Tampilkan postingan dengan label GIS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GIS. Tampilkan semua postingan

04 Maret, 2009

Blog kelas GIS

Bagi yang mengikuti MK Sistem Informasi Geografis silahkan menginfokan alamat blog, dan info diri: NIM dan nama melalui komentar pada posting ini.

Selengkapnya....

01 Januari, 2009

Periksa arah kiblat dengan Google Earth (2)

2. Memeriksa arah kiblat kita

Dahulu, diperlukan seorang ahli khusus untuk bisa menentukan arah kiblat dengan tepat. Misalnya saja ketika akan mulai membangun masjid atau musholla. Mungkin pada masa-masa awal Islam, orang menggunakan petunjuk (berdasarkan posisi) bintang-bintang dalam menentukan arah kiblat. Lalu ketika geografi dan geometri berkembang memadai orang mulai menggunakan perhitungan matematis untuk menentukan arah. Sekarang dengan adanya GoogleEarth (terima kasih GoogleEarth) seorang awam dapat dengan mudah memeriksa (dan atau menentukan) arah kiblatnya. Cukup memiliki akses ke komputer yang terhubung ke Internet (biar bisa akses GoogleEarth), yang telah terpasang perangkat lunak GoogleEarth (kalo belom bisa unduh dulu, ada versi gratisnya koq), lalu ikuti langkah-langkah sederhana berikut.

  • Jalankan aplikasi GoogleEarth (jangan lupa komputer harus terkoneksi ke Internet, kecuali anda sudah menabung data pada cache anda sebelumnya dari daerah yang menjadi location of interest).
  • Cari dan zoom ke lokasi dimana anda ingin mengetahui arah kiblatnya. Dalam contoh ini akan kita gunakan Masjid Istiqlal Jakarta. Lalu beri penanda lokasi (placemark) agar nantinya memudahkan kita mencari lokasi ini (perhatikan setelah anda memberikan penanda lokasi, maka penanda buatan anda tadi akan ditampilkan pada kota Places

  • Cari dan zoom ke lokasi Ka'bah. Anda bisa melakukannya secara manual bila memiliki gambaran dimana kira-kira letaknya di muka bumi ini. Atau gunakan fasilitas search dengan menggunakan kata kunci "Ka'bah". Untuk memudahkan penelusuran selanjutnya sebaiknya beri tanda (placemark) di sekitar Kakbah.

  • Aktifkan perangkat ruler. Perangkat ini selain dapat digunakan untuk mengukur jarak, juga dapat digunakan untuk membantu kita memeriksa arah kiblat.
  • Tarik garis menggunakan ruler dengan titik awal adalah titik tengah bangunan Kakbah dan titik akhirnya adalah lokasi yang akan diperiksa arah kiblatnya. Tips: Karena Indonesia berjarak sangat jauh dari Kakbah, cara yang praktis setelah mengklik titik awalnya (yaitu Kakbah) lalu klik pranala penanda lokasi yang telah anda buat sebelumnya yang terletak pada kotak Places. Perhatikan bahwa setelah anda klik titik awalnya, kemanapun anda mengarahkan pointer anda akan diikuti garis lurus yang dimulai dari titik awal tersebut.


  • Selanjutnya anda dapat menilai apakah arah kiblat masjid telah tepat menuju ke Kakbah. Silahkan anda mencoba untuk memeriksa arah kiblat masjid-masjid yang anda kenali atau yang sering anda gunakan untuk sholat. Jangan terlalu kaget dan perbanyaklah maklum jika anda menemukan masjid tempat anda biasa sholat tidak tepat mengarah ke Kakbah.


  • Atur zoom untuk bisa melihat garis lurus yang menghubungkan Kakbah dengan masjid yang anda periksa. Tips: Anda bisa mematikan perangkat ruler untuk memudahkan zooming dan melihat tampilah tanpa tertutup kota ruler.


Selamat mencoba.

Selengkapnya....

31 Desember, 2008

Periksa arah kiblat dengan Google Earth (1)

1. Arah kiblat dan ketaatan kita

Bagi setiap muslim, tentu sangat penting untuk mengetahui arah kiblat. Karena ke arah kiblatlah wajahnya dihadapkan setiap kali melakukan sholat. Menghadap kiblat bukan saja sekedar memenuhi syarat sahnya sholat, tetapi lebih menunjukkan ketaatan seorang muslim akan perintah Allah SWT, sebagaimana yang disampaikan melalui Al Baqoroh 143.


Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia (Al Baqoroh 143)


Ayat tersebut berkaitan dengan perubahan kiblat kaum mukminin dari yang sebelumnya (yaitu Baitul Maqdis) ke Masjidil Haram. Pada saat itu perintah memindah kiblat berguna untuk membedaka siapa yang benar-benar beriman (karena mentaati perintahNya) dan siapa yang munafik (mengingkari perintahNya - mengaku beriman karena ada kepentingan-kepentingan lain. Pada jaman kita sekarang, hal itu tetap berlaku, yaitu untuk menguji apakah kita mentaati perintahNya - sekalipun kita tahu bahwa Allah ada dimana-mana, sholat kita tetap mengarah ke Ka'bah).


Sekali lagi, menghadapkan wajah ketika sholat ke kiblat (yaitu Ka'bah) bukan berarti karena Allah SWT berada di sana. Allah berada di mana-mana. Kemanapun kita menghadapkan wajah kita, ke sana kita menghadap Allah. Jadi mengapa sholat harus menghadap ke kiblat?

Bayangkanlah seandainya anda adalah orang tua yang memiliki seorang anak. Lalu anda meminta/menyuruh anak anda mengambilkan beberapa lembar kertas yang ada di meja kerja anda, padahal di rumah anda terdapat banyak kertas yang sejenis di berbagai tempat. Lalu anak anda mengambilkan kertas yang terdekat dengan posisinya, bukan kertas yang berada di tempat yang anda minta. Bukankah anda akan menilai bahwa anak anda tidak cukup patuh kepada anda? (Mungkin karena maksud anda sekalian merapikan meja kerja anda!? Siapa tahu).


Demikian pula ketika kita harus menghadapkan wajah kita ke kiblat pada saat sholat. Meski ke arah manapun kita menghadap di sana ada Allah, tetapi karena diperintahkan kita menghadap kiblat - dan sebagai bukti ketaatan kita terhadap perintah tersebut - maka dalam sholat kita hadapkan wajah kita ke kiblat.

Pada dasarnya melaksanakan syari'at dengan disiplin adalah wujud dari ketaatan kita (yang menjadi ciri dari ketaqwaan) kepada Allah SWT. Bukannya tidak boleh kita mencari hikmah di balik suatu syari'at, tetapi dalam pelaksanaannya tidak perlulah kita bertanya mengapa perintahnya begini atau begitu. Bila diperintahkan sholat shubuh itu dua rekaat, tidak perlu lagi kita tanya mengapat sholat shubuh hanya dua rekaat ketika kita mau melaksanakannya.

Selengkapnya....