Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad, dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah SAW bersabda, "Jika makanan salah satu kalian jatuh maka hendaklah diambil dan disingkirkan kotoran yang melekat padanya, kemudian hendaknya dimakan dan jangan dibiarkan untuk setan." Dalam riwayat lain "sesungguhnya setan bersama kalian dalam segala keadaan, sampai-sampai setan bersama kalian pada saat makan. Oleh karena itu, jika makanan kalian jatuh ke lantai maka kotorannya hendaknya dibersihkan kemudian di makan dan jangan dibiarkan untuk setan. Jika sudah selesai makan maka hendaknya jari jemari dijilati karena tidak diketahui di bagian manakah makanan tersebut terdapat berkah."
Apa yang dicontohkan oleh rasul oleh banyak orang hanya dijadikan rujukan tentang bagaimana adab makan yang seharusnya. Padahal
apa yang disampaikan rasul lebih dari 1400 tahun yang lalu itu adalah suatu akhlak yang betul-betul berperspektif global, meskipun saat itu belum ada istilah "globalisasi". Yah, karena apa yang disampaikan tersebut menyentuh ke jantung salah satu permasalahan global yang dihadapi oleh manusia modern. Tentu ada yang bertanya, memangnya masalah tatacara makan termasuk persoalan gawat yang dihadapi oleh planet ini?
Tentu bukan, karena perspektif dalam tulisan ini terletak pada sampah. Koq? Seandainya saja makanan yang terjatuh tadi tidak diambil kembali, maka itu berarti sampah dalam ukuran yang melebihi yang seharusnya. Bukankah cukup yang tidak bisa dimakan saja (baca: yang terkena kotoran) yang boleh menjadi sampah? Kalau yang masih bisa dimakan, sebaiknya janganlah menjadi sampah karena sampah akan memunculkan masalah-masalah (sebagaimana sifat setan). Demikian pula sisa makanan pada jari (atau sendok, kalau makan pakai sendok) yang akan mencemari air yang kita gunakan untuk mencucinya. Semakin sedikit sisa makanan yang kita cuci berarti semakin kecil tingkat pencemaran air.
Masalah sampah saat ini sungguh-sungguh merupakan persoalan global. Semua negara menghadapi persoalan sampah dalam tingkatan yang berbeda-beda sekaligus juga menjadi masalah bersama karena tidak mungkin diatasi sendirian saja. Kompleksitas masalah sampah juga berasal dari persoalan ikutan yang dibawa oleh sampah itu sendiri, antara lain:
Sampah menjadi masalah karena ukurannya yang besar (tentu, sampah yang sedikit tidak akan sampai menyumbat saluran drainase dan menyebabkan banjir). Untuk Kota Malang saja, dengan jumlah penduduk 800 ribu lebih jiwa, sampahnya bisa mencapai 326 ribu ton lebih per tahun (diprediksi dari sampah per kapita perhari untuk Indonesia yang sebesar 0,76 Kg/orang/hari (World Bank. What a Waste: Solid Waste Management in Asia, May 1999). Dan, 64%-nya adalah sampah domestik, sampah yang diproduksi oleh rumah tangga. Itu berarti kalau mau mengatasi masalah sampah, yang paling signifikan adalah mengatasi sampah domestik karena persentasenya yang tinggi.
Pada sisi penekanan volume sampah domestik inilah arti penting semangat yang ditanamkan melalui adab makan oleh rasulullah. Bukan sekedar tatacara makan itu yang menjadi fokusnya, tapi bagaimana membentuk akhlak yang peka terhadap terhadap masalah lingkungan. Begitu halusnya akhlak yang diajarkan rasulullah ini karena di dalamnya terdapat perspektif menhindarkan diri dari melakukan perbuatan yang mendzalimi orang lain. Dalam tatacara makan kita harus ada empati untuk menghindarkan seminimal mungkin dampak negatifnya terhadap orang lain. Bukankah sampah (termasuk sisa makanan kita) yang kita buang itu hanya mengalihkan masalah dari tempat kita ke tempat (orang) lain? Kalau urusan tata cara makan saja harus berimplikasi menghindari mudharat bagi orang lain, apa lagi urusan yang lainnya.
Adab makan itu sendiri setidaknya relevan dalam pandangan kekinian untuk dua hal. Pertama, mengatasi masalah yang paling signifikan. Karena rumah tangga merupakan penyumbang sampah terbesar, maka setiap upaya untuk menguranginya sangat berarti. Adab makan yang disunahkan rasul secara tepat menembak masalah terbesar dalam produksi sampah. Adab yang diajarkan oleh rasul ini seolah-olah hendak memprediksi bahwa kelak (baca: zaman modern sekarang ini) konsumen rumah tanggalah yang akan menjadi sumber utama masalah sampah.
Kedua, mengatasi masalah sejak dari sumbernya. Akhir-akhir ini telah berkembang mainstream pemikiran yang intinya menyelesaikan masalah sampah sedekat mungkin dengan sumbernya. Pendekatan TPA (tempat pembuangan akhir atau kadang disebut landfill sanitary) terbukti di banyak tempat tidak menyelesaikan masalah dengan baik karena reliabilitasnya yang kurang atau penolakan-penolakan dari warga sekitar. Sunah rasul ini selaras betul dengan pemikiran modern ini, bahkan sangat akurat. Konsumen rumahtanggalah sumber sampah terbesar. Namun, hakikatnya yang menjadi sumber masalah adalah perilakunya. Kita tidak dapat mengeneralisir bahwa semua manusia merupakan sumber masalah dengan bobot yang sama. Ada di antara mereka yang perilakunya acuh, tidak peduli akan akibat dari sampah yang dihasilkannya. Tapi ada pula orang yang sangat peduli akan hal itu. Jadi, perilaku yang tidak peduli terhadap akibat-akibat dari perbuatannya itulah sebenar-benarnya sumber masalah. Adab makan yang menjadi idealitas akhlak muslim tersebut secara tepat menjadikan perilaku sebagai sumber masalah yang harus diperbaiki.
Dalam bulan Ramadhan ini, dimana orang beriman diajarkan mengendalikan nafsunya, pendalaman perbaikan akhlak dalam konteks kontemporer menjadi sangat relevan. Tugas kita membumikan nilai-nilai yang dibawa rasulullah pada zaman ini. Dan... contoh kecil tentang adab makan memberi gambaran kepada kita bagaimana sesungguhnya ajaran islam bisa menjadi akhlak global. Hanya Allah yang Maha Tahu.
10 September, 2009
Hikmah Ramadhan: Akhlak Global
09 September, 2009
Puasa pendidikan hati
Sesaat sebelum berangkat ke kantor hari itu masih sempat saya melihat tayangan berita di salah satu stasiun televisi. Kebetulan sekali berita yang ditampilkan sangat merisaukan hati: bentrok fisik yang melibatkan mahasiswa di dua kampus berbeda. Tentu saja hal tersebut menyentuh nurani saya, karena keseharian saya adalah di kampus. Sambil mengemudikan kendaraan ke arah kampus saya mencoba bermuhasabah, bagaimana mungkin kumpulan orang-orang terdidik dapat melakukan tindakan anarkhi - justru di bulan Ramadhan.
Faktanya, anarkhi itu telah terjadi. Karena itu pertanyaannya menjadi mengapa mereka melakukannya? Tentu kita sulit untuk menggali motivasinya, akan tetapi kita dapat menelusur dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai model. Faktor apa yang akan membuat kita dapat bertindak anarkhis? Emosi nan tak terkendali. Kira-kira begitulah kita akan menjawabnya. Sayangnya, justru emosi itulah yang diletakkan (entah sengaja atau tidak) di ranah di luar pendidikan formal.
Di hampir semua institusi pendidikan formal, hampir kita tidak temui kurikulum yang secara intensif dan terpadu untuk meningkatkan kemampuan emosional peserta didik secara terarah. Padahal, telah menjadi kesadaran umum bahwa emtional quotient lebih penting dari sekedar intelectual quotient. Mungkin para perancang kurikulum tersebut berasumsi bahwa dengan meningkatnya kemampuan kognitif seseorang maka dengan sendirinya kemampuan emosionalnya juga menjadi lebih baik. Sayang sekali kenyataannya tidak membuktikan demikian. Berita di tv yang saya ceritakan di awal posting ini secara telak menyanggah asumsi para perancang kurikulum itu. Terlebih, berita itu bukanlah yang pertama, tapi telah yang kesekian kalinya.
Ada ungkapan yang sering digunakan orang: kepala boleh panas, tetapi hati jangan. Maksudnya, jangan sampai emosi mengalahkan nalar. Ungkapan itu muncul karena orang melihat dari pengalamannya bahwa ternyata emosi dan nalar memang dua hal yang terpisah. Banyak orang yang lebih bisa menerima orang dengan kepintaran nalar yang tidak terlalu menonjol tetapi pintar mengendalikan emosinya dari pada orang yang sebaliknya. Itu berarti bahwa, pendidikan yang hanya menekankan kepintaran nalar sebenarnya tidak mampu memenuhi harapan masyarakat akan keluarannya.
Dalam kerangka inilah letak arti penting puasa ramadhan. Puasa adalah tindakan secara sengaja menahan diri dari segala perbuatan yang dilarang agama. Jadi intinya adalah pengendalian diri. Sehingga ketika ada orang yang menarik-narik kita agar kendali emosinya buyar, rasulullah menganjurkan agar menjawab dengan: saya sedang puasa. Namun sayang sekali, seperti disinyalir oleh rasul, banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus saja. Mereka itulah antara lain orang yang dalam puasanya tidak dapat mengendalikan emosinya. Mereka itulah orang-orang yang gagal memanfaatkan puasa untuk mendidik hatinya. Semoga kita tidak termasuk orang yang demikian. Na'udzubillah min dzalik.
05 September, 2009
Bencana gempa itu.
Seorang supervisor pada sebuah proyek pembangunan infrastruktur suatu hari sedang sibuk melaksanakan tugasnya di lapangan. Ia bertanggungjawab untuk mengarahkan dan mengawasi pekerjaan sejumlah pekerja bangunan. Suasana sangat berisik, suara mesin dari berbagai peralatan berat menderu-deru diselingi teriakan pekerja dan mandor yang saling berkoordinasi. Keadaan di lapangan itu seperti kapal pecah saja. Berbagai tumpukan material terlihat di sana-sini. Lubang-lubang galian juga terlihat menganga di sejumlah lokasi. Dalam keadaan seperti itulah sang supervisor harus bergerak ke sana kemari.
Begitu asyiknya sang supervisor bekerja hingga ia tidak sadar bahwa ia mendekati kabel terbuka yang mengalirkan listrik tegangan tinggi yang terhampar di tanah di depannya. Mengetahui bahwa sang supervisor mendekati bahaya, sejumlah pekerja berteriak-teriak memperingatkannya. Sayang sekali, suasana di tempat itu begitu gaduh dan jarak para pekerja yang berterian tersebut cukup jauh dari sang supervisor. Suara-suara memperingatkan dari para pekerja itu tidak mampu menyadarkan sang supervisor karena tertelah kegaduhan ditempat itu. Dengan tenang ia melanjutkan langkahnya dan tanpa disadarinya ia mendekati bahaya yang mengancam jiwanya.
Tinggal dua langkah lagi kaki sang supervisor akan melanggar kabel bertegangan tinggi tersebut. Menyadari teriakannya diabaikan sementara jaraknya cukup jauh untuk menghentikan langkah sang supervisor, seorang pegawai mengambil inisiatif melempar sang supervisor dengan sebuah batu. "Pletak!" Batu yang dilempar agak keras tersebut mengenai kepala sang supervisor menyusup di bawah helm dan sedikit di atas telinga. Entah keberuntungan apa yang menghinggapi sang pelempar sehingga batu tersebut mengenai bagian kepala yang tak terlinding.
Tentu kepala sang supervisor tersebut terluka oleh lemparan itu. Kepalanya terlihat mengeluarkan darah. Tapi hal tersebut justru menyelamatkannya. Mendadak ia menghentikan langkahnya, tepat dua langkah sebelum ia melanggar kabel yang membahayakan dirinya. Segera ia membalik badan menghampiri arah dari mana lemparan tadi berasal. "Siapa yang melemparku dengan batu tadi?" tanyanya kepada sekelompok pekerja dengan agak geram. Tangannya memegang bagian kepalanya yang terluka seakan ingin menghentikan pendarahan yang sebenarnya tidak terlalu bahaya baginya. "Saya pak" jawab seorang pekerja. "Kami sudah berteriak agar Bapak berhenti, tapi rupanya Bapak tidak mendengar. Padahal di depan Bapak ada kabel bertegangan tinggi yang berbahaya. Jadi saya lempar saja pakai batu, karena tidak mungkin lagi mencegah Bapak melanggar kabel itu dengan cara yang lain.", demikian ia menerangkan sambil menunjuk kabel yang dimaksud.
Sang supervisor menengok arah yang ditunjuk sang pekerja, dan ia menyadari betapa dia tadi hampir saja celaka. Andai saja tidak ada lemparan batu yang menghentikannya, sangat mungkin ia telah meregang nyawanya. Menyadari hal tersebut, ia tidak menjadi marah, justru berterimakasih sekali kepada pekerja yang melempar kepalanya hingga luka tersebut.
Demikianlah gambaran tentang bencana alam yang menimpa bangsa kita kemarin ini. Dengan bencana alam gempa di Jawa Barat yang menggiriskan itu seolah Tuhan sedang melempar kita agar kita berhenti melakukan sesuatu atau memulai sesuatu yang lainnya. Yah, bencana gempa itu merupakan peringatan Tuhan kepada kita. Bukankah akhir-akhir ini sepertinya bangsa kita mengalami bencana yang silih berganti saja? Jangan-jangan bencana-bencana itu adalah lemparan batu yang maksudnya untuk menyelamatkan kita sebagai bangsa.
Masih teringat kita akan dahsyatnya bencana tsunami yang melanda Aceh. Bencana itu sesaat membangkitkan rasa saling menyayangi yang amat besar kepada seluruh anggota bangsa ini. Bencana itu telah mampu menggerakkan hati setiap kita untuk mau berkorban dan memberikan apa yang kita punyai untuk saudara kita. Tetapi, mungkin rasa itu hanya sesaat saja. Kita kembali menjadi egois, seba mementingkan diri sendiri. Kalau perlu milik saudara harus kita terkam. Bukankah itu hakikat korupsi? kekacauan di balik ambruknya Bank Century?, keengganan anggota dewan lengser kita memenuhi berbagai kewajiban? (mis: mengembalikan mobil dinas, melunasi hutang, dll).
Bukan hanya itu saja. Mungkin kita telah menjauhi Tuhan. Kita tidak lagi bersemangat menjalankan perintah-perintahnya. Kita tidak berusaha meninggalkan hal-hal yang mubah. Kita juga tidak meninggalkan hal-hal yang makruh, bahkan yang haram. Di bulan Ramadhan ini, begitu semarak fenomena ngabuburit. Jauh lebih semarak dari kegiatan tadarus di masjid-masijd atau di rumah.
Yahh, sangat mungkin lemparan batu itu membuat kita berdarah-darah. Tetapi kita tidak boleh marah, justru harus berterimakasih. Mungkin tanpa bencana itu kita akan terjerumus lebih jauh pada kerusakan yang lebih tak terperikan. Naudzubillahi min dzalik. Semoga tidak terjadi pada kita.
04 September, 2009
Kayu dari hutan mana?

Aha.. kayu dari hutan mana tuh? Berapa umur pohon itu? Wah... sekejap saja ia telah menghiasi rumah-rumah kita. Kalau kita menanam sekarang, cucu ke berapa baru bisa tebang seperti itu?
03 September, 2009
Doa seorang petani
Seorang sahabat, yang pekerjaannya menanam dan menjual bibit-bibit tanaman, menginspirasikan sebuah do'a kepada kami.
"
Ya Allah, Engkaulah pemilik segala kekuatan maka kuatkanlah hambamu ini beribadah hari ini. Ya Allah yang Maha Hidup, jadikanlah bibit-bibit yang hamba tanam hari ini hidup dan tumbuh sebaik-baiknya dan menjadi rejeki bagi hamba untuk menafkahi keluarga dan menyantuni mereka yang membutuhkan.
Ya Allah, Engkaulah yang Maha Mengatur segala urusan di bumi ini. Karena itu ya Allah, jadikanlah tanaman yang hamba tanam hari ini tumbuh sehat sempurna sehingga memberikan keindahan dan kenyamanan bagi semua makhlukMu yang hidup di sekitarnya. Jadikan pula dengannya daurh hidup berbagai makhlukMu berlangsung dengan sebaik-baiknya dan memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada para makhlukMu yang lain.
Jadikanlah itu shodaqoh hamba beserta mereka yang ikut merawat tanaman itu semuanya.
Ya Allah, jadikanlah tanaman itu bekerja sempurna menghasilkan oksigen sehingga menjadi jalan rahmatMu bagi makhluk-makhluk di sekitarnya. Jadikan pula seresah tanaman ini sebagai penyubur tanah ciptaanMu di berbagai tempat dan menjadi jalan rahmadMu dengan menyuburkan bumi dan menggembirakan mereka yang tinggal di atasnya.
Dan, jadikanlah itu sebagai amal hamba dan orang-orang yang merawatnya yang menjadikan berat timbangan kebaikan hamba di sisiMu.
Ya Allah, Engkaulah Maha Pemberi Rejeki. Maka, hamba memohon kepadaMu ya Allah, sempurnakan perakaran tanaman yang hamba tanam hari ini agar menjadikannya dapat menahan air yang kemudian memberi kehidupan kepada makhluk-makhlukMu di sekitarnya yang membutuhkan. Jadikan pula perakaran tanaman tersebut mencegah erosi dan menyelamatkan makhluk-makhlukMu di sekitarnya dari bahaya banjir, kekeringan, dan kerusakan lingkungan. Ya Alah yang Maha Pemurah, jadikanlah hal tersebut amal jariyah hamba dan orang-orang yang memeliharanya.
Ya Allah, Engkaulah yang Maha Kaya dan kami sungguh-sungguh miskin, sungguh-sungguh dhoif. Karena itu ya Allah, tumbuhkanlah dengan sempurna tanaman ini agar orang-orang dapat menerima rezekiMu dari buah-buahannya, dari dedauanannya, dan dari semua bagian tanaman yang hamba tanam ini. Berkahkanlah rezeki tersebut bagi mereka dan ikutkanlah hamba sebagai orang yang Kau perhitungkan menjadi jalan rezeki mereka.
Ya Allah, Engkaulah yang Maha Memelihara. Maka, mudahkanlah hamba dan sesiapa saja yang ikut merawat tanaman ini menjaganya dari kerusakan-kerusakan. Tumbuhkanlah tanaman tersebut dengan sempurna sehingga berkembang biak, beranak-pinak dengan sebaik-baiknya. Dan jadikanlah semua keturunan tanaman ini memberikan manfaat sebagaimana induknya, serta jadikanlah manfaat-manfaat tersebut amal jariyah bagi hamba dan semua orang yang ikut memeliharanya.
Ya Allah, kabulkanlah permohonan hamba ini. Karena hamba yakin Engkau adalah Maha Pengabul segala doa.
"
Terima kasih sahabat, berkat engkau kepalaku semakin tertunduk - malu aku akan hidupku bila kelak dipertanyakan di hari perhitungan.
01 September, 2009
Manusia haram
Sudahkan kita introspeksi diri kita hari ini? Mungkin ide berikut ini dapat menjadi kerangka untuk kita memperbaiki diri. Ada lima kategori orang di setiap masyarakat.
31 Agustus, 2009
Gelas nan tak retak
Bulan ramadhan disebutkan oleh banyak ulama sebagai bulan pendidikan. Artinya dalam bulan tersebut kita belajar sesuatu, biasanya kita sebut dengan ilmu. Karena tujuan orang berpuasa itu adalah menjadi orang bertaqwa, maka ilmu yang kita pelajari tentu saja ilmu tentang jalan atau cara menuju ketaqwaan. Karena ketaqwaan itu bukanlah sesuatu yang kuantitatif dan tidak ada batasan kriterianya, maka setiap tahun - siapapun dia - harus mengalami perubahan karena puasanya. Di penghujung Ramadhan tingkat ketaqwaannya harus lebih baik dari sebelumnya.
Masalahnya, boleh jadi banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapat haus dan dahaga saja. Itu berarti orang-orang tersebut gagal menggapai tujuan Ramadhan. Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah orang-orang tersebut gagal menampung ilmu yang diajarkan dalam puasa Ramadhan. Terkait dengan hal ini, orang belajar menuntut ilmu bisa diandaikan seperti gelas yang diisi air. Keadaan gelas itu akan menentukan apakah ia akan terisi penuh atau tidak.
Gelas pecah.
Mengisi air hingga penuh ke dalam gelas pecah/bocor tentu menjadi pekerjaan yang tidak masuk akal (kecuali gelasnya ditambal dulu :P ). Apa lagi jika gelas tersebut bocor atau pecahnya pada bagian bawah, bahkan air tidak mau tinggal dalam gelas tersebut. Gelas pecah ini ibarat orang yang menuntut ilmu tidak dengan sungguh-sungguh. Gak niat, kata orang Jawa. Keadaan tidak sungguh-sungguh ini berkawan karib dengan kemalasan. Tergantung tingkat kesungguhan orang tersebut, semakin malas ia maka ibarat gelas semakin dekat lubang bocor dengan dasar gelas - alias semakin sedikit ilmu yang bisa dihimpunnya.
Ini adalah gambaran orang yang berpuasa tetapi tidak sungguh-sungguh menjalani dan menyerap pelajaran di dalamnya. Ketika ada kultum, ia sibuk bercakap dengan jamaah di sebelahnya, atau ber sms, atau fesbukan, atau sekedar melamun berhitung kecukupan tabungan plus te ha er untuk mudik. Begitu pula ketika hati kecil berbisik "eh mendingan kamu tadarus saat menunggu berbuka puasa dari pada ngabuburit", maka pesan nurani ini diabaikannya saja. Juga ketika secara halus hati berbisik untuk memperbanyak sodakoh, kepala berkata "eh nanti dulu, buat mudik belum cukup nee". Yahh itulah sedikit contoh yang membuat kita mirip dengan gelas pecah. Jadi ilmu yang tersaji selama Ramadhan ini luber kemana-mana, tidak ada yang tinggal dalam hati. Akhirnya, sebelum dan sesudah Ramadhan kita sama saja. Tidak menjadi lebih baik.
Gelas terbalik
Ini keadaan yang lebih parah dari gelas pecah. Bahkan gelas tanpa cacat kalau dipasang terbalik tidak akan dapat menampung air setetespun. Ini adalah ibarat orang-orang yang sombong, yaitu mereka yang merasa dirinya sudah baik dan lebih baik dari orang lain. Mereka ini menolak mentah-mentah nasehat-nasehat dari orang lain karena merasa mereka itu tidak lebih baik dari dirinya. Bagi mereka berlaku, siapa yang bicara - bukan apa yang diucapkan. Dan sang "siapa" yang paling pintar dan paling benar adalah dirinya sendiri. Mereka ini yang dicap di dalam Al Qur'an: golongan yang sama saja engkau beri nasehat atau tidak.
Ironisnya, sebagian dari golongan gelas terbalik adalah mereka yang merasa telah berilmu. Karenanya mereka pikir tidak perlu lagi menerima nasihat orang lain. Dalam kelompok ini juga termasuk orang-orang yang mengangkat dirinya sendiri (dengan persangkaannya sendiri) bahwa mereka lebih baik dari orang lain karena status sosialnya, atau hartanya. Secara umum orang-orang yang sombong adalah orang yang tidak mau menerima kebenaran di dalam hatinya. Jadi jangan harap dengan bekal kesombongan kita akan sukses meraih tujuan puasa Ramadhan.
Gelas utuh dan terbuka
Inilah kedaan yang ideal. Pada saat puasa Ramadhan (atau dalam kondisi apapun - termasuk di luar Ramadhan), kita menuntut ilmu dengan kesungguhan dan kerendahan hati. Belajar sungguh-sungguh ibarat gelas yang utuh, dan kerendahan hati ibarat gelas yang duduk dengan mulutnya di atas - siap menampung air yang dicurahkan. Dua hal ini sekaligus juga menjadi indikator apakah kita sukses berpuasa atau tidak. Bila setelah Ramadhan ini kita menjadi orang yang semakin bersungguh-sungguh menjalankan semua ibadah dan lebih rendah hati dalam bergaul dengan sesama, maka itu menggambarkan pada saat puasa kita telah terlatih menggunakan keduanya untuk menimba ilmu puasa ramadhan. Semoga kita termasuk orang-orang yang bersungguh-sungguh dan rendah hati.
30 Agustus, 2009
I love this game
Life is a game. Yes it is ... It is writen in part of verse 20th of Surah Al Hadid of Holy Quran. The great thing is that the statement commented more than thousand years ago exactly actualized by today's games.
All games can be characterized by:
Life is a game. As any other games that will be ended after it was started, life will also be ended. Game will be over at the time you die. You may be a winner or a looser at that time. If you want to be a winner in your life game, you need to:
26 Agustus, 2009
Kepastian
Jangan mengejar burung gelatik yang terbang di langit lantas burung merpati di tangan dilepaskan. Begitulah nasihat ibu saya ketika saya meminta pertimbangannya saat mau berhenti bekerja dari sebuah pabrik gula - pekerjaan yang saya jalani selama 2 tahun selepas SLTA. Inti dari nasihat itu adalah agar saya berhati-hati untuk tidak menukar kepastian dengan suatu ketidakpastian. Karena kepastian itu lebih safe dan
karena ketidakpastian itu memuat resiko lebih besar. Bagi seorang penganut paham safety first, nasihat itu adalah ajaran utama. Tidak masuk akal bagi seseorang untuk mengabaikan sesuatu yang sudah pasti dengan mengejar-ngejar yang tidak pasti.
Ketidakpastian tidak saja mengandung resiko, tetapi juga bisa memberi tekanan psikologis. Bisa bikin gelisah, bikin sakit hati sampai bikin stress. Tapi, anehnya justru kebanyakan orang mengabaikan nasihat penting tersebut. Bukannya memegang yang sudah pasti, justru mengejar-ngejar yang tidak pasti. Bila kita belajar keras untuk mencapai prestasi akademik, maka ketercapaiannya adalah ketidakpastian. Bila kita sibuk bekerja mengumpulkan harta untuk mendapatkan kebahagiaan, maka belum pasti bahwa kesibukan kita tersebut. Pada prinsipnya semua urusan dunia ini tidak pasti, dan mengejar-ngejar urusan duniawi itu berarti mengejar ketidakpastian.
Karena mengejar urusan-urusan yang tidak pasti tersebut, banyak orang yang mengabaikan urusan yang telah pasti. Satu kepastian yang akan terjadi pada setiap orang adalah MATI. Senang tidak senang, disiapkan atau tidak, kematian akan mendatangi setiap orang. Itulah kepastian yang telah jelas. Meski demikian, sayang sekali kita banyak mengabaikan kepastian ini. Ketika mengejar tujuan-tujuan duniawi, kita begitu khusyu - bersungguh-sungguh untuk mencapainya. Tetapi ketika melakukan hal-hal yang terkait dengan persiapan kematian kita tidak sungguh-sungguh. Jika demikian, betul-betul kita ibarat orang mengejar burung gelatik yang sedang terbang dan melepaskan burung merpati yang ada di tangan. Bisa jadi, karena ketidakpastiannya, tujuan dunia tidak dapat dan tidak juga memiliki persiapan untuk mati.
Seorang teman yang pengusaha menanyakan, bukankah keberanian mengambil resiko itu modal dasar seorang wirausahawan? Saya tidak menyangkal hal tersebut. Akan tetapi saya justru balik bertanya, apakah seorang karyawan sudah memiliki kepastian akan mencapai tujuan-tujuan hidupnya? Adakah kepastian ia akan terus bekerja di tempatnya bekerja hingga waktu yang diinginkannya? Bagaimana kalau perusahaanya bangkrut? atau jika ada hal-hal khusus yang memaksa perusahaan melepaskannya? Bahkan bagi seorang pegawai negeripun tidak ada kepastian bahwa ia akan terus menjadi PNS seperti yang diinginkannya. Banyak juga kasus PNS yang diberhentikan, malah dengan tidak hormat. Sebaliknya, para pengusaha justru memiliki tingkat kepastian akan keberhasilan yang lebih tinggi untuk menggapai tujuan-tujuan duniawinya. Coba dicek, lebih banyak mana pengusaha kaya atau karyawan kaya? (jika kaya merupakan tujuan duniawi) Kalo karyawan khan tingkat kepastian "tidak lebih kaya dari pengusaha" yang lebih tinggi. :-P
Teman yang agaknya mau putus asa mempertanyakan: Jadi, kalau begitu lebih baik tiap hari di masjid saja, tidak usah kemana-mana? Wah, itu namanya bunuh diri! Kalau di masjid terus, siapa yang harus kasih makan - apa lagi kalau semua orang melakukan hal yang sama! Biarlah dunia berjalan sebagaimana seharusnya. Yang penting adalah bahwa semua yang kita lakukan tujuannya adalah mempersiapkan diri menghadapi situasi setelah kematian. Persiapan itu bukan berarti harus selalu di masjid. Bekerja keras dan sungguh-sungguh bahkan sangat perlu. Hanya niatnya bukan mau menumpuk-numpuk harta dan berbangga-bangga, tetapi sebagai bentuk ibadah. Itu adalah amal sholeh, jadi memang harus khusyu dan sungguh-sungguh melakukannya. Akan rugilah kita kalau niatan bekerja bukan sebagai ibadah, karena hasilnya belum pasti. Akan tetapi kalau niatnya adalah ibadah, maka itu telah menjadi persiapan kita menghadapi suatu kepastian: MATI. Jadi benar jualah apa yang diungkapkan dalam surat Al Asr, semua orang pasti rugi kecuali orang yang beriman, beramal soleh, dan saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran.



