27 Juli, 2009

Yang Pertama

Memang tidak mudah menjadi yang pertama (?!). Jadi anak yang pertama dalam satu keluarga biasanya lahir ketika ekonomi keluarga belum cukup mantap. Jadi ia hanya menerima fasilitas seadanya, beda dengan anak ke dua dan seterusnya yang lahir setelah cukup waktu bagi orang tua mencapai tingkat ekonomi yang lebih baik. Sama persis dengan murid-murid angkatan pertama dari sebuah sekolah baru. Fasilitas belum lengkap, guru masih sedikit dan belum banyak pengalaman.



Demikian juga dengan suatu usaha. Langkah pertama biasanya sangat sulit. Seolah meraba-raba di tempat gelap untuk menemukan segala sesuatunya yang akan dilakukan. Diperlukan kepercayaan diri yang sangat tinggi untuk melakukannya. Bahkan, bagi sebagian orang hal itu terlihat sebagai sebuah kenekadan - atau lebih dari itu sebuah kegilaan. Bagi sebagian orang tersebut, hanya orang nekad atau yang gila saja yang mau melangkah dengan meraba-raba dalam kegelapan. Bagi mereka kegelapan identik dengan menyimpan sejuta resiko - sehingga dalam bahasa mereka mengayunkan langkah pertama suatu usaha adalah suatu kenekadan dan kegilaan. Itulah sebabnya mereka tidak terlalu siap mengembangkan dirinya. Ayunan kakinya selalu dibayangi oleh ketakutan yang dibangunnya sendiri akan resiko-resiko. Bagi mereka, kegagalan sungguh sesuatu yang amat mengerikan. Benarkah yang sesungguhnya itu sedemikian rupa?

Ada satu ajaran yang selalu saya anggap sebagai teori pembelajaran. Sesudah kesulitan itu ada kemudahan (QS 94, 5-6). Bagi seorang guru sangat mudah melihat hal ini. Seorang yang belajar matematika, ketika kepadanya diberikan suatu soal yang sulit maka sekali saja ia mampu menyelesaikannya maka soal yang sejenis akan menjadi mudah baginya. Nasihat ayah saya, tirulah sikap Semar (tokoh punakawan dalam dunia pewayangan). Semar selalu tertawa bila dalam perjalanannya harus menempuh jalan mendaki. Ia menyemagati anak-anaknya yang berkeluh kesah melakukan pendakian dengan keyakinannya yang sangat masuk akal. Sesudah jalan mendaki pasti ada jalan menurunnya. Jadi bergembiralah menempuh jalan terjal mendaki.

Tanggal 25 Juli yang lalu saya mengisi pelatihan untuk guru-guru di Sulawesi Utara. Saya beruntung karena dengannya saya menghayati kembali pedoman ini. Sesudah kesulitan terdapat kemudahan. Ini semacam refreshing bagi saya, penyegaran kembali sesuatu yang mungkin sekali saya telah lengah terhadapnya. Jadi kisahnya, itu adalah pelatihan pertama yang diselenggarakan panitia lokal. Modusnya juga merupakan yang pertama. Biasanya guru-guru disana mengikuti pelatihan sejenis berdasarkan suatu penugasan dari sekolah atau dinas. Kali itu tidak, karena guru peserta pelatihan mengikuti atas dasar inisiatif pribadi. Jadi boleh dikatakan kegiatan tersebut adalah "jenis yang pertama".

Pelatihan itu sendiri menumbuhkan kesan yang kuat dalam diri saya karena antusiasme peserta yang luar biasa. (Saya yakin dengan guru-guru seperti mereka itu pendidikan di Indonesia akan lebih maju.) Kepuasan utama seorang penyampai adalah ketika penerima antusias dengan apa yang disampaikannya. Namun, penyelenggaraannya sendiri bukanlah sesuatu yang mudah. Beberapa kali terjadi penundaan. Pada H-1, pendaftar sudah ... 14 orang. Tentu panitia lokal dalam keadaan underpressure. Saya harus angkat topi tinggi-tinggi untuk panitia lokal, khususnya Pak Manopo. Ketenangan panitia lokal membuat saya tidak dapat membaca masalah yang sedang mereka hadapi. Saya sangat berterimakasih karena dengan demikian persiapan saya untuk pelatihan itu sendiri tidak terganggu. Meskipun sebenarnya saya punya pengalaman seperti itu. Saya pernah memberi kuliah dengan mahasiswa cuma satu orang. Saya juga pernah mengikuti pelajaran tanpa teman sama sekali, sendiri di kelas (eh berdua koq sama Pak Rahmad - guru yang mengajar saya saat itu).

Akhirnya, jumlah peserta pelatihan tersebut 70 orang. Meskipun masih di bawah taget, angka tersebut sudah lumayan. Setelah pelatihan, saya dan beberapa panitia lokal berbincang-bincang sambil sedikit melakukan evaluasi. Eureka! Setelah melangkah yang pertama ini, begitu mudah kami melihat berbagai hal yang seharusnya dilakukan agar even yang sejenis dapat terlaksana dengan lebih baik. Kami mengidentifisi satu demi satu kelemahan penyelenggaraan dan segera menemukan solusinya. Subhanallah... Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Dengan bekal ini kami siap membuat langkah ke dua. Semoga Allah meridhoi, dan semoga yang membaca tulisan ini ikut tergerak menguak kabut ketakutan dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang baru - sesuatu yang pertama baginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar