya seorang poligon mengenali wujud temannya yang berbentuk segi tiga dan sebaliknya. Pada gambar ilustrasi berikut, di mata A: B hanyalah terlihat sebagai sebuah garis, dan A akan sangat kesulitan melihat C karena terhalang oleh B.
Penglihatan mereka begitu terbatasnya. Jangankan hendak melihat obyek di balik obyek, bahkan melihat obyek yang sebenarnya mereka benar-benar tidak akan mampu. Paling-paling mereka hanya akan mampu membangun visual imajiner. Tapi cobalah pandang bentuk-bentuk pada gambar di atas. Begitu mudah bagi kita (makhluk 3 dimensi) untuk mengetahui wujud dari obyek bidang datar tersebut. Kita bisa mengidentifikasi bahwa A adalah sebuah segi empat, B adalah lingkaran dan C adalah segi lima. Kita bisa melihat keadaan mereka sekaligus, karena di antara mereka tidaklah saling menghalangi di mata kita. Bahkan kita bisa mengetahui apa yang ada di dalam poligon-poligon tersebut, sesuatu yang mustahil bagi mereka yang berada dalam dunia dimensi yang sama dengan mereka.
Bahkan lagi, seandainya ukuran obyek-obyek dua dimensi itu jauh melebihi ukuran tubuh kita, masih mudah bagi kita untuk membangun persepsi visual sebagaimana jika ukuran mereka kecil. Sebaliknya, mereka tidak akan pernah mampu melihat kita: seberapapun dekatnya kita dengan mereka. Seandainya kita menempelkan jari kita ke obyek dua dimensi, dan (sekali lagi, seandainya) mereka adalah makhluk hidup dua dimensi yang memiliki indra persepsi visual tetap saja mereka tidak akan mampu melihatnya. Paling banter mereka hanya bisa melihat tanda-tanda keberadaan kita dari bayangan yang terefleksi ke dunia bidang datar mereka.
Begitulah hubungan perspektif antar dimensi. Marilah sekarang kita melakukan ekstrapolasi perbandingan antar dimensi tersebut pada dunia tiga dimensi kita dengan dimensi yang lebih tinggi. Dimensi yang lebih tinggi dari 3? Lelucon apakah itu? Sama sekali bukan sebuah joke. Einstein telah memulai dengan meyatakan bahwa dunia ini 4 dimensi dengan menegaskan bahwa ada 3 sumbu ruang dan 1 sumbu waktu. Bagi Einstein keberadaan waktu hanyalah konsekuensi logis dari keberadaan ruang. Lalu Kaluza dan Klein (1921) mengembangkan lebih lanjut bahwa dunia ini adalah suatu konstruksi 5 dimensi, ia menambahkan satu sumbu ruang pada model 4 dimensi Einstein.
Kini para fisikawan bahkan memiliki spekulasi yang lebih fantastis, dunia berdimensi 11. Mereka mengklain bahwa dengan dimensi 11 semua teori fisika dapat dipadukan menghasilkan teori segalanya. Dan salah satu tokoh penting dibalik hipotesis tersebut adalah Randall. Bagi mereka, keberadaan blackhole merupakan pendukung penting teori extra dimensions (lihat Quantum Black Hole, Unseen Dimension oleh Mu, D., 2006).
Implikasi buat kita.
Banyak hal penting dari perkembangan pengetahuan tentang fisika ini bagi kita. Jika dunia kita ini adalah dunia 4 dimensi (yaitu ruang 3 sumbu dan waktu, karena hanya itulah yang mampu kita persepsi), maka masih terdapat 7 sumbu dimensi di atasnya. Tidak mungkinkah langit yang dimaksud dalam al Quran itu sebenarnya adalah extra dimensions? Ingatkah kita bahwa Nabi Muhammad saw. diperjalankan dalam Mi'roj ke langit ke 7. Hanya Allah yang Maha Tahu.
Yang jelas, banyak hal di al Qur'an yang bisa dijelaskan dengan baik dengan menerapkan pengertian bahwa langit yang dimaksud adalah extra dimension. Salah satunya sifat Maha Melihat. Ilustrasi di atas menjelaskan bagaimana yang berada di dimensi lebih tinggi bisa melihat segala sesuatu di dimensi lebih rendah yang tidak akan dapat dilakukan oleh mereka yang tinggal di dimensi rendah tersebut. Bahkan seandainya jaraknya begitu dekat, seperti Sesuatu yang lebih dekat dengan urat nadi leher kita. Sungguh hanya Dia yang Maha Tahu.
(Masih banyak hal di alQur'an yang bisa dijelaskan dengan pendekatan ini. Semoga Allah memberi kekuatan dan pengetahuan agar saya bisa menulisnya. Amien.)
23 Januari, 2010
Dunia Bidang Datar
19 Januari, 2010
Idolaku Mak Lampir!
Hihihihihi..... tawa yang mengerikan jika terdengar di tengah malam nan senyap. Itu tawa ciri khas Mak Lampir, tokoh antagonis dalam serial yang terkenal di TV beberapa waktu yang lalu. Rasanya tokoh inilah yang membikin serial tersebut terkenal, karena sebagian orang bahkan sudah lupa siapa tokoh protagonisnya. Peran Mak Lampir begitu mengesankan banyak orang sehingga melekat erat dalam ingatan. Begitu juga dengan saya, setelah saya coba mengingat kembali tokoh-tokoh dalam serial itu rasanya agak kesulitan. Tapi bukan karena kesan peran yang kuat itu saya mengidolakannya.
Mak Lampir jadi idola? Whuihhh, apa saya telah kehilangan tokoh patron yang lebih baik karena jaman sekarang banyak pemimpin negeri ini yang tidak bisa dijadikan panutan. Begitulah beberapa teman mencibir saya ketika saya sampaikan bahwa salah satu idola saya adalah Mak Lampir. Aneh-aneh saja... apa anda mengikuti nasehat Ronggowarsito sepenggal saja: "... yen ora edan ora keduman...". Begitu kata yang lain, menyangka saya berubah haluan sehingga harus mencari patron yang "gila" agar saya bisa "meniru kegilaannya sehingga mendapat bagian dunia ini". Naudzubillahi min dzalika.
Tapi memang benar bahwa saya menjadikan Mak Lampir sebagai salah satu sumber inspirasi saya. (So what, gitu loh). Saya begitu menghayati bahwa tidak ada sesuatupun yang diciptakan Allah di alam ini dalam kesia-siaan. Bukankah sejahat-jahat makhluk ia tetap ciptaan Allah? Jadi, pasti tidaklah ia diciptakan dalam kesia-siaan. Lalu, apakah kemanfaatan dari kedzaliman mereka itu? Jawabannya, tidakkah kita bisa belajar dari mereka bagaimana kerusakan dapat terjadi karena nafsu angkara murka mereka? Tidak bisa jugakah kita belajar dari akibat perbuatan mereka itu untuk lebih mampu mengendalikan diri? Bahkan, tidak bisakah kita belajar hal-hal "baik" dari mereka?
Tapi..., ada nggak sih yang bisa kita pelajari dari seorang tokoh seperti Mak Lampir itu? Janganlah kita menutup mata kita dengan kacamata kuda yang hanya menilai sesuatu dari sudut pandang yang sempit. Lihatlah bagaimana "istiqomahnya" Mak Lampir. (Mak Lampir istiqomah??? hiks.) Cermati jalan cerita Mak Lampir: ia begitu setia dengan tujuannya, melampiaskan nafsu untuk menguasai semuanya. Ia tidak pernah putus asa menghadapi segala rintangan yang menghadang tujuannya itu. Bukankah ia istiqomah? Perkara bahwa tujuannya itu duaratus persen salah, itu adalah halaman lain. Coba simak ini: Kalau berbuat jahat saja banyak hambatannya, kenapa berbuat baik kita tidak istiqomah? kenapa kita begitu mudah putus asa menjalankan ibadah? sedikit halangan saja sudah memberikan cukup alasan bagi kita untuk menunda atau membatalkan niat ibadah. Kenapa kita harus malu belajar dari Mak Lampir untuk beristiqomah padahal niat dan cara yang kita tempuh haqqul yakin adalah hal yang baik?
Belajarlah dari sikap tawakalnya Mak Lampir. (Glodak... ada yang jatuh mendengar Mak Lampir bertawakal. he he he he). Lihatlah bagaimana yang dilakukannya untuk mencapai tujuannya. Ia mengkonsolidasikan sumberdaya (sekutu-sekutunya), bikin planning, action (menyerbu musuh-musuhnya), kalah lalu melarikan diri (evaluasi yang cermat, he he he he). Setelah kalah, ia cari sumberdaya baru lagi, susun strategi baru, bertindak lagi, hampir menang tapi kalah lagi, lari lagi. Begitulah jalan ceritanya terus menerus. Coba ingat-ingat apakah pernah Mak Lampir menangis menghadapi kekalahannya? Justru ia tertawa, hi hi hi hi. Ia tidak meratapi dengan jeritan tangis nan pilu setiap kekalahannya. Ia tertawa dan kemarahannya membuat semangat tempurnya semakin membara. Tidak bisakah kita belajar dari Mak Lampir untuk tidak meratap dan melolong kesedihan setiap kita dihadapkan pada kegagalan. Tidakkah juga kita bisa belajar dengan kegagalan itu untuk membakar lebih banyak minyak semangat dalam diri kita sehingga justru kita akan mampu berbuat yang lebih besar? Tidak bisakah kita tawakal untuk pantang mundur dan tidak bersedih hati menyesali upaya kita yang belum berhasil? Jika ada jawaban tidak, maka belajarlah dari Mak Lampir. Ia bisa menjadi idola yang baik untuk sikap pantang menyerah, tidak putus asa, dan menerima kenyataan dengan keriangan yang sama apakah itu keberhasilan atau kegagalan.
23 Oktober, 2009
Sangkal Putung? Yes!
Beberapa hari yang lalu Allah memberikan bahan pelajaran yang sangat berharga bagiku. Karena hal yang sangat sepele, saya jatuh kemudian kaki terkilir. Rupanya ada persendian yang sedikit bergeser yang menimbulkan rasa sakit yang sangat. Mula-mula aku tidak menyadari hal tersebut. Kusangka keseleo otot biasa dan dengan sedikit gosokan minyak tawon plus urutan pelan akan segera sembuh. Tapi, ternyata tidak. Bahkan sakitnya makin menjadi. Akhirnya aku menyadari ada tonjolan yang tidak wajar sebagaimana kalau kaki bengkak karena keseleo.
Khawatir ada tulang yang retak, akhirnya akupun pergi ke suatu laboratorium klinis untuk foto rontgen. Alhamdulillah, hasilnya tidak ada yang retak. Maka aku mengambil keputusan untuk menggunakan jasa sangkal putung. Sangkal putung adalah salah satu metode tradisional yang cukup masyhur di Jawa untuk membetulkan dan merawat orang yang mengalami patah tulang atau sendi lepas. Datanglah sang tukang sangkal putung yang memang sudah kukenal orangnya ke rumah. Setelah memeriksa sesaat kakiku yang sudah bengkak, ia memberikan beberapa penjelasan tentang kondisi kakiku.
Karena penggunaan istilah yang berbeda dengan bahasa yang saya pahami, saya harus menanyakan secara mendetail apa yang ia maksudkan. Maklumlah, ini pertama kalinya saya melihat seorang sangkal putung menjalankan aksinya. Dan, itu langsung terhadap diriku sendiri. Ternyata apa yang ia maksudkan itu sama dengan gambaran yang kuperoleh dari hasil rontgen. Akhirnya aku menyiapkan diri untuk mulai menjalani terapi. Aku sudah membayangkan itu akan sakit sekali. Ternyata, memang sakit sekali. Tapi aku sudah menyerahkan seluruh kepercayaanku padanya, karena aku sudah meniatkan usahaku menyembuhkan diri ini sebagai ibadah. Subhanallah! tidak beberapa lama rasa sakit itu mulai berkurang. Terutama setelah sang sangkal putung melakukan beberapa pijatan di bagian kakiku sebelah kiri yang tidak mengalami masalah.
Perkara pijatan di sisi kaki yang tidak sakit sebenarnya membuat aku agak bertanya-tanya. Itu adalah sesuatu yang awalnya tidak aku pahami kemungkinan hubungannya. Setelah aku renungkan, aku sedikit memahami kemungkinannya. Sangat mungkin bagian yang ia pijat itu berhubungan dengan syaraf ke otak yang mengatur rasa sakit. Saya tidak tahu bagaimana meknisme kerjanya sehingga rangsangan berupa pijatan (yang terasa cukup sakit itu) di kaki kiri yang tidak apa-apa dapat mengurangi rasa sakit pada kaki kanan yang bermasalah. Tapi kesadaran baru muncul bahwa ternyata pusat rasa sakit itu bukan pada organ yang bermasalah, tapi di otaklah tempatnya. Ini mengoreksi pendapatku pada paragraf sebelumnya bahwa pusat rasa sakit itu terletak pada organ yang bermasalah. Sayang sekali tidak sempat kutanyakan ini pada sang sangkal putung karena hal ini baru terpikir setelah orangnya pulang.
Mungkin karena kecapekan menahan rasa sakit seharian dan rasa sakitnya itu sendiri sudah berkurang saya dengan cepat tidur. Menjelang subuh, saya terbangun dan ingin buang air. Saya coba untuk berjalan menuju kamar kecil. Subhanallah! saya bisa tertatih berjalan ke toilet. Padahal kemarinnya, untuk dudukpun harus meringis menahan sakit karena kaki yang bermasalah tidak bisa diajak ke posisi tegak. Dan sekarang, 2 hari setelah diterapi sangkal putung, keadaan kakiku semakin baik. Hari ini saya sudah pergi ke kantor, meski sebentar. Saya juga sudah bisa ikut sholat Jumat di masjid, meski harus bawa kursi plastik karena belum bisa duduk di bawah dan tahiyat. Alhamdulillah...
Tahukah anda sang sangkal putung tersebut? Ahhhh... ia belajar pengetahuan dan ketrampilan dari ayahnya. Ayahnya belajar dari ayahnya - kakek sang sangkal putung tersebut. Begitu katanya seterusnya. Jadi itu adalah ilmu turun temurun. Ia tidak pernah mengenyam bangku kuliah. Bahkan ia menghindar ketika kutanya SMPnya dimana? (Kutanyakan ini karena jangan-jangan ia dulu satu sekolah dengan saya, bukan karena maksud yang lain). Jangankan belajar teori yang mendalam, bahkan ilmu sangkal putung itu ia pelajari hanya dengan melihat yang dilakukan ayahnya. "Kalau mau belajar, lihat saja le.." begitu ia mengutip nasihat ayahnya saat ia masih kecil sekali. Tapi, ilmu turun-temurunnya itu ternyata, dengan seijin Allah, efektif menyelesaikan masalah tulang kaki saya. Ahhhh... ternyata pengetahuan tradisional kita tidak kalah dengan ilmu orthopedic modern. Terutama dalam hal efektifitas dan biayanya. Saya bisa bayangkan bahwa biaya yang saya keluarkan akan jauh lebih besar kalau saya pergi ke dokter ahli tulang.
Sangkal putung? Yesss...! Ya Allah, terimalah amal saudaraku sang sangkal putung tersebut sebagai ibadah yang Engkau banggakan. Mudahkanlah jalan baginya untuk dapat menolong orang-orang lain yang Engkau uji tulang-tulang tubuh dan ototnya dengan masalah dan rasa sakit. Banyakkanlah rejekiMu kepadanya agar ia dapat menghidupi keluarganya dengan baik dan dapat menolong orang dengan ikhlas. Peliharalah hatinya agar ia hanya berniat menolong orang lain karena hendak mencari ridloMu. Amin.
09 Oktober, 2009
Akal Sehat v.s. Kesombongan
"Bahkan bila ada nasehat yang masuk, dengan mencibir kita mempertanyakan - emangnya siapa loe? golongan apa loe? umur berapa loe? - Itulah pukulan-pukulan hook dan jab sang nafsu dan kesombongan. Tidak penting bahwa pukulan itu tidak indah atau bahkan menabrak aturan main, yang penting sang akal sehat bisa terkapar KO.
Setiap hari terpampang ke hadapan kita banyak pelajaran. Semua hal yang bisa kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan adalah bahan-bahan pelajaran hidup kita. Akan tetapi ternyata sering sekali kita melakukan suatu kesalahan padahal sesungguhnya sebelumnya telah dipaparkan pelajaran tentang hal itu kepada kita. Posting saya beberapa waktu lalu mengurai penyebab mengapa kita tidak dapat menerima ilmu baru. Membaca kembali posting itu saya teringat satu kisah besar yang dialami salah seorang yang paling dicintai Allah di bumi ini: Nabi Ibrahim a.s.
Alkisah, setelah kurang sukses mengajak kaumnya (trmasuk Tarikh atau Azar ayahnya sendiri) untuk beriman kepada Allah secara persuasif akhirnya Ibrahim a.s. memilih pendekatan yang agak berbeda. Ia menghancurkan berhala sesembahan kaum pagan saat itu dan menyisakan satu yang terbesar dan mengalungkan alat penghancurnya kepada berhala yang tersisa tersebut. Tentu saja orang-orang menjadi heboh sehingga akhirnya ditangkaplah Ibrahim a.s. untuk dihadapkan kepada Namrudz - sang raja nan kejam. Lalu diinterogasilah Ibrahim a.s. oleh
Namrudz. Kira-kira dalam gaya saat ini, sebagai berikut:
Namrudz: "Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?"
Ibrahim a.s.: "Mengapa engkau tidak tanyakan pada sesembahanmu yang masih utuh itu? Bukankah ia yang membawa kapaknya? Bukankan ia di sini terus menerus? Pastilah ia menyaksikan siapa yang menghancurkan patung-patung yang lain."
Namrudz: "Hai Ibrahim, tololkah engkau? Bagaimana mungkin patung itu bisa menjawab pertanyaanku!"
Ibrahim a.s.: "Hai Namrudz, kalau engkau tahu tuhanmu itu bahkan tidak mampu menjawab pertanyaanmu, lalu mengapa engkau masih begitu bodoh untuk terus menyembahnya?"
Namrudz dan kaumnya terhenyak mendengar argumentasi Ibrahim a.s. Akal sehatnya tidak dapat menolak argumentasi yang sungguh-sungguh kuat seperti itu. Akan tetapi kesombongannya kemudian membuat hati mereka mengeras dan berkepala batu. "Jika aku benarkan si Ibrahim itu, bagaimana nanti kedudukanku di hadapan rakyatku? Tidakkah mereka akan melihat Ibrahim lebih baik dariku? Tidakkah itu akan merendahkan martabatku? Jangan-jangan setelah aku akan kehilangan kekuasaanku..." Demikianlah kira-kira pergulatan batin di hati Namrudz. Akhirnya nafsu dan kesombongannya memukul KO akal sehatnya. Meskipun akal sehatnya tidak dapat menolak kebenaran argumentasi Ibrahim a.s., namun karena nafsu dan kesombongannya hukuman bakar dijatuhkan kepada Ibrahim.
Kisah Ibrahim a.s. tersebut menggambarkan dengan baik pertarungan antara akal sehat dengan nafsu dan kesombongan. Sekaligus kisah itu memperingatkan kepada kita bahwa mungkin saja nafsu dan kesombongan mengalahkan akal sehat. Dalam kehidupan modern kita sehari-hari pertarungan tersebut juga dapat kita temukan di mana-mana. Ia dapat berupa berbagai konflik yang ada di sekitar kita. Akan tetapi, sesungguhnya di dalam diri kita setiap hari terjadi pertempuran yang seru antara dua kubu tersebut.
Cobalah bertanya kepada para perokok. Adakah di antara mereka yang tidak mengetahui bahaya dan kerugian merokok terhadap diri mereka? Saya sangsi pada jaman seperti ini akan ada yang bisa menemukan orang tersebut. Namun, berhentikan mereka merokok? Meskipun akal sehat mereka mengetahui bahaya-bahaya dan kerugian merokok? Justru banyak orang tidak berhenti!! Tanyalah pada sesiapa saja, adakah yang tidak tahu bahwa berbohong itu, sekecil apapun, akhirnya akan menyulitkan dan merugikan diri sendiri? Saya yakin tidak ada yang tidak tahu. Tapi, berapa orang yang kemudian bersungguh-sungguh berusaha berhenti berbohong dalam hidupnya? Terus terang saya sangat mengkhawatirkan diri saya sendiri.
Contoh-contoh itu hanyalah sekelumit yang mudah ditemukan dan dikemukakan. Akan tetapi, sesungguhnya pada setiap hal yang akan kita lakukan dan atau kita putuskan selalu terjadi pertempuran itu. Tidak henti-hentinya nafsu dan kesombongan melancarkan jab dan hook yang mematikan pada akal sehat. Yang akhirnya membuat akal sehat terkapar di atas ring hati kita. Meskipun telah disediakan banyak pelajaran hidup kepada sang hati dalam diri kita, tetap saja tidak mudah bagi akal sehat untuk memenangkan pertarungan itu. Bahkan bila ada nasehat yang masuk, dengan mencibir kita mempertanyakan "emangnya siapa loe? golongan apa loe? umur berapa loe?". Itulah pukulan-pukulan hook dan jab sang nafsu dan kesombongan. Tidak penting bahwa pukulan itu tidak indah atau bahkan menabrak aturan main, yang penting sang akal sehat bisa terkapar KO.
(Naudzubillah min dzalik. Ya Allah, tunjukkanlah yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil. Dan berilah kekuatan kepadaku agar dapat memenangkan di dalam diriku yang haq itu atas kebathilan.)
Selengkapnya....
01 Oktober, 2009
Ujian Nasional Remidi
Orang sudah mahfum bahwa musibah yang menimpa seseorang itu bisa berarti hukuman bisa juga berarti ujian. Ia menjadi hukuman bagi orang-orang yang ingkar dan menjadi ujian bagi orang-orang yang beriman. Demikianlah, tentu kita akan meletakkan musibah yang tengah menimpa saudara-saudara kita di Sumatera Barat dalam kelompok ujian. Itu karena kita tidak mau meletakkan diri kita sendiri ke dalam kelompok orang-orang yang ingkar. Naudzubillahi min dzalik. Namun, terbetik juga pertanyaan, mengapa kita harus menerima ujian itu lagi dan lagi?
Ya, mengapa kita harus menghadapi ulang ujian-ujian itu? Sebenarnya hal tersebut tidaklah aneh benar, karena pada dasarnya seluruh hidup kita ini berisi ujian. Bagi seorang siswa, terdapat dua kemungkinan kenapa ia harus menghadapi lagi soal-soal ujian. Kemungkinan pertama adalah bahwa ia merupakan seorang siswa yang cerdas. Banyak sekolah sekarang ini menyediakan kelas-kelas akselerasi, atau kelas-kelas dengan sistem modul. Seorang siswa yang telah menyelesaikan satu modul, setelah belajar dengan cepat ia dapat mengambil ujian berikutnya. Ia tidak perlu menunggu waktu yang reguler untuk menyelesaikan ujian-ujian yang harus dilaluinya. Semakin pintar ia, semakin cepat ia harus menghadapi ujian berikutnya. Setiap kali melewati satu ujian ia merasa lebih bersyukur.
Tapi, ujian juga bisa diberikan lagi kepada siswa yang tidak memenuhi standar ketuntasan minimal. Ujian yang demikian umum disebut sebagai remidi. Siswa harus menempuh remidi karena ia dianggap tidak lulus ujian sebelumnya. Remidi bisa berkali-kali bila si siswa tidak juga berhasil memenuhi standar ketuntasan minimal tersebut. Bila demikian, tentu kita tidak suka menyebutnya sebagai siswa yang pintar. Si siswa sendiri sangat mungkin merasa semakin tertekan bilamana waktu ujiannya tiba.
Jadi, ujian berupa bencana yang bertubi-tubi bagi kita tersebut ujian peningkatan kompetensi atau ujian remidi? Marilah kita lihat perbedaan dari kedua kategori ujian tersebut. Bagi kategori pertama, tingkat kesulitan ujian yang dihadapi tidak akan sama antara satu ujian dengan ujian berikutnya. Kepada seorang siswa kelas 2, tidak akan diberikan "hanya" soal-soal yang dimaksudkan untuk siswa kelas 1. Tingkat kerumitan soal akan meningkat. Sebaliknya dengan soal ujian remidi, "tingkat kesulitannya" sama meskipun soalnya berbeda. Bahkan pada kasus remidi yang berulang-ulang, mungkin guru akan menurunkan tingkat kesulitan tersebut.
Maka, kita bisa melihat ujian bencana yang diberikan kepada bangsa ini: apakah "tingkat kesulitannya" sama atau berbeda dari satu ujian ke ujian berikutnya. Saya pribadi sangat khawatir bahwa sebenarnya tingkat kesulitan soal yang diberikan kepada kita itu sama saja. Artinya, saya sangat khawatir bahwa kita ini adalah murid-murid yang tidak pintar yang masih harus menempuh remidi. Apakah saya mendasarkan kekhawatiran ini pada fakta bahwa bencana yang diberikan kepada kita ini sama dari waktu ke waktu? BUKAN!!! Apalagi berharap bahwa skala dan intensitas bencana yang lebih besar untuk menyesuaikan dengan pandangan bahwa tingkat kesulitan yang lebih besar berarti kita ini naik kelas. SAMA SEKALI BUKAN ITU!
Tingkat kesulitan TIDAK BERARTI intensitas bencana. Jadi, gempa bumi dengan skala richter yang lebih besar BUKAN BERARTI tingkat kesulitan ujian yang lebih tinggi. Bayangkanlah soal berhitung untuk siswa kelas 1 SD. Berapa 2 + 2? Soal ini begitu sederhana. Mudah dipahami apa yang ditanyakan. Tidak memerlukan pemahaman konseptual yang rumit untuk menangkap inti dari pertanyaannya. Bayangkan dengan soal-soal yang diberikan untuk siswa-siswa pada level pendidikan yang lebih tinggi. Diperlukan upaya pemahaman konseptual yang lebih keras hanya untuk menangkap maksud soal yang sebenarnya, meskipun dengan simplifikasi yang intensif esensinya sama saja dengan soal anak-anak SD. Secara sederhana, soal 2+2 = ... itu tingkat kesulitannya sama saja dengan 200 + 200 = ... Dan, a+1 = 3 lebih memerlukan pemahaman konseptual tentang apa yang dipertanyakan (baca: tingkat kesulitannya lebih tinggi) dari pada 2+2 = ... Meskipun besaran angkanya lebih rendah, tetapi tingkat kesulitannya lebih tinggi. Jadi ujian hidup yang lebih tinggi tingkat kesulitannya, bukan berarti harus berupa bencana yang lebih besar.
Lalu, apa dasar kekhawatiran saya? Karena ujian yang diberikan berupa bencana, maka mungkin kita ini masih siswa tingkat rendah. Mengapa? Karena soalnya begitu mudah dipahami apa yang dipertanyakan. Marilah kita lihat soal "ujian nasional" kita kali ini. Ya, ini adalah ujian nasional karena meskipun kasusnya terjadi di Sumbar tetapi sebenarnya soalnya harus diselesaikan oleh semua anggota bangsa ini. Kasus soalnya hanya satu, yaitu bencana gempa bumi. Tetapi maksud soalnya bermacam-macam tergantung siapa dan dimana kita. Bagi mereka yang terkena langsung bencana tersebut maka ujiannya adalah soal kesabaran. Jelas bagi kita bahwa adanya bencana menuntut kesabaran pada yang mengalaminya. Akan tetapi mudahkah kita memahami bahwa tanpa bencanapun kita ini dituntut kesabaran? Begitu tidak sabarannya kita selama ini pada masa-masa tidak ada bencana. Begitu mudahnya kita ini marah kepada saudara kita sendiri. Begitu tergesa-gesanya kita sampai-sampai melanggar berbagai rambu agama. Tergesa mau kaya, maka korupsi. Tidak sabar menunggu waktu ketemu tempat sampah, maka sampah kita buang di sembarang tempat. Tidak sabar menunggu terkumpulnya keuntungan dalam berdagang, maka kita tidak jujur dalam berjualan. Dan masih banyak lagi contoh lain. Pada waktu itu kita tidak pintar membaca soal ujian hidup kita: "kamu harus bersabar". Maka Sang Maha Guru "menurunkan" tingkat kesulitan soal agar lebih mudah dipahami bahwa dalam hidup dituntut kesabaran, dan terjadilah apa yang dikehendakiNya.
Bagi kita yang tidak terkena langsung, bencana itu adalah ujian ketaqwaan. Sesama muslim adalah saudara, persaudaraan seiman. Begitulah kita ini diperintahkan, yaitu memperlakukan mereka yang seiman sebagai saudara. Menerapkan hal ini dalam kehidupan merupakan wujud dari ketaqwaan. Sebaliknya, berarti kita mengacuhkan perintah - yang juga bermakna kita kurang bertaqwa. Jelas bahwa bencana menuntut rasa persaudaraan di antara keluarga satu bangsa. Dituntut bagi kita untuk menolong saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana. Ini adalah soal ujian dengan tingkat kesulitan yang mudah dipahami. Akan tetapi, tanpa bencana itu kita seakan sulit memahami bahwa kita ini bersaudara. Saling fitnah, menumbuhkan kebencian satu dengan yang lain, saling merendahkan antar kelompok, merasa yang paling benar, dan tidak rajin saling tolong dalam kebaikan. Agaknya tanpa bencana itu kita tidak mampu memahami soal ujian ketaqwaan dari perintah untuk bersaudara. Barangkali itulah sebabnya Allah menurunkan bencana, agar kita bisa memahami soal ujianNya. Karena bencana itu adalah soal ujian yang lebih mudah.
Bagi kita sebagai sebuah bangsa, agaknya bencana ini adalah soal tentang bagaimana hidup berjamaah. Dengan bencana mudah bagi kita memahami bagaimana sebagai sebuah bangsa pemimpin harus memperhatikan rakyatnya, pemimpin harus memberi teladan kepada yang dipimpin. Di masa tanpa bencana mungkin kita ini tidak memahami soal yang diberikan sehingga pemimpin tidak memperhatikan dan memberi teladan yang dipimpinnya. Mudah-mudahan kita kali ini lulus ujian remidi ini dan dapat belajar bagaimana harus membaca soal pada waktu berikutnya.
29 September, 2009
Bertanyalah.
Saya masih ingat bagaimana rasanya saat pertama kali menjalankan tugas mengajar. Dada berdegup-degup. Gembira dan bahagia karena merasa mendapat kepercayaan (meski gajinya kecil kalau dibandingkan kesempatan kerja yang saya tinggalkan). Saya buat persiapan sebaik-baiknya: bikin rencana pembelajaran yang cukup rinci; menyiapkan slide-slide (masih pakai transparansi waktu itu). Dan yang terpenting, menyiapkan penguasaan materi sebaik-baiknya agar tidak memalukan karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan di kelas.
Begitulah. Hari pertama mengajar di kelas betul-betul pengalaman yang exciting. Segala persiapan yang telah kulakukan rasanya cukup untuk membuat diri confident. Segalanya berjalan lancar, sebagaimana yang kuharapkan. Namun, tetap ada terselip perasaan was-was kalau-kalau ada mahasiswa yang iseng mencoba ngetes dosennya. Kalau ada yang mengajukan pertanyaan untuk ngetes saya, tentu berupa pertanyaan yang menyudutkan yang diperkirakannya tidak dapat saya jawab. Dan bila akhirnya saya benar-benar tidak bisa menjawab, wah kiamat ... sungguh-sungguh memalukan. Tidak sanggup saya, saat itu, membayangkan hal itu akan terjadi.
Cekaman bayang akan terjadinya hal itu sedikit banyak membuat saya tegang selama kuliah pertamaku. Meski demikian, beberapa kali saya berikan kesempatan kepada penghuni kelas untuk bertanya: "Ada yang mau bertanya?" Tidak ada tangan yang diangkat. Lega! Berarti mereka mengerti apa yang kubicarakan, dan tidak ada yang iseng mau ngetes. Begitulah kesimpulan yang kubuat sendiri atas situasi yang kuhadapi itu. Hingga akhirnya, di penghujung kuliah tersebut saya ulang lagi pertanyaan saya: "Ada pertanyaan?". Dan, tidak ada tangan yang diangkat lagi. Plong, begitu perasaan yang ada karena menganggap bahwa itu adalah kesuksesan pertama saya dalam mengajar. Mereka terlihat serius memperhatikan kuliah dan tidak sampai menimbulkan pertanyaan. Jadi saya anggap apa yang saya sampaikan telah jelas bagi mereka.
Menghadapi kuliah-kuliah berikutnya saya semakin merasa percaya diri. Dari satu kuliah ke kuliah berikutnya kejadiannya selalu seperti itu. Hampir tidak ada pertanyaan - kalau tidak boleh dibilang tidak ada yang bertanya. Ya... memang ada satu dua yang bertanya, tetapi itu hanya menanyakan kalimat saya yang tidak jelas atau tulisan yang kurang terbaca (bukan tulisan saya yang sangat buruk, tetapi kadang dari posisi tertentu tulisan spidol di whiteboard kabur karena kesilauan - he he he he). Hal yang demikian membuat saya merasa bahwa saya memang berbakat jadi dosen (???).
Beruntung, selang beberapa lama saya dihinggapi pertanyaan introspektif: "masa iya saya secanggih itu?" Apa benar mereka tidak bertanya karena sudah paham apa yang saya bicarakan, sudah mengerti, sudah mengetahui? Lalu, esoknya saya berinisiatif untuk menguji pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut itu. Pada penghujung kuliah saya tawarkan lagi kalau ada yang bertanya, ternyata tidak ada yang bertanya. Lalu saya sampaikan ke kelas, "Oke, sekarang kita kuis". Hebohlah kelas. Dan.... hasilnya benar-benar tidak seperti yang saya harapkan. :((
Jadilah waktu-waktu sesudah itu arena perenungan, menguji lagi kesimpulan-kesimpulan yang telah saya buat sebelumnya. Apakah orang bertanya itu karena tidak tahu dan yang tidak bertanya itu sudah tahu? Yah, akhirnya kutemukan simpul masalahnya. Asumsi bahwa orang tidak bertanya karena sudah tahu dan bertanya karena sudah tahu inilah sumber masalah saya. Mengapa orang bertanya? bukan karena tidak tahu. Banyak hal yang kita tidak tahu tetapi kita tidak akan pernah menanyakannya. (Misalnya: siapa istri ketua RW di lingkungan yang kita tidak tinggal di dalamnya.) Itu karena hal tersebut tidak penting bagi kita sehingga tidak mempunyai daya dorong agar kita bertanya. Jadi orang bertanya lebih karena ingin tahu, dan bukan karena tidak tahu. Sebaliknya orang tidak bertanya bukan berarti karena sudah tahu, tetapi lebih karena tidak ingin tahu. Jadi kalau mereka di kelas saya tidak bertanya berarti ......?
Apa lagi setelah saya rasakan beberapa saat, kelas-kelas yang demikian sungguh membosankan. Lagi-lagi saya dihinggapi pertanyaan: "Jangan-jangan merekalah yang bosan melihat gaya dan cara saya di kelas?" Rupanya, inilah tantangan besar yang sebenarnya dari seorang pengajar: bagaimana melakukan perubahan dalam diri kita sehingga membuat kelas-kelas menjadi lebih hidup - itu artinya banyak pertanyaan dan diskusi. Pembelajar yang bertanya adalah mereka yang ingin tahu dan telah mempersiapkan diri untuk mengetahui dan belajar lebih banyak. Diskusi yang terjadi adalah proses konstruksi pengetahuan di dalam dirinya. Akhirnya saya mahfumi, kalau ada mahasiswa yang bertanya dan saya tidak memiliki jawabannya - itu berarti SUKSES BESAR. Ya, sukses besar. Karena itu berarti bahwa saya berhasil membangkitkan kemauannya belajar hingga mencapai batas melebihi apa yang telah saya ketahui. Sebagai guru, itu berarti kesuksesan mengantarkan sang murid menjadi pintar. Saya tidak perlu malu lagi kalau muncul pertanyaan yang saya tidak bisa jawab, dan saya tidak perlu berburuk sangka bahwa mereka yang bertanya sedemikian ini punya maksud ngetes. Mudah-mudahan renungan ini menjadi pelajaran bagi guru-guru lain maupun bagi mereka yang sedang belajar di kampus-kampus.
12 September, 2009
Tips Mudik Spiritual
Ramadhan tinggal sedikit lagi, kesempatan meresapi nikmat juga tinggal sedikit lagi :( Udah gitu harus bikin persiapan mudik lagi. Wah makin habis deh kesempatan bermesraan dengan Ramadhan. Tapi bagaimana lagi, ritual mudik lebaran rasanya sulit sekali diabaikan. Tidak mudik pas lebarn bisa membuat orang tua kita menitikkan air matanya - kesempatan sekali setahun koq anakku tidak pulang juga ya. Malah bisa menimbulkan prasangka yang tidak-tidak. Apa lagi bagi kaum migran, kesempatan bertemu dengan kerabat dan teman-teman masa kecil tentu sayang sekali kalau dilewatkan. Tidak mudah mencari momen bisa berkumpul bertemu dengan mereka di luar hari raya. Tapi, sisa Ramadhan yang tinggal sedikit ini juga sayang sekali kalau terabaikan. 
Justru di 10 hari terakhir ini kita harus makin meningkatkan kualitas ibadah kita. Terlebih, karena kita tidak tahu apakah kita masih akan dapat bertemu dengan bulan Ramadhan berikutnya. (Meski kita akan meminta kepadaNya agar diberi kesempatan bertemu Ramadhan yang akan datang). Karena sepertinya kita tidak bisa menghindari "ritual" mudik ini, maka ada baiknya kita berusaha agar ia menjadi bermakna dan bukannya mengganggu kekhusyu'an kita di akhir Ramadhan. Berikut ini adalah beberapa tips untuk itu:
11 September, 2009
Hikmah Ramadhan: Keadilan Hijriyah
Kita umat Islam di Indonesia sangat terbiasa dengan kalender masehi. Segala kegiatan, kita rencanakan, dokumentasikan, dan ceritakan menggunakan kerangka waktu masehi. Jadual sekolah menggunakan masehi, gajian menggunakan masehi, umur dihitung dengan masehi, janji dibuat dengan masehi... yah hampir semuanya kita gunakan kalender masehi. Kalender hijriyah jarang sekali kita gunakan. Paling-paling hanya pada saat hari dan bulan tertentu. Itupun tidak keseluruhan, bulan Ramadhan hanya kita perhatikan awal dan akhirnya saja. Itu karena awal menentukan kapan kita harus puasa dan akhir kapan kita boleh merayakan Iedul Fitri (bukannya kapan kita haram berpuasa - begitulah yang kita perbincangkan dan tertanam di benak masyarakat :( )
Sudah begitu (baca: tidak menggunakan kalender hijriyah dalam keseharian) yang cuma sedikit itupun tidak jarang diwarnai ribut-ribut perbedaan. (Astaghfirullah, ampunilah hambaMu ini kalau menjadi bagian umat yang seperti itu ya Allah). Fakta ini harus membuat kita berfikir ulang tentang diri kita sendiri, apakah kita ini termasuk orang-orang yang bersyukur? Jangan-jangan kita termasuk hamba yang kurang bersyukur karena kita tidak mau membaca dan berfikir bahwa kalender hijriyah adalah rahmat dari Sang Maha Adil.
Bagi kita kaum muslim yang tinggal di daerah tropis, seperti Indonesia, umumnya puasa Ramadhan dijalani selama 14 - 15 jam setiap harinya. Begitulah yang terjadi sepanjang hidupnya, karena rata-rata lamanya siang adalah sebesar itu sepanjang waktu. Berbeda dengan mereka yang tinggal di daerah sub-tropis, saat ini ada di antara mereka yang mengalami siang jauh lebih panjang daripada malam harinya. Karena itu, ia berpuasa lebih lama daripada rata-rata orang yang tinggal di daerah tropis. Sebaliknya, ada daerah dimana sekarang ini siangnya lebih pendek daripada kita yang tinggal di Indonesia. Maka, mereka berpuasa untuk waktu yang lebih pendek.
Setiap tahunnya, terdapat selisih kurang lebih 11 hari antara kalender hijriyah dan masehi. Karena jumlah hari hijriyah dalam setahun lebih sedikit, maka penanggalan hijriyah terlihat maju kurang lebih 11 hari dalam setahunnya. Itu berarti, bulan Ramadhan akan terjadi pada keseluruhan waktu tahun masehi dalam kurun waktu 35 tahun. Dengan demikian, mereka yang tinggal di daerah subtropis (baik di utara maupun di selatan katulistiwa) akan sama-sama pernah menemui puasa ramadhan yang panjang (lebih dari 14 jam dalam sehari) juga yang pendek. Sungguh Allah Maha Adil!
Bayangkan seandainya yang digunakan adalah kalender masehi, katakanlah kewajiban puasa Ramadhan jatuh di bulan Oktober. Maka, akan ada daerah di mana setiap tahunnya mereka harus berpuasa lebih lama daripada di daerah lain dan sebaliknya. Wah kalau itu terjadi, mungkin akan ada orang muslim yang berfikir untuk pindah tinggal ke daerah yang siang harinya lebih pendek pada bulan Oktober itu. Maka berduyun-duyunlah kaum muslimin menempati daerah tersebut dan meninggalkan daerah lainnya. Bisa jadi, karena yang demikian itu maka islam hanya akan menjadi agama lokal - agama yang hanya dianut oleh penduduk di daerah yang siang harinya lebih pendek pada bulang oktober! Tidak menjadi agama bagi seluruh semesta.
10 September, 2009
Hikmah Ramadhan: Akhlak Global
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad, dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah SAW bersabda, "Jika makanan salah satu kalian jatuh maka hendaklah diambil dan disingkirkan kotoran yang melekat padanya, kemudian hendaknya dimakan dan jangan dibiarkan untuk setan." Dalam riwayat lain "sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu, jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaknya dibersihkan kemudian di makan dan jangan dibiarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari jemari dijilati karena tidak diketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah."
Apa yang dicontohkan oleh rasul oleh banyak orang hanya dijadikan rujukan tentang bagaimana adab makan yang seharusnya. Padahal
apa yang disampaikan rasul lebih dari 1400 tahun yang lalu itu adalah suatu akhlak yang betul-betul berperspektif global, meskipun saat itu belum ada istilah "globalisasi". Yah, karena apa yang disampaikan tersebut menyentuh ke jantung salah satu permasalahan global yang dihadapi oleh manusia modern. Tentu ada yang bertanya, memangnya masalah tatacara makan termasuk persoalan gawat yang dihadapi oleh planet ini?
Tentu bukan, karena perspektif dalam tulisan ini terletak pada sampah. Koq? Seandainya saja makanan yang terjatuh tadi tidak diambil kembali, maka itu berarti sampah dalam ukuran yang melebihi yang seharusnya. Bukankah cukup yang tidak bisa dimakan saja (baca: yang terkena kotoran) yang boleh menjadi sampah? Kalau yang masih bisa dimakan, sebaiknya janganlah menjadi sampah karena sampah akan memunculkan masalah-masalah (sebagaimana sifat setan). Demikian pula sisa makanan pada jari (atau sendok, kalau makan pakai sendok) yang akan mencemari air yang kita gunakan untuk mencucinya. Semakin sedikit sisa makanan yang kita cuci berarti semakin kecil tingkat pencemaran air.
Masalah sampah saat ini sungguh-sungguh merupakan persoalan global. Semua negara menghadapi persoalan sampah dalam tingkatan yang berbeda-beda sekaligus juga menjadi masalah bersama karena tidak mungkin diatasi sendirian saja. Kompleksitas masalah sampah juga berasal dari persoalan ikutan yang dibawa oleh sampah itu sendiri, antara lain:
Sampah menjadi masalah karena ukurannya yang besar (tentu, sampah yang sedikit tidak akan sampai menyumbat saluran drainase dan menyebabkan banjir). Untuk Kota Malang saja, dengan jumlah penduduk 800 ribu lebih jiwa, sampahnya bisa mencapai 326 ribu ton lebih per tahun (diprediksi dari sampah per kapita perhari untuk Indonesia yang sebesar 0,76 Kg/orang/hari (World Bank. What a Waste: Solid Waste Management in Asia, May 1999). Dan, 64%-nya adalah sampah domestik, sampah yang diproduksi oleh rumah tangga. Itu berarti kalau mau mengatasi masalah sampah, yang paling signifikan adalah mengatasi sampah domestik karena persentasenya yang tinggi.
Pada sisi penekanan volume sampah domestik inilah arti penting semangat yang ditanamkan melalui adab makan oleh rasulullah. Bukan sekedar tatacara makan itu yang menjadi fokusnya, tapi bagaimana membentuk akhlak yang peka terhadap terhadap masalah lingkungan. Begitu halusnya akhlak yang diajarkan rasulullah ini karena di dalamnya terdapat perspektif menhindarkan diri dari melakukan perbuatan yang mendzalimi orang lain. Dalam tatacara makan kita harus ada empati untuk menghindarkan seminimal mungkin dampak negatifnya terhadap orang lain. Bukankah sampah (termasuk sisa makanan kita) yang kita buang itu hanya mengalihkan masalah dari tempat kita ke tempat (orang) lain? Kalau urusan tata cara makan saja harus berimplikasi menghindari mudharat bagi orang lain, apa lagi urusan yang lainnya.
Adab makan itu sendiri setidaknya relevan dalam pandangan kekinian untuk dua hal. Pertama, mengatasi masalah yang paling signifikan. Karena rumah tangga merupakan penyumbang sampah terbesar, maka setiap upaya untuk menguranginya sangat berarti. Adab makan yang disunahkan rasul secara tepat menembak masalah terbesar dalam produksi sampah. Adab yang diajarkan oleh rasul ini seolah-olah hendak memprediksi bahwa kelak (baca: zaman modern sekarang ini) konsumen rumah tanggalah yang akan menjadi sumber utama masalah sampah.
Kedua, mengatasi masalah sejak dari sumbernya. Akhir-akhir ini telah berkembang mainstream pemikiran yang intinya menyelesaikan masalah sampah sedekat mungkin dengan sumbernya. Pendekatan TPA (tempat pembuangan akhir atau kadang disebut landfill sanitary) terbukti di banyak tempat tidak menyelesaikan masalah dengan baik karena reliabilitasnya yang kurang atau penolakan-penolakan dari warga sekitar. Sunah rasul ini selaras betul dengan pemikiran modern ini, bahkan sangat akurat. Konsumen rumahtanggalah sumber sampah terbesar. Namun, hakikatnya yang menjadi sumber masalah adalah perilakunya. Kita tidak dapat mengeneralisir bahwa semua manusia merupakan sumber masalah dengan bobot yang sama. Ada di antara mereka yang perilakunya acuh, tidak peduli akan akibat dari sampah yang dihasilkannya. Tapi ada pula orang yang sangat peduli akan hal itu. Jadi, perilaku yang tidak peduli terhadap akibat-akibat dari perbuatannya itulah sebenar-benarnya sumber masalah. Adab makan yang menjadi idealitas akhlak muslim tersebut secara tepat menjadikan perilaku sebagai sumber masalah yang harus diperbaiki.
Dalam bulan Ramadhan ini, dimana orang beriman diajarkan mengendalikan nafsunya, pendalaman perbaikan akhlak dalam konteks kontemporer menjadi sangat relevan. Tugas kita membumikan nilai-nilai yang dibawa rasulullah pada zaman ini. Dan... contoh kecil tentang adab makan memberi gambaran kepada kita bagaimana sesungguhnya ajaran islam bisa menjadi akhlak global. Hanya Allah yang Maha Tahu.
09 September, 2009
Puasa pendidikan hati
Sesaat sebelum berangkat ke kantor hari itu masih sempat saya melihat tayangan berita di salah satu stasiun televisi. Kebetulan sekali berita yang ditampilkan sangat merisaukan hati: bentrok fisik yang melibatkan mahasiswa di dua kampus berbeda. Tentu saja hal tersebut menyentuh nurani saya, karena keseharian saya adalah di kampus. Sambil mengemudikan kendaraan ke arah kampus saya mencoba bermuhasabah, bagaimana mungkin kumpulan orang-orang terdidik dapat melakukan tindakan anarkhi - justru di bulan Ramadhan.
Faktanya, anarkhi itu telah terjadi. Karena itu pertanyaannya menjadi mengapa mereka melakukannya? Tentu kita sulit untuk menggali motivasinya, akan tetapi kita dapat menelusur dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai model. Faktor apa yang akan membuat kita dapat bertindak anarkhis? Emosi nan tak terkendali. Kira-kira begitulah kita akan menjawabnya. Sayangnya, justru emosi itulah yang diletakkan (entah sengaja atau tidak) di ranah di luar pendidikan formal.
Di hampir semua institusi pendidikan formal, hampir kita tidak temui kurikulum yang secara intensif dan terpadu untuk meningkatkan kemampuan emosional peserta didik secara terarah. Padahal, telah menjadi kesadaran umum bahwa emtional quotient lebih penting dari sekedar intelectual quotient. Mungkin para perancang kurikulum tersebut berasumsi bahwa dengan meningkatnya kemampuan kognitif seseorang maka dengan sendirinya kemampuan emosionalnya juga menjadi lebih baik. Sayang sekali kenyataannya tidak membuktikan demikian. Berita di tv yang saya ceritakan di awal posting ini secara telak menyanggah asumsi para perancang kurikulum itu. Terlebih, berita itu bukanlah yang pertama, tapi telah yang kesekian kalinya.
Ada ungkapan yang sering digunakan orang: kepala boleh panas, tetapi hati jangan. Maksudnya, jangan sampai emosi mengalahkan nalar. Ungkapan itu muncul karena orang melihat dari pengalamannya bahwa ternyata emosi dan nalar memang dua hal yang terpisah. Banyak orang yang lebih bisa menerima orang dengan kepintaran nalar yang tidak terlalu menonjol tetapi pintar mengendalikan emosinya dari pada orang yang sebaliknya. Itu berarti bahwa, pendidikan yang hanya menekankan kepintaran nalar sebenarnya tidak mampu memenuhi harapan masyarakat akan keluarannya.
Dalam kerangka inilah letak arti penting puasa ramadhan. Puasa adalah tindakan secara sengaja menahan diri dari segala perbuatan yang dilarang agama. Jadi intinya adalah pengendalian diri. Sehingga ketika ada orang yang menarik-narik kita agar kendali emosinya buyar, rasulullah menganjurkan agar menjawab dengan: saya sedang puasa. Namun sayang sekali, seperti disinyalir oleh rasul, banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Mereka itulah antara lain orang yang dalam puasanya tidak dapat mengendalikan emosinya. Mereka itulah orang-orang yang gagal memanfaatkan puasa untuk mendidik hatinya. Semoga kita tidak termasuk orang yang demikian. Na'udzubillah min dzalik.
05 September, 2009
Bencana gempa itu.
Seorang supervisor pada sebuah proyek pembangunan infrastruktur suatu hari sedang sibuk melaksanakan tugasnya di lapangan. Ia bertanggungjawab untuk mengarahkan dan mengawasi pekerjaan sejumlah pekerja bangunan. Suasana sangat berisik, suara mesin dari berbagai peralatan berat menderu-deru diselingi teriakan pekerja dan mandor yang saling berkoordinasi. Keadaan di lapangan itu seperti kapal pecah saja. Berbagai tumpukan material terlihat di sana-sini. Lubang-lubang galian juga terlihat menganga di sejumlah lokasi. Dalam keadaan seperti itulah sang supervisor harus bergerak ke sana kemari.
Begitu asyiknya sang supervisor bekerja hingga ia tidak sadar bahwa ia mendekati kabel terbuka yang mengalirkan listrik tegangan tinggi yang terhampar di tanah di depannya. Mengetahui bahwa sang supervisor mendekati bahaya, sejumlah pekerja berteriak-teriak memperingatkannya. Sayang sekali, suasana di tempat itu begitu gaduh dan jarak para pekerja yang berterian tersebut cukup jauh dari sang supervisor. Suara-suara memperingatkan dari para pekerja itu tidak mampu menyadarkan sang supervisor karena tertelah kegaduhan ditempat itu. Dengan tenang ia melanjutkan langkahnya dan tanpa disadarinya ia mendekati bahaya yang mengancam jiwanya.
Tinggal dua langkah lagi kaki sang supervisor akan melanggar kabel bertegangan tinggi tersebut. Menyadari teriakannya diabaikan sementara jaraknya cukup jauh untuk menghentikan langkah sang supervisor, seorang pegawai mengambil inisiatif melempar sang supervisor dengan sebuah batu. "Pletak!" Batu yang dilempar agak keras tersebut mengenai kepala sang supervisor menyusup di bawah helm dan sedikit di atas telinga. Entah keberuntungan apa yang menghinggapi sang pelempar sehingga batu tersebut mengenai bagian kepala yang tak terlinding.
Tentu kepala sang supervisor tersebut terluka oleh lemparan itu. Kepalanya terlihat mengeluarkan darah. Tapi hal tersebut justru menyelamatkannya. Mendadak ia menghentikan langkahnya, tepat dua langkah sebelum ia melanggar kabel yang membahayakan dirinya. Segera ia membalik badan menghampiri arah dari mana lemparan tadi berasal. "Siapa yang melemparku dengan batu tadi?" tanyanya kepada sekelompok pekerja dengan agak geram. Tangannya memegang bagian kepalanya yang terluka seakan ingin menghentikan pendarahan yang sebenarnya tidak terlalu bahaya baginya. "Saya pak" jawab seorang pekerja. "Kami sudah berteriak agar Bapak berhenti, tapi rupanya Bapak tidak mendengar. Padahal di depan Bapak ada kabel bertegangan tinggi yang berbahaya. Jadi saya lempar saja pakai batu, karena tidak mungkin lagi mencegah Bapak melanggar kabel itu dengan cara yang lain.", demikian ia menerangkan sambil menunjuk kabel yang dimaksud.
Sang supervisor menengok arah yang ditunjuk sang pekerja, dan ia menyadari betapa dia tadi hampir saja celaka. Andai saja tidak ada lemparan batu yang menghentikannya, sangat mungkin ia telah meregang nyawanya. Menyadari hal tersebut, ia tidak menjadi marah, justru berterimakasih sekali kepada pekerja yang melempar kepalanya hingga luka tersebut.
Demikianlah gambaran tentang bencana alam yang menimpa bangsa kita kemarin ini. Dengan bencana alam gempa di Jawa Barat yang menggiriskan itu seolah Tuhan sedang melempar kita agar kita berhenti melakukan sesuatu atau memulai sesuatu yang lainnya. Yah, bencana gempa itu merupakan peringatan Tuhan kepada kita. Bukankah akhir-akhir ini sepertinya bangsa kita mengalami bencana yang silih berganti saja? Jangan-jangan bencana-bencana itu adalah lemparan batu yang maksudnya untuk menyelamatkan kita sebagai bangsa.
Masih teringat kita akan dahsyatnya bencana tsunami yang melanda Aceh. Bencana itu sesaat membangkitkan rasa saling menyayangi yang amat besar kepada seluruh anggota bangsa ini. Bencana itu telah mampu menggerakkan hati setiap kita untuk mau berkorban dan memberikan apa yang kita punyai untuk saudara kita. Tetapi, mungkin rasa itu hanya sesaat saja. Kita kembali menjadi egois, seba mementingkan diri sendiri. Kalau perlu milik saudara harus kita terkam. Bukankah itu hakikat korupsi? kekacauan di balik ambruknya Bank Century?, keengganan anggota dewan lengser kita memenuhi berbagai kewajiban? (mis: mengembalikan mobil dinas, melunasi hutang, dll).
Bukan hanya itu saja. Mungkin kita telah menjauhi Tuhan. Kita tidak lagi bersemangat menjalankan perintah-perintahnya. Kita tidak berusaha meninggalkan hal-hal yang mubah. Kita juga tidak meninggalkan hal-hal yang makruh, bahkan yang haram. Di bulan Ramadhan ini, begitu semarak fenomena ngabuburit. Jauh lebih semarak dari kegiatan tadarus di masjid-masijd atau di rumah.
Yahh, sangat mungkin lemparan batu itu membuat kita berdarah-darah. Tetapi kita tidak boleh marah, justru harus berterimakasih. Mungkin tanpa bencana itu kita akan terjerumus lebih jauh pada kerusakan yang lebih tak terperikan. Naudzubillahi min dzalik. Semoga tidak terjadi pada kita.
03 September, 2009
Doa seorang petani
Seorang sahabat, yang pekerjaannya menanam dan menjual bibit-bibit tanaman, menginspirasikan sebuah do'a kepada kami.
"
Ya Allah, Engkaulah pemilik segala kekuatan maka kuatkanlah hambamu ini beribadah hari ini. Ya Allah yang Maha Hidup, jadikanlah bibit-bibit yang hamba tanam hari ini hidup dan tumbuh sebaik-baiknya dan menjadi rejeki bagi hamba untuk menafkahi keluarga dan menyantuni mereka yang membutuhkan.
Ya Allah, Engkaulah yang Maha Mengatur segala urusan di bumi ini. Karena itu ya Allah, jadikanlah tanaman yang hamba tanam hari ini tumbuh sehat sempurna sehingga memberikan keindahan dan kenyamanan bagi semua makhlukMu yang hidup di sekitarnya. Jadikan pula dengannya daurh hidup berbagai makhlukMu berlangsung dengan sebaik-baiknya dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada para makhlukMu yang lain.
Jadikanlah itu shodaqoh hamba beserta mereka yang ikut merawat tanaman itu semuanya.
Ya Allah, jadikanlah tanaman itu bekerja sempurna menghasilkan oksigen sehingga menjadi jalan rahmatMu bagi makhluk-makhluk di sekitarnya. Jadikan pula seresah tanaman ini sebagai penyubur tanah ciptaanMu di berbagai tempat dan menjadi jalan rahmadMu dengan menyuburkan bumi dan menggembirakan mereka yang tinggal di atasnya.
Dan, jadikanlah itu sebagai amal hamba dan orang-orang yang merawatnya yang menjadikan berat timbangan kebaikan hamba di sisiMu.
Ya Allah, Engkaulah Maha Pemberi Rejeki. Maka, hamba memohon kepadaMu ya Allah, sempurnakan perakaran tanaman yang hamba tanam hari ini agar menjadikannya dapat menahan air yang kemudian memberi kehidupan kepada makhluk-makhlukMu di sekitarnya yang membutuhkan. Jadikan pula perakaran tanaman tersebut mencegah erosi dan menyelamatkan makhluk-makhlukMu di sekitarnya dari bahaya banjir, kekeringan, dan kerusakan lingkungan. Ya Alah yang Maha Pemurah, jadikanlah hal tersebut amal jariyah hamba dan orang-orang yang memeliharanya.
Ya Allah, Engkaulah yang Maha Kaya dan kami sungguh-sungguh miskin, sungguh-sungguh dhoif. Karena itu ya Allah, tumbuhkanlah dengan sempurna tanaman ini agar orang-orang dapat menerima rezekiMu dari buah-buahannya, dari dedauanannya, dan dari semua bagian tanaman yang hamba tanam ini. Berkahkanlah rezeki tersebut bagi mereka dan ikutkanlah hamba sebagai orang yang Kau perhitungkan menjadi jalan rezeki mereka.
Ya Allah, Engkaulah yang Maha Memelihara. Maka, mudahkanlah hamba dan sesiapa saja yang ikut merawat tanaman ini menjaganya dari kerusakan-kerusakan. Tumbuhkanlah tanaman tersebut dengan sempurna sehingga berkembang biak, beranak-pinak dengan sebaik-baiknya. Dan jadikanlah semua keturunan tanaman ini memberikan manfaat sebagaimana induknya, serta jadikanlah manfaat-manfaat tersebut amal jariyah bagi hamba dan semua orang yang ikut memeliharanya.
Ya Allah, kabulkanlah permohonan hamba ini. Karena hamba yakin Engkau adalah Maha Pengabul segala doa.
"
Terima kasih sahabat, berkat engkau kepalaku semakin tertunduk - malu aku akan hidupku bila kelak dipertanyakan di hari perhitungan.
01 September, 2009
Manusia haram
Sudahkan kita introspeksi diri kita hari ini? Mungkin ide berikut ini dapat menjadi kerangka untuk kita memperbaiki diri. Ada lima kategori orang di setiap masyarakat.
31 Agustus, 2009
Gelas nan tak retak
Bulan ramadhan disebutkan oleh banyak ulama sebagai bulan pendidikan. Artinya dalam bulan tersebut kita belajar sesuatu, biasanya kita sebut dengan ilmu. Karena tujuan orang berpuasa itu adalah menjadi orang bertaqwa, maka ilmu yang kita pelajari tentu saja ilmu tentang jalan atau cara menuju ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu bukanlah sesuatu yang kuantitatif dan tidak ada batasan kriterianya, maka setiap tahun - siapapun dia - harus mengalami perubahan karena puasanya. Di penghujung Ramadhan tingkat ketaqwaannya harus lebih baik dari sebelumnya.
Masalahnya, boleh jadi banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapat haus dan dahaga saja. Itu berarti orang-orang tersebut gagal menggapai tujuan Ramadhan. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah orang-orang tersebut gagal menampung ilmu yang diajarkan dalam puasa Ramadhan. Terkait dengan hal ini, orang belajar menuntut ilmu bisa diandaikan seperti gelas yang diisi air. Keadaan gelas itu akan menentukan apakah ia akan terisi penuh atau tidak.
Gelas pecah.
Mengisi air hingga penuh ke dalam gelas pecah/bocor tentu menjadi pekerjaan yang tidak masuk akal (kecuali gelasnya ditambal dulu :P ). Apa lagi jika gelas tersebut bocor atau pecahnya pada bagian bawah, bahkan air tidak mau tinggal dalam gelas tersebut. Gelas pecah ini ibarat orang yang menuntut ilmu tidak dengan sungguh-sungguh. Gak niat, kata orang Jawa. Keadaan tidak sungguh-sungguh ini berkawan karib dengan kemalasan. Tergantung tingkat kesungguhan orang tersebut, semakin malas ia maka ibarat gelas semakin dekat lubang bocor dengan dasar gelas - alias semakin sedikit ilmu yang bisa dihimpunnya.
Ini adalah gambaran orang yang berpuasa tetapi tidak sungguh-sungguh menjalani dan menyerap pelajaran di dalamnya. Ketika ada kultum, ia sibuk bercakap dengan jamaah di sebelahnya, atau ber sms, atau fesbukan, atau sekedar melamun berhitung kecukupan tabungan plus te ha er untuk mudik. Begitu pula ketika hati kecil berbisik "eh mendingan kamu tadarus saat menunggu berbuka puasa dari pada ngabuburit", maka pesan nurani ini diabaikannya saja. Juga ketika secara halus hati berbisik untuk memperbanyak sodakoh, kepala berkata "eh nanti dulu, buat mudik belum cukup nee". Yahh itulah sedikit contoh yang membuat kita mirip dengan gelas pecah. Jadi ilmu yang tersaji selama Ramadhan ini luber kemana-mana, tidak ada yang tinggal dalam hati. Akhirnya, sebelum dan sesudah Ramadhan kita sama saja. Tidak menjadi lebih baik.
Gelas terbalik
Ini keadaan yang lebih parah dari gelas pecah. Bahkan gelas tanpa cacat kalau dipasang terbalik tidak akan dapat menampung air setetespun. Ini adalah ibarat orang-orang yang sombong, yaitu mereka yang merasa dirinya sudah baik dan lebih baik dari orang lain. Mereka ini menolak mentah-mentah nasehat-nasehat dari orang lain karena merasa mereka itu tidak lebih baik dari dirinya. Bagi mereka berlaku, siapa yang bicara - bukan apa yang diucapkan. Dan sang "siapa" yang paling pintar dan paling benar adalah dirinya sendiri. Mereka ini yang dicap di dalam Al Qur'an: golongan yang sama saja engkau beri nasehat atau tidak.
Ironisnya, sebagian dari golongan gelas terbalik adalah mereka yang merasa telah berilmu. Karenanya mereka pikir tidak perlu lagi menerima nasihat orang lain. Dalam kelompok ini juga termasuk orang-orang yang mengangkat dirinya sendiri (dengan persangkaannya sendiri) bahwa mereka lebih baik dari orang lain karena status sosialnya, atau hartanya. Secara umum orang-orang yang sombong adalah orang yang tidak mau menerima kebenaran di dalam hatinya. Jadi jangan harap dengan bekal kesombongan kita akan sukses meraih tujuan puasa Ramadhan.
Gelas utuh dan terbuka
Inilah kedaan yang ideal. Pada saat puasa Ramadhan (atau dalam kondisi apapun - termasuk di luar Ramadhan), kita menuntut ilmu dengan kesungguhan dan kerendahan hati. Belajar sungguh-sungguh ibarat gelas yang utuh, dan kerendahan hati ibarat gelas yang duduk dengan mulutnya di atas - siap menampung air yang dicurahkan. Dua hal ini sekaligus juga menjadi indikator apakah kita sukses berpuasa atau tidak. Bila setelah Ramadhan ini kita menjadi orang yang semakin bersungguh-sungguh menjalankan semua ibadah dan lebih rendah hati dalam bergaul dengan sesama, maka itu menggambarkan pada saat puasa kita telah terlatih menggunakan keduanya untuk menimba ilmu puasa ramadhan. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersungguh-sungguh dan rendah hati.
30 Agustus, 2009
I love this game
Life is a game. Yes it is ... It is writen in part of verse 20th of Surah Al Hadid of Holy Quran. The great thing is that the statement commented more than thousand years ago exactly actualized by today's games.
All games can be characterized by:
Life is a game. As any other games that will be ended after it was started, life will also be ended. Game will be over at the time you die. You may be a winner or a looser at that time. If you want to be a winner in your life game, you need to:
26 Agustus, 2009
Kepastian
Jangan mengejar burung gelatik yang terbang di langit lantas burung merpati di tangan dilepaskan. Begitulah nasihat ibu saya ketika saya meminta pertimbangannya saat mau berhenti bekerja dari sebuah pabrik gula - pekerjaan yang saya jalani selama 2 tahun selepas SLTA. Inti dari nasihat itu adalah agar saya berhati-hati untuk tidak menukar kepastian dengan suatu ketidakpastian. Karena kepastian itu lebih safe dan
karena ketidakpastian itu memuat resiko lebih besar. Bagi seorang penganut paham safety first, nasihat itu adalah ajaran utama. Tidak masuk akal bagi seseorang untuk mengabaikan sesuatu yang sudah pasti dengan mengejar-ngejar yang tidak pasti.
Ketidakpastian tidak saja mengandung resiko, tetapi juga bisa memberi tekanan psikologis. Bisa bikin gelisah, bikin sakit hati sampai bikin stress. Tapi, anehnya justru kebanyakan orang mengabaikan nasihat penting tersebut. Bukannya memegang yang sudah pasti, justru mengejar-ngejar yang tidak pasti. Bila kita belajar keras untuk mencapai prestasi akademik, maka ketercapaiannya adalah ketidakpastian. Bila kita sibuk bekerja mengumpulkan harta untuk mendapatkan kebahagiaan, maka belum pasti bahwa kesibukan kita tersebut. Pada prinsipnya semua urusan dunia ini tidak pasti, dan mengejar-ngejar urusan duniawi itu berarti mengejar ketidakpastian.
Karena mengejar urusan-urusan yang tidak pasti tersebut, banyak orang yang mengabaikan urusan yang telah pasti. Satu kepastian yang akan terjadi pada setiap orang adalah MATI. Senang tidak senang, disiapkan atau tidak, kematian akan mendatangi setiap orang. Itulah kepastian yang telah jelas. Meski demikian, sayang sekali kita banyak mengabaikan kepastian ini. Ketika mengejar tujuan-tujuan duniawi, kita begitu khusyu - bersungguh-sungguh untuk mencapainya. Tetapi ketika melakukan hal-hal yang terkait dengan persiapan kematian kita tidak sungguh-sungguh. Jika demikian, betul-betul kita ibarat orang mengejar burung gelatik yang sedang terbang dan melepaskan burung merpati yang ada di tangan. Bisa jadi, karena ketidakpastiannya, tujuan dunia tidak dapat dan tidak juga memiliki persiapan untuk mati.
Seorang teman yang pengusaha menanyakan, bukankah keberanian mengambil resiko itu modal dasar seorang wirausahawan? Saya tidak menyangkal hal tersebut. Akan tetapi saya justru balik bertanya, apakah seorang karyawan sudah memiliki kepastian akan mencapai tujuan-tujuan hidupnya? Adakah kepastian ia akan terus bekerja di tempatnya bekerja hingga waktu yang diinginkannya? Bagaimana kalau perusahaanya bangkrut? atau jika ada hal-hal khusus yang memaksa perusahaan melepaskannya? Bahkan bagi seorang pegawai negeripun tidak ada kepastian bahwa ia akan terus menjadi PNS seperti yang diinginkannya. Banyak juga kasus PNS yang diberhentikan, malah dengan tidak hormat. Sebaliknya, para pengusaha justru memiliki tingkat kepastian akan keberhasilan yang lebih tinggi untuk menggapai tujuan-tujuan duniawinya. Coba dicek, lebih banyak mana pengusaha kaya atau karyawan kaya? (jika kaya merupakan tujuan duniawi) Kalo karyawan khan tingkat kepastian "tidak lebih kaya dari pengusaha" yang lebih tinggi. :-P
Teman yang agaknya mau putus asa mempertanyakan: Jadi, kalau begitu lebih baik tiap hari di masjid saja, tidak usah kemana-mana? Wah, itu namanya bunuh diri! Kalau di masjid terus, siapa yang harus kasih makan - apa lagi kalau semua orang melakukan hal yang sama! Biarlah dunia berjalan sebagaimana seharusnya. Yang penting adalah bahwa semua yang kita lakukan tujuannya adalah mempersiapkan diri menghadapi situasi setelah kematian. Persiapan itu bukan berarti harus selalu di masjid. Bekerja keras dan sungguh-sungguh bahkan sangat perlu. Hanya niatnya bukan mau menumpuk-numpuk harta dan berbangga-bangga, tetapi sebagai bentuk ibadah. Itu adalah amal sholeh, jadi memang harus khusyu dan sungguh-sungguh melakukannya. Akan rugilah kita kalau niatan bekerja bukan sebagai ibadah, karena hasilnya belum pasti. Akan tetapi kalau niatnya adalah ibadah, maka itu telah menjadi persiapan kita menghadapi suatu kepastian: MATI. Jadi benar jualah apa yang diungkapkan dalam surat Al Asr, semua orang pasti rugi kecuali orang yang beriman, beramal soleh, dan saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran.
23 Agustus, 2009
Belajar pelit
Belajar pelit? di bulan Ramadhan? Ah... masa iya, kan pelit itu sudah menjadi watak kita sehari-hari [ :( ], apa harus belajar lebih pelit lagi? Tapi begitulah. Kenyataannya saya sedang belajar menjadi pelit, dan lebih pelit lagi. Justru di bulan Ramadhan ini saya harus belajar keras untuk lebih pelit.
Dan ternyata, 3 hari puasa ini harus menyadarkan saya bahwa itu hanya mudah teorinya - praktiknya, wuahh mungkin saya nggak melewati kriteria ketuntasan minimal. (Jangan menyangka saya riya dengan pernyataan ini, karena hal ini sungguh menyedihkan saya).
Yang saya maksud pelit di sini adalah pelit dalam urusan waktu. Kalau urusan harta memang dilarang pelit. Sebaliknya urusan waktu kita harus pelit, jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu sedetikpun tanpa kita mendapatkan manfaatnya. Karena sang waktu yang telah lewat tak kan pernah kembali lagi. Dalam urusan waktu kita tidak boleh bersikap royal, menghamburkannya untuk hal-hal yang GJ (baca Gak jelas, :P), tidak bermanfaat, dan sia-sia. Bila ada orang yang meminta waktu kita untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna, minta maaf sajalah tidak bisa memberikannya.
Banyak pelajaran dan motivasi telah disampaikan kepada kita tentang bagaimana seharusnya mengelola waktu. Ada petunjuk dari Nabi tentang 5 kesempatan sebelum datangnya 5 kesempitan atau pengibaratan waktu dengan pedang. Tapi... yahh begitulah. Dasar saya ini dhoif, petunjuk-petunjuk yang kelihatannya mudah saja itu nggak sukses juga diterapkan. (Mudah-mudahan Allah Ta'ala menolong saya di sisa waktu hidup saya - Amien!). Jadi... yah saya masih harus belajar lebih banyak lagi untuk bisa menggunakan waktu seluruhnya untuk pencapaian the ultimate goal of my life. Semoga sisa hari-hari Ramadhan ini memberi kesempatan untuk itu. Amien.
22 Agustus, 2009
Mata memang (bisa) menipu
Mata sungguh merupakan karunia Allah yang luar biasa. Dengannya kita bisa mengenali dunia sekitar kita dengan baik. Dengannya kita mengenal keindahan berbagai ciptaan-Nya. Dengannya kita bisa menghindari bahaya yang mengancam kita. Dengannya kita bisa membangun kesadaran manusiawi tentang kebesaran Sang Pencipta. Tapi sadarkah kita bahwa mata juga (bisa) menipu kita?
Kalau kita berdiri di atas rel (atau berdiri di gerbong paling belakang dari KA, seperti saat mengambil gambar berikut), maka pandangan kita memperlihatkan bahwa semakin jauh rel terlihat semakin menyempit sehingga seolah (akan) bersatu pada satu titik. Beranikah kita menarik kesimpulan dari pandangan mata ini? Bahwa rel kereta api semakin menyempit dan bertemu pada suatu titik tertentu? Dari pengalaman naik kereta api, belum pernah ada orang yang menemukan sepasang rel yang bersatu di ujungnya. Jadi, apa yang terlihat itu bukanlah yang sebenarnya.
Yang kita lihat bukanlah yang sebenarnya? Yah... kenyataannya begitulah. Daun yang terlihat hijau oleh mata kita sesungguhnya tidaklah demikian. Kalaupun terlihat hijau, itu karena reseptor pada mata kita hanya mampu menangkap gelombang elektromagnetik pada kisaran cahaya tampak. Kisaran cahaya tampak pada gelombang EM itu sungguh sangat tipis, hanya berkisar antara 400 hingga 700 nm (lihat di Wikipedia). Seandainya (sekali lagi seandainya saja) mata kita bisa menangkap kisaran panjang gelombang EM infra merah, maka daun tidak lagi berwarna hijau. Itu karena reflektan kisaran warna hijau jumlahnya hanya sedikit bila dibandingkan dengan infra merah. Bahkan, tanpa cahaya daun tidak akan terlihat warna hijau. Ia hanyalah sesuatu yang hitam saja, bahkan bentuknya tak dapat kita ketahui. Jadi apa warna daun sesungguhnya? Kita tidak pernah tahu.
Juga kalau kita melihat matahari terbit dan terbenam. Mata kita menyaksikan bahwa matahari terbit dari timur lalu naik dan terbenam di ufuk barat. Bila kita saksikan lagi hal itu esok hari, maka pandangan mata kita mengungkapkan bahwa matahari telah bergerak mengitari bumi. Demikianlah yang diyakini orang-orang jaman dulu ketika teori geocentris masih menjadi mainstream. Akan tetapi saat ini... masih adakah orang yang cukup terpelajar yang berani menyatakan bahwa matahari telah mengelilingi bumi? Rasanya tidak satupun akan kita temukan. Rupanya mereka sudah mahfum, yang terlihat mata bukanlah yang sesungguhnya.
Namun, ternyata keyakinan berlebihan terhadap penglihatan oleh mata ini - bahwa apa saja yang terlihat oleh mata, itulah kebenaran - begitu kuat mencekam diri kita dalam keseharian. Visual sekilas yang terrekam oleh mata kita sering menggoyahkan hati dan pikiran kita. Pada hati yang lemah, hal tersebut bahkan sering mampu membangun purbawasangka - su'udzon. Menggunakan hasil pandangan mata untuk menilai sesuatu yang tidak terjangkau oleh mata itu sendiri. Maka, sangat bijaksanalah orang kalau ia menyadari bahwa mata bisa menjadi satu dari titik lemahnya selain mensyukuri nikmat akan manfaat yang diberikan Allah melalui mata kita.
21 Agustus, 2009
Jaranan Buto

Tanggal 17 Agustus kemarin saya sedang dalam perjalanan di Banyuwangi. Nuansa perayaan kemerdekaan terasa sampai ke ujung-ujung pelosok kabupaten ini. Salah satu yang menarik adalah pagelaran kesenian Jaranan Buto. Rupanya kesenian jaranan (atau kudalumping) yang begitu terkenal di tanah Jawa ini telah mengalami evolusi yang cukup signifikan. Seni jaranan buto ini merupakan wujud evolusi mutakhir.
Jaranan buto secara harfiah berarti "kuda lumping raksasa". Mungkin ini muncul karena daerah Banyuwangi terkenal dengan legenda Menak Jinggo, seorang raja kerajaan Blambangan yang dilukiskan sebagai seorang "buto" atau raksasa. Sesuai dengan namanya, para pemain kesenian ini berperawakan besar dengan kostum buto. Gerakan-gerakan tarinya juga mengekspresikan ke-raksasa-an. Tegap, berani, dan kuat.
Evolusi paling signifikan dari seni ini adalah ekspresi seni itu sendiri yang lebih kuat. "Hampir" tidak ada unsur magic yang terlibat. Saya memang tidak melihat kehadiran unsur-unsur magic, dan begitulah yang saya dengar dari salah satu penonton lokal yang menginformasikan bahwa tidak ada yang kalap-kalapan. Saya tulis "hampir" karena saya tidak menonton hingga tuntas dan terus terang saja belum yakin benar memang tidak akan ada yang kalap (intrance).
Untuk lebih menekankan pada sisi seninya, maka pagelaran yang dihelat di halaman rumah warga ini memasang panggung tempat para "pemusik" (sengaja tidak pakai pemain gamelan karena sudah ada unsur-unsur musik modernnya) dan menyertakan penyanyi sinden. Irama musiknya masih kental irama jaranan, akan tetapi karena telah ada sinden maka musik tersebut sekaligus sebagai pengiring lagu. Para penari jaranannya sendiri tampil di bawah, di halaman.
Puasa Binatang
Selidik punya selidik, ternyata yang berpuasa itu bukan hanya manusia. Banyak binatang juga berpuasa. Buaya, ular, ayam, dan ulat adalah beberapa di antaranya. Menarik untuk menyimak dan mengambil hikmah dari puasa binatang-binatang tersebut.
Puasa Ular
Ular termasuk binatang yang melakukan puasa. Puasa ular dimulai ketika dia melakukan "sahur" - makan mangsanya. Setelah mendapatkan mangsanya biasanya ular tidak melakukan aktifitas apa-apa. Mencari tempat bersembunyi, lalu diam saja. (Mungkin dia tafakur ya?). Pada saat berpuasa begini biasanya ular menjadi "penyabar", tidak mudah marah oleh godaan atau gangguan kecil. Jadi, ular pada saat puasa menjadi berkurang galak dan ganasnya. Lalu, ular berganti kulit dan mengakhiri puasanya. Hikmah: setelah berpuasa ular tetaplah ular. Ia tidak mengalami perubahan fundamental pada sifat dan karakternya. Mungkin ia menjadi lebih penyabar saat berpuasa, tetapi setelah selesai masa puasanya ia kembali ular sebagaimana lazimnya. Bila dalam puasa kali ini kita hanya baik saat bulan Ramadhan tetapi tidak mampu mempertahankannya setelah Ramadhan usai maka puasa kita adalah tipe puasa ular.
Puasa Ayam
Ayam juga melakukan puasa, yaitu ketika ia harus mengeram telurnya. Ia tidak makan tidak minum selama mengeram tersebut. Bahkan ia tidak beranjak dari tempatnya sama sekali. Begitulah cara ayam berpuasa. Pelajaran apa yang bisa kita ambil? Sebagaimana ular, sebelum dan sesudah berpuasa ayam tetaplah ayam. Ia tidak mengalami perubahan. Justru obyek lain yang berubah, sang telur berubah menjadi anak ayam. Bisa jadi puasa kita mirip dengan puasa ayam. Karena kita tidak sungguh-sungguh berpuasa dan atau karena puasa kita karena pamrih duniawi, maka tidak terjadi perubahan besar dalam diri kita. Meskipun mungkin, karena melihat kita berpuasa orang lain di sekitar kita menjadi segan melakukan "ketidak-baikan". Jadi, kita sendiri tidak mengalami perubahan, justru orang lain yang berubah karenanya. Bila demikian yang kita jalani maka puasa kita adalah puasa tipe ayam.
Puasa Ulat
Ulat memang menjijikkan, begitulah umumnya kita melihat binatang ini. Keberadaannya membuat kita tidak merasa nyaman. Tidak itu saja, ulat juga menjengkelkan karena dimanapun dia berada selalu membuat kerusakan. Bila dia tinggal di daun, rusaklah daun itu. Bila ia tinggal di buah, rusaklah buah itu. Bila ia tinggal di batang, rusaklah batang itu. Bila ia tinggal di akar, rusaklah akar itu. Pokoknya, dimanapun dia berada kerusakanlah yang dia perbuat.
Naudzubillah min dzalik. Semoga kita tidak memiliki sifat-sifat yang demikian ini. Keberadaan kita tidak disukai orang lain dan atau menyebabkan kerusakan. Untuk itu kita perlu selalu melakukan introspeksi diri. Jangan-jangan keberadaan kita selalu menimbulkan kerusakan. Misalnya dalam bergaul sering kita menginisiasi ghibah, membicarakan kejelekan orang lain. Maka dalam hal ini kita telah mengajak partner bicara kita melakukan perbuatan yang dimurkai Allah. Artinya keberadaan kita membuat dia rusak. Atau cewek dengan pakaian yang mengundang, maka bila karenanya ada cowok-cowok yang "terganggu" berarti sang cewek tersebut telah meninggalkan kerusakan. Bahkan mungkin saja kerusakan itu kita perbuat atas nama cinta. Kita mencintai lawan jenis kita, mengundangnya membalas cinta kita, lalu terlanggarlah norma-norma, maka berarti cinta kita telah membuatnya rusak. Atau kita terlalu mencintai anak kita, lalu bersikap sangat permisif, sehingga anak kita melabrak batasan dan perintah Allah, maka berarti dengan cinta kita telah membuat kerusakan pada anak kita. Naudzubillah tsuma naudzubillah min dzalik.
Luar biasanya ulat adalah kodratnya yang melakukan metamorphosis. Melakukan perubahan fundamental atas dirinya secara keseluruhan. Dan itu dilakukannya dengan cara berpuasa. Subhanallah. Setelah berpuasa yang kita kenal sebagai fase kepompong, secara keseluruhan ulat mengalami perubahan. Perubahan pertama adalah fisiknya. Sebelum berpuasa ia adalah binatang menjijikkan, namun setelah berpuasa ia menjadi binatang yang menyenangkan - kupu-kupu yang indah. Keindahan kupu-kupu mampu mengundang decak kagum manusia sehingga membangkitkan rasa dan karsa keindahan dalam dirinya. Lahir banyak karya sastra yang menggambarkan keindahan kupu-kupu. Keberadaan kupu-kupu itu sendiri telah mendatangkan kebaikan. Perubahan kedua adalah perilakunya. Bila sebelumnya tindakannya selalu menimbulkan kerusakan, setelah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu kemanapun dia pergi selalu melakukan kebaikan. Ketika ia hingga di bunga, bunga mendapatkan manfaat dari bantuannya melakukan penyerbukan. Setidaknya, keberadaannya tidak menimbulkan kerusakan. Di manapun dia hinggap, tidak sampai terjadi kerusakan. Bahkan ia menjadi perhiasan di tempat itu.
Begitulah tipe puasa ulat. Puasa yang dilakukan ulat bersifat totalitas. Pada dasarnya perubahan itu membuat dirinya lebih baik dan perilakunya juga lebih baik. Sungguh puasa Ramadhan adalah karunia Allah yang luar biasa. Karena kewajiban puasa itu dapat menjadi alat bagi kita melakukan transformasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Hawa nafsu membuat kita berprasangka bahwa diri kita telah baik dan melakukan kebaikan. Hawa nafsu sering membuat kita terlena sehingga melupakan kebutuhan transformasi diri tersebut. Karenanya, sungguh kita patut bersyukur karena diberi kewajiban ini. Dan ulat dapat menjadi teladan bagi kita untuk melaksanakan puasa sebaik-baiknya. Ia adalah kalam Allah yang terdapat di alam ini. Semoga Allah menjadikan puasa Ramadhan kita ini seperti puasanya ulat yang sukses melakukan transformasi diri. Amien.


